Pro Kalimantan Balikpapan Samarinda Kaltim Bola Daerah Kriminal Nasional Lifestyle Bisnis Sport

Awas Terkecoh Hujan Sesaat, BMKG Ingatkan Kotawaringin Timur Resmi Masuk Kemarau Panjang

Redaksi Prokal • Kamis, 18 Juni 2026 | 13:11 WIB
Ilustrasi kemarau
Ilustrasi kemarau

SAMPIT — Masyarakat di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) diminta untuk tidak lengah dan terkecoh oleh guyuran hujan yang masih sesekali turun dalam beberapa hari terakhir. Meskipun cuaca di sejumlah wilayah, termasuk Kota Sampit, masih sering diselingi hujan dengan intensitas ringan hingga sedang, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menegaskan bahwa wilayah Kotim sebenarnya sudah resmi memasuki musim kemarau sejak awal Juni 2026.

Kepala BMKG Stasiun Meteorologi Haji Asan Sampit, Mulyono Leo Nardo, menjelaskan bahwa fenomena hujan yang masih terjadi saat ini merupakan bagian alami dari fase peralihan menuju musim kemarau yang lebih stabil. Oleh karena itu, masyarakat diimbau tidak salah mengartikan sisa-sisa hujan tersebut sebagai tanda kembalinya musim penghujan. Pada fase awal kemarau, hujan memang masih bisa terjadi, namun frekuensi dan intensitasnya dipastikan akan terus menurun.

Kondisi cuaca di Sampit belakangan ini memang terbilang fluktuatif. Pada siang hari, suhu udara terasa sangat menyengat dan gersang, namun menjelang sore atau malam hari, langit mendadak mendung dan menumpahkan hujan ringan. Berdasarkan analisis klimatologis BMKG, pasokan curah hujan di Kotim akan terus menyusut drastis dalam beberapa bulan ke depan. Bahkan, musim kemarau tahun ini diprediksi akan berlangsung lebih lama dari kondisi normal, dengan estimasi durasi mencapai 100 hingga 120 hari.

Ancaman Karhutla Mulai Intai Lahan Gambut

Periode kemarau yang panjang ini berpotensi memicu berbagai dampak serius yang harus diwaspadai sejak dini. Selain ancaman krisis air bersih, risiko kebakaran hutan dan lahan (karhutla) kini menjadi momok utama seiring mulai mengeringnya vegetasi serta kawasan lahan gambut di Kotim.

Sinyal bahaya karhutla bahkan sudah mulai nampak ke permukaan. Dalam satu hari yang sama, tepatnya pada Senin, 15 Juni 2026, dua peristiwa kebakaran lahan dilaporkan terjadi berurutan di Kecamatan Baamang. Titik kebakaran pertama melanda kawasan Jalan Ir Soekarno-Hatta (Lingkar Utara) pada sore hari, yang kemudian disusul oleh kebakaran kedua di Jalan Padat Karya, Baamang Tengah pada malam harinya. Beruntung, kesigapan petugas gabungan dalam melakukan pemadaman cepat berhasil melokalisir pergerakan api sehingga tidak meluas ke permukiman warga.

Selain ancaman kabut asap akibat karhutla, BMKG juga menyoroti potensi penurunan debit air sungai secara drastis, terutama di wilayah pesisir selatan Kotim. Jika penyusutan air sungai terus berlanjut tanpa pasokan hujan yang berarti, intrusi air laut dipastikan akan terjadi. Fenomena ini dapat menyebabkan air sungai berubah menjadi payau atau asin, sehingga tidak lagi layak digunakan untuk konsumsi dan memenuhi kebutuhan sehari-hari masyarakat.

Menyikapi berbagai potensi risiko tersebut, pemerintah daerah dan BMKG mengimbau keras agar warga mulai bijak dan menghemat penggunaan air bersih. Masyarakat juga diingatkan secara tegas untuk menjaga kewaspadaan lingkungan dan tidak sekali-kali mencoba membuka atau membersihkan lahan dengan cara membakar. Meskipun rintik hujan masih sesekali menyapa, status Kotim kini telah sepenuhnya berada dalam mode siaga kemarau panjang. (*)

Editor : Indra Zakaria
#sampit