Dilema BPBD Kotim Hadapi Puncak Kemarau: Antara Pemadaman Karhutla dan Distribusi Air Bersih

Redaksi Prokal • Dipublikasikan Senin, 27 Juli 2026 | 12:30 WIB
Karhutla di Kotim semakin luas.(BPBD)
Karhutla di Kotim semakin luas.(BPBD)

SAMPIT – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) kini dihadapkan pada tantangan ganda seiring memasuki puncak musim kemarau. BPBD harus memutar otak untuk membagi alokasi sumber daya air dan armada antara penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang kian marak serta pemenuhan kebutuhan air bersih bagi warga terdampak kekeringan.

Kepala Pelaksana BPBD Kotim, Multazam, mengungkapkan bahwa kedua krisis tersebut berpotensi memuncak di waktu yang bersamaan. Kondisi ini menuntut penataan strategi yang presisi agar penanganan bencana di lapangan tidak timpang.

"Kalau nanti kondisinya bersamaan, kami akan dihadapkan pada pilihan antara distribusi air bersih atau air untuk pemadaman. Mudah-mudahan karhutla tetap terkendali sehingga kekuatan kami bisa dibagi untuk penyaluran air bersih," ujar Multazam.

Dampak kekeringan sendiri mulai mengancam pemukiman warga. Laporan kelangkaan air bersih salah satunya datang dari Dukuh Desa Tanah Putih, Kecamatan Telawang. Setelah dilakukan verifikasi oleh tim BPBD, warga di wilayah tersebut terbukti mulai kesulitan mengakses air untuk kebutuhan harian.

Sebagai langkah antisipasi, BPBD mendorong desa-desa yang memiliki cadangan air memadai atau fasilitas sumur bor CSR—seperti sumur bor dalam di Desa Bagendang Tengah—dapat membantu menyokong kebutuhan desa sekitar yang mulai krisis.

Multazam juga menyoroti kerentanan masyarakat berpenghasilan rendah serta kelompok rentan seperti lansia, penyandang disabilitas, ibu hamil, menyusui, dan anak-anak yang paling terdampak ketika krisis air meluas. Pihaknya mengimbau agar penggunaan air isi ulang oleh masyarakat tetap memperhatikan standar kesehatan dan kriteria yang berlaku. (*)

Editor : Indra Zakaria
Sumber : prokal.co
air bersih sampit