Komisioner Kompolnas, Supardi Hamid, membeberkan bukti baru yang mereka temukan di lapangan setelah memeriksa lokasi kejadian secara mendalam. "Ada satu fakta yang menarik bahwa tesis para korban melarikan diri ke sungai dan kemudian mati tenggelam adalah tidak terbukti, justru terbantahkan dari fakta di sini," ujarnya. Ia menambahkan bahwa timnya menemukan ceceran darah yang berakhir di sungai, yang menunjukkan bahwa para korban dihabisi dan dibunuh sebelum mereka dibuang ke sungai.
Tragedi berdarah yang merenggut nyawa Ipda Anumerta Sumaryanto, Aiptu Anumerta Yudhie Perdana Putra, dan Briptu Anumerta Nopandri Ramadhana ini dikategorikan sebagai tindakan pembunuhan yang disengaja secara keji. Menanggapi perlawanan brutal dari sindikat barang haram ini, Komisioner Kompolnas lainnya, Choirul Anam, mendesak kepolisian untuk bertindak tegas dan tidak tinggal diam. "Kami minta supaya gugurnya tiga anggota kepolisian itu diusut tuntas siapa pun pelakunya," tegas Anam. Bagi Kompolnas, kasus ini bukan hanya soal hilangnya nyawa, melainkan sebuah bentuk perlawanan nyata dari jaringan pelaku peredaran gelap narkoba terhadap penegakan hukum.
Peristiwa mengenaskan ini diharapkan menjadi momentum besar bagi aparat kepolisian untuk semakin gencar mengencangkan pemberantasan narkoba di seluruh lini. Pengejaran terhadap para pelaku dituntut untuk dilakukan secara menyeluruh dan agresif dari tingkat bawah hingga ke puncak pimpinan sindikat. "Tidak boleh berhenti di pelaku lapangan, tapi harus naik sampai ke gembongnya, sampai bos narkobanya, rantai jaringan distribusi dan lain sebagainya," pungkas Anam. (*)
Editor : Indra Zakaria