PROKAL.CO- Bau asap membakar yang menyengat mulai tercium pekat merambah sejumlah kawasan di Kota Palangka Raya dalam beberapa hari terakhir. Fenomena ini menjadi penanda kuat memburuknya krisis lingkungan, yang mana kondisi di lapangan berbanding lurus dengan melonjaknya jumlah titik panas (hotspot) serta maraknya kejadian kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan Tengah sepanjang Juli 2026.
Laporan terbaru dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Kalimantan Tengah mencatat akumulasi titik panas yang terdeteksi sepanjang tahun ini telah menembus angka 3.863 titik. Dari total tersebut, sebanyak 1.848 hotspot muncul hanya dalam kurun waktu Juli 2026. Artinya, hampir separuh dari keseluruhan titik panas sepanjang tahun ini terkonsentrasi hanya dalam satu bulan terakhir.
Eskalasi krisis ini juga tecermin jelas dari lonjakan jumlah kejadian dan luasan lahan yang hangus dilalap api. Jika sepanjang periode Januari hingga Juni angka kejadian karhutla berada di kisaran belasan hingga seratusan kasus per bulan, grafik tersebut melonjak tajam pada Juli menjadi 393 kejadian. Dampaknya, jika pada Juni luas lahan yang terbakar tercatat sebesar 25,92 hektare, sepanjang Juli angka tersebut melesat drastis hingga mencapai 710,58 hektare.
Secara geografis, Kabupaten Kotawaringin Timur mencatatkan diri sebagai daerah dengan jumlah hotspot terbanyak di Kalteng, yakni mencapai 503 titik. Kendati demikian, untuk urusan frekuensi kejadian karhutla, Kota Palangka Raya justru berada di posisi puncak dengan 248 kejadian, disusul Kotawaringin Timur dengan 125 kejadian. Dari sisi luasan lahan yang terbakar di lapangan, Kabupaten Sukamara memimpin angka kerusakan terluas mencapai 256,35 hektare, disusul Kotawaringin Timur seluas 234,18 hektare dan Palangka Raya seluas 150,50 hektare.
Situasi di Palangka Raya sendiri kian mengkhawatirkan karena penanganan kebakaran di lahan gambut membutuhkan tenaga ekstra. Hingga akhir pekan ini, tim gabungan masih berjuang memadamkan api yang mengendap di bawah permukaan tanah, salah satunya di kawasan Jalan Ketimpun Permai Km 13 yang telah melahap sekitar 8,5 hektare lahan gambut, serta kawasan Jalan Hasanka, Kelurahan Kalampangan yang masih harus terus diisi air karena bara api tersembunyi di dalam tanah.
Tak hanya di ibu kota provinsi, titik perhatian utama pemadaman juga tertuju ke Desa Tumbang Nusa, Kecamatan Jabiren Raya, Kabupaten Pulang Pisau. Kebakaran di kawasan lahan gambut seluas 60 hektare tersebut telah memasuki hari ke-25 operasi pemadaman dan hingga kini masih terus mengeluarkan kepulan asap tebal. Berdasarkan hasil patroli udara Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), sebaran asap tebal terpantau masih mengepul di sejumlah wilayah vital lain seperti Sabangau, Jekan Raya, Tasik Payawan, Katingan Kuala, hingga Kota Besi.
Sumber : Kalteng Pos