Pro Kalimantan Balikpapan Samarinda Bola Daerah Kriminal Bisnis Nasional Lifestyle

Produk Dilirik Cokelat Monnier

uki-Berau Post • 2024-01-02 19:21:06
RAMBAH MANCANEGARA: Koperasi Amanah Doga Sejahtera Ahmad Nasrodin memperlihatkan hasil kakao yang dilirik salah satu merek cokelat yakni Cokelat Monnier.
RAMBAH MANCANEGARA: Koperasi Amanah Doga Sejahtera Ahmad Nasrodin memperlihatkan hasil kakao yang dilirik salah satu merek cokelat yakni Cokelat Monnier.

Sekitar 23 km dari pusat kota Jogjakarta, puluhan petani kakao memumpuk harapan untuk mengembangkan hasil bumi mereka: kakao. Tepatnya di Dusun Doga, Kelurahan Nglanggeran, Kapanewon Patuk, Kabupaten Gunungkidul, berdiri Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) Omah Kakao.

 

SEPERTI namanya, Omah Kakao bergerak dalam bidang produk pangan dan jasa wisata edukasi sektor kakao. “Di sini perkebunan yang paling baiknya ya kakao, (atau) cokelat. Akhirnya kami bentuk sebuah komunitas Kelompok Tani Kakao Margodadi I,” ujar Ketua Koperasi Amanah Doga Sejahtera Ahmad Nasrodin ditemui di Balai Desa Dusun Doga, Rabu (20/12).

Ahmad menceritakan, awalnya, Desa Nglanggeran adalah kawasan tertinggal. Namun, usai Gunungkidul ditetapkan menjadi kawasan pariwisata gunung purba, wilayah itu menjadi salah satu rute yang dilewati para wisatawan.

Kondisi itu membuat Ahmad dan warga setempat memutar otak. Mereka tak ingin melewatkan kesempatan baik itu. Hingga pada 2017 silam, Omah Kakao Doga dibentuk.

Inisiasi itu bukannya tanpa sebab. Ketersediaan lahan kebun kakao di Dusun Doga mencapai sekitar 10,2 ha atau 5.326 pohon kakao yang dikelola sekitar 96 warga. “Dengan luasan pohon kakao segitu, kita tidak mungkin sejahtera. Kecuali, kita punya cara. Dulu kita belum punya ilmunya,” imbuhnya.

Dulunya, lanjut Ahmad, setelah kakao dipetik, lantas hanya dikeringkan lalu dijual. Proses itu tentu tak memunculkan nilai tambah. Alhasil, harga jual kakao sangat rendah.

“Kami juga sudah diajarkan cara fermentasi kakao yang baik oleh Dinas Pertanian setempat, namun itu belum juga bisa meningkatkan nilai ekonomi. Akhirnya kami bertemu Lembaga Pembiayaan Ekspor Indonesia (LPEI) dan kami didatangkan ahli kakao dari Jembrana, Bali. Lalu kami diajarkan cara fermentasi kakao, diberi ilmu meningkatkan sumber daya manusia (SDM) kami juga,” tuturnya.

Pada 19 Mei 2023, Desa Nglanggeran diresmikan LPEI sebagai Desa Devisa Kakao Gunung Kidul. Hal itu sekaligus sebagai awal dilaksanakan program pelatihan dan pendampinggan.

Desa Devisa Gunung Kidul merupakan kolaborasi Kemenkeu Satu (Kementerian Keuangan, PT SMF dan LPEI) bersama Koperasi Amanah Doga Sejahtera untuk mendorong pertumbuhan ekonomi desa dan kesejahteraan masyarakat desa.

LPEI melalui program Desa Devisa Gunung Kidul memberikan pelatihan manajemen ekspor, pendampingan akses pasar, peningkatan kapasitas produksi, dan pendampingan terkait sertifikasi organik kepada 60 petani kakao dan Koperasi Amanah Doga Sejahtera.

Harapannya, kegiatan ini akan membantu Desa Devisa Kakao Gunung Kidul untuk memperluas akses pasar ekspor, meningkatkan kapasitas produksi, serta memenuhi persyaratan sertifikasi yang dibutuhkan oleh pasar.

“Singkat cerita, produk kakao kami sekarang harganya lumayan. Jadi yang fermentasi dihargai Rp 60.000 per kg, sebelumnya paling mahal hanya Rp 20.000 per kg. Selain dijual langsung dalam bentuk produk jadi, kami juga olah produk kakaonya, supaya nilai jualnya lebih baik lagi,” lanjut Ahmad.

Mereka lantas mengolah kakao itu menjadi bubuk kakao yang menghasilkan lemak. Sehingga, kakao yang telah diolah itu menghasilkan dua hasil jadi, yakni bubuk kakao (cokelat) dan lemak cokelat. Dari situ, nilai jual pun makin meningkat.

Ahmad menceritakan, 1 kg bubuk kakao dihargai Rp 250.000. Sementara, dari 5 kg kakao biasanya menghasilkan sekitar 700 gram lemak kakao. Hasil lemak itu dihargai Rp 175.000 per kg.

“Nah, lemak kakao itu biasanya dijadikan cokelat batangan oleh orang luar negeri. Jadi yang dipakai adalah lemak cokelat, bukan lemak nabati. Orang luar negeri itu bilangnya kalau lemaknya menggunakan lemak nabati, itu kategorinya makanan, bukan cokelat,” tutur dia.

Perlahan tapi pasti, saat ini produk Omah Kakao telah dilirik oleh salah satu merek cokelat yakni Cokelat Monnier. Ahmad menceritakan, pemilik Cokelat Monnier adalah seorang WNA asal Swiss bernama Vincent. Mereka lantas menggandeng produk Omah Kakao Doga sebagai mitra buyer.

Setiap pekan, minimal 10 kg dipasok kepada Cokelat Monnier. Harga yang dikenakan mencapai Rp 60.000 per kg.

“Mr Vincent itu mengambil 1 kg pun dia tetap mau ambil, yang penting ada terus. Karena dia sudah cocok oleh hasil fermentasi kami. Kami inginnya bisa ekspor, namun produksi kami memang belum mencukupi. Tapi kami cukup senang sudah ada buyer mancanegara yang menjadi mitra kami,” tuturnya.

Meski begitu, Ahmad mengaku memiliki beberapa kendala dalam perjalanan mengembangkan produk Omah Kakao. Salah satunya yakni kehadiran tengkulak yang kerap kali memberikan iming-iming harga sedikit lebih tinggi kepada para petani. Namun setelah itu, menjual kembali produk itu dengan harga beberapa kali lipat. Kondisi itu membuat harga pasar menjadi berantakan.

“Melalui koperasi ini, anggota petani penanam kakao kami bertambah juga. Walaupun lahan tanam kami belum luas, tapi kami tetap berusaha dengan baik,” jelas Ahmad. (jpg/uno)

Editor : uki-Berau Post
#feature