TANA TIDUNG – Sebuah penemuan spektakuler di dunia konservasi internasional baru saja terungkap dari jantung Kalimantan Utara. Tim peneliti gabungan dari Universitas Hasanuddin (Unhas), James Cook University Australia, dan Universitas Borneo Tarakan berhasil menemukan kembali populasi Hiu Gangga (Glyphis gangeticus). Spesies ini merupakan salah satu jenis hiu air tawar paling langka di dunia yang selama berpuluh-puluh tahun dianggap telah hilang dari radar perairan global.
Lokasi penemuan mengejutkan ini berada di aliran Sungai Sesayap, Kabupaten Tana Tidung, Kalimantan Utara. Penemuan ini langsung memicu perhatian dunia karena menjadi bukti sahih bahwa sistem perairan sungai di Indonesia masih menyimpan kekayaan biodiversitas purba yang sangat tinggi.
Sebelumnya, komunitas sains internasional mencatat bahwa kemunculan Hiu Gangga di habitat historisnya—yang membentang dari Pakistan hingga Myanmar—sangatlah minim, yakni kurang dari sepuluh kali sejak tahun 2000. Oleh karena itu, International Union for Conservation of Nature (IUCN) memasukkan predator air tawar ini ke dalam status Critically Endangered (kritis terancam punah) dengan estimasi populasi dewasa kurang dari 250 ekor saja di seluruh bumi.
Namun, kejutan besar terjadi saat tim kolaborasi internasional melakukan riset lapangan di Sungai Sesayap. Dalam kurun waktu kurang dari tiga minggu, para peneliti justru berhasil mengamati dan mendata secara langsung 43 spesimen Hiu Gangga yang sehat di sungai tersebut. Angka fantastis ini otomatis menjadikan Sungai Sesayap sebagai habitat tersisa paling krusial dan aman di Asia Tenggara bagi kelangsungan hidup predator langka ini.
Atas temuan yang luar biasa ini, peneliti dari James Cook University, Michael Grant, mengungkapkan bahwa kawasan perairan Sungai Sesayap telah resmi ditetapkan sebagai Important Shark and Ray Area (ISRA) global. Pengakuan internasional ini menegaskan status Sungai Sesayap bukan sekadar tempat melintas, melainkan berfungsi sebagai nursery ground atau daerah asuhan alami tempat hiu-hiu sungai tersebut berkembang biak dan membesarkan anak-anaknya. Kondisi vegetasi dan ekosistem Sungai Sesayap yang masih relatif terjaga disinyalir menjadi alasan utama mengapa spesies sensitif ini mampu bertahan dari kepunahan massal.
Kendati membawa angin segar, perwakilan tim peneliti Unhas, Rohani Ambo Rappe, mengingatkan bahwa ancaman di hulu dan hilir Sungai Sesayap masih tergolong tinggi. Aktivitas penangkapan ikan yang menggunakan alat tangkap tidak ramah lingkungan, potensi pencemaran air, degradasi habitat, hingga perubahan tata guna lahan di sekitar bantaran sungai sewaktu-waktu bisa mengusir hiu ini untuk selamanya.
Untuk itu, tim peneliti kini tengah mendorong lahirnya konsorsium riset khusus serta pembentukan model konservasi kolaboratif yang adil dengan melibatkan masyarakat lokal Kalimantan Utara. Pendekatan ini penting dilakukan agar perlindungan terhadap Sungai Sesayap tidak berjalan sepihak, melainkan mampu mengedukasi warga sekitar untuk ikut bangga dan menjaga wilayah sungai mereka yang kini telah menjadi benteng pertahanan terakhir hiu paling langka di dunia. (*)
Editor : Indra Zakaria