SAMPIT – Keluhan masyarakat Kota Sampit, Kabupaten Kotawaringin Timur, terhadap aktivitas truk Over Dimension Over Loading (ODOL) kembali memuncak. Meski jalur alternatif atau jalan lingkar kini dinilai sudah fungsional, iring-iringan kendaraan bertonase raksasa ini nyatanya masih bebas melenggang di ruas jalan protokol yang sejatinya terlarang bagi angkutan berat.
Pemandangan truk bermuatan berlebih yang melintas di tengah kota bukan lagi hal langka, bahkan pada jam-jam sibuk pagi dan sore hari. Jalur dari Jalan Tjilik Riwut menuju Pelabuhan Bagendang kini seolah menjadi rute "favorit" baru, melewati kawasan perkantoran pemerintah hingga markas kepolisian Mapolres Kotim. Kondisi ini memicu tanda tanya besar dan kekecewaan di kalangan warga. Pasalnya, alasan klasik yang sering digunakan para sopir truk sebelumnya—yakni kerusakan parah di jalan lingkar—kini dianggap sudah tidak berlaku lagi.
“Dulu katanya karena jalan lingkar rusak, makanya lewat kota. Tapi sekarang jalannya sudah bagus, kenapa masih masuk dalam kota dengan muatan berat seperti ini?” ujar Unjung, salah seorang warga Sampit dengan nada kesal, Selasa (31/3/2026).
Keluhan senada juga datang dari para pengguna jalan lain yang merasa nyawanya terancam setiap kali berpapasan dengan "monster" jalanan tersebut. Dewi, seorang warga yang rutin beraktivitas menggunakan sepeda motor, mengaku kian waswas dengan minimnya penertiban terhadap truk-truk ODOL ini.
“Jujur saya khawatir kalau beraktivitas di jalan umum sekarang. Truk-truk besar itu sangat berisiko bagi kami pengguna roda dua. Jalannya sempit, muatannya tinggi, kalau ada apa-apa kami yang jadi korban,” keluh Dewi. Selain faktor keselamatan, kehadiran truk bermuatan berat di jalur perkotaan dikhawatirkan akan mempercepat kerusakan infrastruktur jalan kota yang memang tidak dirancang untuk menahan beban puluhan ton. Warga mendesak pihak berwenang untuk bertindak tegas dan tidak melakukan pembiaran terhadap pelanggaran rute ini.
Sampai berita ini diturunkan, truk-truk besar tersebut masih terpantau bebas berseliweran, menciptakan pemandangan kontras di antara gedung perkantoran dan mobilitas warga yang kian terhimpit. Masyarakat Sampit kini hanya bisa berharap jalan lingkar benar-benar dioptimalkan sesuai fungsinya, agar ketenangan di jantung kota tidak lagi "tergilas" oleh roda-roda raksasa truk ODOL. (*)
Editor : Indra Zakaria