PANGKALAN BUN – Masyarakat di Kabupaten Kotawaringin Barat (Kobar) belakangan ini harus berjuang menghadapi cuaca ekstrem. Suhu udara yang terasa sangat menyengat, baik siang maupun malam hari, menjadi keluhan utama warga di wilayah Pangkalan Bun dan sekitarnya. Berdasarkan data dari Stasiun Meteorologi (Stamet) Iskandar Pangkalan Bun, suhu udara di wilayah ini tercatat sempat menembus angka 34 derajat Celcius.
Fenomena suhu panas yang mendominasi ini berdampak langsung pada kenyamanan warga di dalam rumah. Banyak masyarakat yang terpaksa menyalakan kipas angin hingga mesin pendingin ruangan (AC) selama 24 jam penuh demi menghalau hawa panas yang "sumuk" atau gerah luar biasa.
"Saya sampai harus menambah kipas angin menjadi dua, tetapi tetap belum bisa membuat suhu kamar menjadi sejuk. Hawanya benar-benar panas sekali," ungkap Tita, salah seorang warga Pangkalan Bun, Sabtu (25/4).
Menjelaskan kondisi tersebut, Prakirawan Stasiun Meteorologi (Stamet) Bandara Iskandar Pangkalan Bun, Maulidianto, mengungkapkan bahwa penyebab utama dari panas yang intens ini adalah minimnya tutupan awan pada siang hari. Hal ini mengakibatkan radiasi matahari langsung mencapai permukaan bumi tanpa penghalang, sehingga pemanasan terjadi lebih maksimal.
Kondisi gerah yang dirasakan pada malam hari pun memiliki penjelasan ilmiah. Maulidianto memaparkan bahwa energi panas yang diserap bumi pada siang hari akan dilepaskan kembali pada malam hari. Karena pemanasan di siang hari sangat intens, proses pelepasan panas tersebut membutuhkan waktu yang lebih lama, sehingga suhu udara tetap terasa tinggi meskipun matahari telah terbenam.
Masyarakat diimbau untuk menjaga hidrasi tubuh dengan banyak mengonsumsi air putih dan membatasi aktivitas langsung di bawah terik matahari pada jam-jam puncak panas guna menghindari risiko gangguan kesehatan akibat cuaca ekstrem ini. (*)
Editor : Indra Zakaria