TARAKAN – Fenomena cuaca panas ekstrem yang melanda Kota Tarakan berujung pada rentetan insiden kebakaran lahan yang mengkhawatirkan. Dalam kurun waktu yang hampir bersamaan, si jago merah melahap area vegetasi kering di beberapa titik strategis, mulai dari kawasan Binalatung di Pantai Amal hingga wilayah Juata Laut. Kejadian ini tercatat sebagai kebakaran lahan dengan skala terbesar yang melanda Bumi Paguntaka sejak awal tahun 2026.
Amukan api paling hebat terkonsentrasi di Binalatung, Kelurahan Pantai Amal, Tarakan Timur. Kombinasi suhu udara yang menyengat serta hembusan angin kencang membuat api menjalar dengan sangat cepat, menghanguskan hampir enam hektare lahan kering milik warga. Kepala Pelaksana BPBD Kota Tarakan, Yonsep, menggambarkan kondisi vegetasi berupa semak dan rumput yang mengering di lapangan layaknya bahan bakar yang siap tersulut kapan saja, sehingga penyebarannya sangat sulit dikendalikan.
Situasi darurat ini memaksa personel BPBD untuk membagi kekuatan secara ekstra. Selain di pesisir timur, titik api juga terdeteksi muncul secara serentak di kawasan Juata Laut, tepatnya di sekitar Perumahan PNS dan Bukit Tengkorak. Upaya pemadaman di lapangan menghadapi tantangan berat akibat minimnya sumber air di lokasi kejadian, yang membuat petugas harus berpacu dengan waktu guna mencegah lidah api merembet ke permukiman padat penduduk.
Meskipun tidak ada korban jiwa dalam rangkaian insiden ini, kerugian material mulai teridentifikasi. Sebuah pondok milik warga rata dengan tanah, sementara kerusakan pada jaringan kabel distribusi listrik sempat memicu pemadaman aliran listrik ke rumah-rumah warga di sekitarnya. Di tengah perjuangan memadamkan api, seorang personel BPBD dilaporkan mengalami luka akibat terkena paku saat bertugas, namun kini telah mendapatkan penanganan medis dan dalam kondisi stabil.
Saat ini, pihak kepolisian bersama BPBD masih mendalami penyebab pasti kebakaran, termasuk menyelidiki kemungkinan adanya unsur kelalaian manusia dalam pembukaan lahan. Masyarakat diimbau untuk meningkatkan kewaspadaan penuh, mengingat prakiraan cuaca panas masih akan bertahan dalam beberapa hari ke depan. Koordinasi dengan pihak terkait sebelum melakukan aktivitas di lahan terbuka menjadi kunci utama untuk mencegah terulangnya bencana serupa di tengah kondisi alam yang sedang tidak bersahabat. (*)
Editor : Indra Zakaria