TARAKAN - Persoalan Saksi Yehuwa di Kota Tarakan hingga kini belum mampu sepenuhnya terselesaikan. Informasi terbaru, Saksi Yehuwa mulai menggunakan modus baru penyebaran ajaran kepercayaannya melalui link yang tersebar di media sosial.
Menanggapi ini, Kepala Seksi (Kasi) Bimbingan Masyarakat (Bimas) Kristen Kementerian Agama (Kemenag) Tarakan Oto Simon Tanduk mengatakan, telah terdapat kesepakatan dari Saksi Yehuwa, Forkopimda dan Unsur Umat Beragama.
“Waktu itu bersama Forum Komunikasi Umat Beragama (FKUB) Tarakan. Sudah ada surat kesepakatan juga dengan Saksi Yehuwa,” katanya, Minggu (11/6).
Penyebaran paham Yehuwa melalui modus baru, berupa link di media sosial hingga kini juga belum ia terima. Terkecuali, untuk permasalahan sebelumnya yakni penyebaran ajaran melalui door to door, pihaknya telah memanggil Saksi Yehuwa. “Kalau link saya belum lihat bagaimana bentuknya. Saya belum pernah dapat juga informasinya,” ucapnya.
Sebenarnya penyampaian dengan Saksi Yehuwa lebih spesifik terhadap masyarakat Tarakan, yang telah sepenuhnya memiliki kepercayaan masing-masing. Sehingga dirasa tidak perlu untuk menyebarkan ajaran-ajaran Yehuwa kepada masyarakat Tarakan.
“Tak perlu lagi ke rumah-rumah. Mereka juga sudah sepakat. Bahkan saat kami temui, mereka juga tidak tahu kalau ada yang datang ke rumah-rumah itu,” tambah Oto.
Sementara itu, Ketua RT di Kelurahan Sebengkok yang enggan disebutkan namanya mengakui, aktivitas keagamaan mereka saat ini lebih tertutup. Artinya aktivitas keagamaan sudah tak lagi dilakukan di Sekretariat Saksi Yehuwa.
“Sekarang agak tertutup. Ibadahnya sudah tidak di sini (rumah Saksi Yehuwa) lagi. Karena ada tempat lain lagi ibadahnya,” ungkapnya.
Namun, tak dimungkiri terkadang ada juga beberapa penganut Saksi Yehuwa yang meminta izin kepadanya selaku ketua lingkungan untuk melakukan ibadah. Saat izin pun, terdapat sekitar 3-10 jemaat Yehuwa yang turut serta.
Jemaat Saksi Yehuwa yang dibawa untuk izin dengan ketua lingkungan pun tak selalu sama. Terdapat beberapa orang yang berganti-ganti yang mayoritas merupakan Warga Negara Asing (WNA).
“Itu orang asing semua. Bukan dari Tarakan. Ya orang barat lah. Tapi ada juga yang dari Jakarta dan Sulawesi. Baru-baru inilah kalau tidak salah awal tahun,” bebernya.
Adapun aktivitas ibadah yang dijalankan pun seperti ibadah umat kristiani pada umumnya. Kendati tak melihat secara langsung, ia mengungkapkan aktivitas yang biasa dilakukan seperti makan-makan dan menyanyikan lagu-lagi rohani.
“Ya pokoknya nyanyi lah. Kalau 2 atau 3 tahun yang lalu seminggu itu 3 kali ibadah. Nah kalau sekarang karena warga sekitar kurang setuju, jadi mereka pindah tempat ibadah. Pernah juga digeruduk warga. Ya awalnya memang seperti ibadah biasa tapi karena suaranya lumayan nyaring pakai elektone, jadi menggema ke masyarakat sekitar,” tutur Ketua RT yang tinggal tepat di sebelah Sekretariat Saksi Yehuwa.
Saksi Yehuwa yang bermukim di wilayahnya lebih tertutup dan jarang bersosialisasi. Para penganut Yehuwa pun yang bermukim di wilayahnya diketahui sudah ada sejak tahun 1900-an.
Kehidupan yang dijalani Saksi Yehuwa pun sama seperti masyarakat pada umumnya yang juga bekerja dan sekolah. “Ya say Hello ada aja. Cuma kalau kayak ada kegiatan kerja bakti itu agak susah. Paling rumah mereka sendiri saja yang dibersihkan,” tuturnya. (sas/uno)
Editor : uki-Berau Post