Pro Kalimantan Balikpapan Samarinda Bola Daerah Kriminal Bisnis Nasional Lifestyle

Kasus HIV di Malinau Tembus 269 Kasus, Kelompok LSL Mendominasi Pasien Aktif

Redaksi Prokal • 2026-02-09 09:00:00
ilustrasi hiv aids
ilustrasi hiv aids

MALINAU – Dinas Kesehatan, Pengendalian Penduduk, dan Keluarga Berencana (DKPPKB) Kabupaten Malinau merilis data terbaru mengenai sebaran kasus HIV di wilayah tersebut. Hingga awal Februari 2026, tercatat akumulasi kasus mencapai 269 orang, di mana 160 pasien di antaranya masih aktif menjalani pengobatan rutin di berbagai fasilitas kesehatan.

Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit DKPPKB Malinau, Jonlayri, mengungkapkan bahwa sebagian dari total akumulasi pasien tersebut telah meninggal dunia. Dari data pasien aktif saat ini, kelompok laki-laki suka laki-laki (LSL) mencatatkan angka tertinggi.

“Jika diakumulasi dari tahun-tahun sebelumnya, totalnya ada 269 kasus. Saat ini yang masih aktif berobat sebanyak 160 orang. Dari jumlah tersebut, kelompok LSL mendominasi dengan 43 orang,” ujar Jonlayri, Kamis (5/2/2026).

Selain kelompok LSL, sebaran pasien aktif lainnya mencakup empat orang waria, delapan ibu hamil, serta 21 orang yang merupakan pasangan dari pengidap HIV. Jonlayri menyebutkan bahwa penularan pada pasangan umumnya terjadi dari suami ke istri. Selain itu, ditemukan pula tiga kasus koinfeksi TB-HIV, di mana pasien awalnya terdiagnosis tuberkulosis sebelum hasil tes darah menunjukkan positif HIV.

Menariknya, tidak semua pasien yang terdata merupakan warga asli Malinau. Beberapa pasien diketahui berasal dari daerah sekitar yang terdeteksi saat menjalani pemeriksaan di RSUD Malinau. Namun, Jonlayri memastikan bahwa layanan kesehatan kini semakin mudah dijangkau.

“Data pasien sudah terintegrasi di seluruh puskesmas. Pasien dapat mengambil obat di puskesmas mana pun yang menyediakan layanan, dan seluruh pengobatan HIV diberikan secara gratis oleh pemerintah,” tambahnya.

DKPPKB Malinau terus mengingatkan masyarakat mengenai bahaya hubungan seksual berisiko, penggunaan jarum suntik tidak steril, hingga pentingnya deteksi dini bagi ibu hamil untuk mencegah penularan ke bayi. Masyarakat diimbau untuk tidak ragu melakukan pemeriksaan kesehatan demi memutus rantai penularan di Bumi Intimung. (*)

Editor : Indra Zakaria