TARAKAN-Peristiwa jatuhnya pesawat perintis milik maskapai Smart Air di Binuang, Kecamatan Krayan Tengah, Kabupaten Nunukan, Kaltara, Jumat (8/3) lalu membawa kabar duka. Deni Sobali selaku teknisi ditemukan tim penyelamat dalam keadaan tewas. Senin (11/3), jenazah Deni Sobali dibawa ke kampung halamannya melalui Pangandaran, Jawa Barat (Jabar).
General Marketing Smart Cakrawala Aviation, Sonia Erlin Nasution menegaskan, sebelum almarhum diterbangkan ke Pangandaran, pihaknya terlebih dahulu menyelesaikan proses administrasi di rumah sakit dan kepolisian. Ia juga memastikan pihaknya akan bertanggung jawab kepada pihak keluarga almarhum. "Selama perjalanan dari Tarakan, perwakilan kami akan mendampingi jenazah Deni Sobali sampai ke rumah duka di Pangandaran. Kami mengucapkan turut berdukacita yang sebesar-besarnya saat berkomunikasi dengan keluarga almarhum," ujar Sonia di Lanud Anang Busra Tarakan, Senin (11/3).
Pihaknya juga mengapresiasi peran berbagai institusi yang turut membantu pencarian pesawat Smart Air yang jatuh. Sementara itu, dia berharap pilot yang selamat diberikan kesembuhan hingga kembali bertugas. "Kami berterima kasih kepada seluruh institusi yang bahu-membahu melakukan pencarian hingga ditemukannya korban. Sekali lagi kami sangat berduka atas musibah ini dan kami berharap korban yang selamat segera pulih," terangnya. Terpisah, Kepala Bidang Pelayanan Medik RSUD dr H Jusuf SK, dr Ronald SpAn-TI, FCTA, mengatakan, perawatan intensif masih terus dilakukan oleh tim dokter khusus yang menangani Capt M Yusuf.
Hingga kemarin, didapati kondisi Capt M Yusuf terus membaik. Bahkan korban yang sempat dirawat di ruang ICU, sudah dipindahkan ke ruang perawatan. "Pasien kami terima 17.45 Wita dan langsung dibawa ke ruang Prioritas 1 (P1). Saat itu tim dokter langsung melakukan serangkaian pemeriksaan seperti laboratorium, rontgen, dan CT scan bagian kepala korban," ungkapnya. Lanjut dia, saat korban pertama kali tiba di rumah sakit, pihaknya mendapati M Yusuf dalam kondisi stabil dan masih bisa diajak komunikasi.
Dari hasil rontgen yang dilakukan, didapati tidak ada patah tulang yang terjadi. Hanya ada pendarahan kecil di bagian otak pasien. "Tapi kondisi seperti itu tidak perlu dilakukan tindakan operasi," imbuhnya. Tim dokter hanya mendapati luka terbuka di bagian kepala pasien, sehingga perlu dilakukan operasi agar luka tersebut tidak mengalami infeksi. Operasi yang sudah dilakukan berhasil dan korban langsung dibawa ke ruangan ICU untuk dilakukan observasi. "Semua stabil dan sudah dipindahkan ke ruang perawatan. Pasien juga tidak pakai alat bantu napas seperti ventilator," ungkapnya.
Pada bagian lain, operasi SAR gabungan akhirnya ditutup kemarin. Penutupan posko SAR dilakukan usai tim SAR berhasil mendapatkan alat perekam data penerbangan atau yang biasa disebut dengan black box dan emergency locator transmitter (ELT) milik Smart Air PK-SNE. Setelah itu, secara simbolis Kepala Kantor Pencarian dan Pertolongan (SAR) Tarakan, Syahril menyerahkan black box kepada pihak perwakilan Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT). Nantinya black box akan diinvestigasi KNKT guna mencari tahu penyebab terjadinya kecelakaan.
Komandan Lanud Anang Busra Kolonel Bambang Sudewo mengatakan, setelah ditariknya semua tim SAR gabungan yang sempat bermalam di lokasi kejadian, disusul alat perekam data penerbangan sudah diserahkan ke KNKT, maka pihaknya menyatakan operasi SAR sudah selesai. “Alat ini sudah kita serahkan ke KNKT. Kami mengapresiasi dan berterima kasih kepada seluruh tim SAR gabungan yang terlibat dalam operasi SAR," ungkapnya. Kepala Kantor SAR Tarakan Syahril menambahkan, dengan selesainya operasi SAR tersebut, ia menyampaikan terima kasih kepada seluruh unsur yang terlibat, termasuk TNI dan Polri di Tarakan dan Malinau beserta Bandara Juwata Tarakan.
"Kami berhasil mengevakuasi kotak hitam dan alat perekam dari data pesawat. Tanpa kerja sama yang baik, operasi ini tidak akan berjalan maksimal. Kami nyatakan untuk hari ini operasi SAR gabungan telah selesai dilaksanakan," singkatnya. Henry Poerborianto selaku investigator keselamatan penerbangan KNKT menyatakan, nantinya melalui investigasi yang akan dilakukan KNKT bersifat kepentingan keselamatan. Pihaknya tidak mencari siapa yang salah atau siapa yang harus bertanggung jawab atas kecelakaan pesawat tersebut. "Sebenarnya untuk mencari tahu kecelakaan ini penyebabnya apa, kemudian dicari tindak lanjutnya supaya tidak terjadi kecelakaan lagi di kemudian hari," katanya.
Diakui Henry, dua alat yang berhasil ditemukan tim SAR perannya sangat penting untuk mengetahui data penerbangan Smart Air sebelum jatuh. "Sering dengar kotak hitam, kurang lebih fungsinya sama. Kalau ELT ini, yang dari kemarin sinyal emergency yang didapat. Yang dipergunakan untuk kepentingan investigasi yaitu API box," ucapnya. API box yang berwarna oranye tersebut berfungsi sebagai alat perekam data suara, percakapan pilot, data penerbangan, kecepatan, arah, dan ketinggian. Namun, data lebih lanjut dari alat tersebut akan diperdalam dan akan dilakukan proses pengunduhan.
"Untuk lamanya itu terganggu kejelasan suara dan bagaimana kejadian seperti apa dan data mana yang akan diperdalam lagi," bebernya Diakuinya, setelah dilakukan investigasi, nantinya hasil investigasi sesegera mungkin dipublikasikan. Biasanya publikasi hasil investigasi tersebut akan dikeluarkan dalam kurun waktu 12 bulan. Kemudian dalam proses investigasi, pilot Smart Air PK-SNE yang selamat juga akan dimintai keterangan. Hanya, pihaknya belum memastikan kapan akan memeriksa pilot tersebut lantaran masih dalam perawatan intensif di rumah sakit.
"Untuk sekarang ini, data yang kami peroleh yaitu foto di lokasi kecelakaan, komponen yang dipergunakan untuk investigasi sudah kami dapatkan. Kemudian kami sudah kumpulkan juga data di petugas lalu lintas terkait, termasuk operator yang bersangkutan sudah kami kumpulkan datanya," jelasnya. (zar/lim/kpg/riz/k16)
Editor : Indra Zakaria