Geger Olahan Telur Basi: Puluhan Siswa dan Guru SMPN 1 Kuala Pembuang Keracunan Usai Santap Menu MBG

Redaksi Prokal • Dipublikasikan Jumat, 31 Juli 2026 | 09:30 WIB
Ilustrasi keracunan MBG (AI)
Ilustrasi keracunan MBG (AI)

PROKAL.CO- Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di SMP Negeri 1 Kuala Pembuang, Kabupaten Seruyan, mendadak berubah menjadi kepanikan setelah puluhan siswa dan guru mengalami keracunan massal. Hingga pertengahan pekan ini, sebanyak 90 warga sekolah yang terdiri atas 75 siswa dan 15 guru melaporkan keluhan serupa berupa demam, pusing, diare, hingga muntah setelah mengonsumsi sajian makanan dari program tersebut.

Rentetan gejala buruk itu mulai dirasakan sehari usai makanan dibagikan pada Selasa lalu. Kepala SMPN 1 Kuala Pembuang, Mardiana, mengungkapkan kecurigaannya berawal saat banyak murid tak hadir akibat sakit secara bersamaan."Pada Rabu banyak orang tua mengabarkan di grup bahwa anak mereka tidak masuk sekolah karena sakit. Bersamaan dengan itu ada 6 guru yang juga mengalami keluhan serupa," ungkap Mardiana.

Mardiana yang hari itu sempat berhalangan melakukan uji cicip rutin karena mendampingi kegiatan Pramuka, baru sempat memeriksa makanan pada siang harinya usai para siswa selesai makan. Seketika ia mencium kejanggalan pada sajian olahan telur yang dihidangkan."Saya langsung bilang, 'Kenapa baunya seperti ini?' Setelah dicek, telurnya memang sudah berbau. Saya kemudian meminta dibuatkan berita acara dan memberikan penilaian kualitas rendah karena makanan itu tidak layak dikonsumsi.

Menu hari itu terdiri dari telur orek, oseng wortel dan kol, serta buah naga. Sayur dan buah rasanya normal. Yang bermasalah hanya telurnya karena baunya sudah tidak wajar," tegasnya.Menanggapi insiden darurat ini, Dinas Kesehatan Kabupaten Seruyan langsung menerjunkan tim dan mendirikan posko kesehatan darurat di lingkungan sekolah untuk memberikan pertolongan medis serta mengamankan sampel makanan dari dapur penyedia."Begitu menerima laporan, kami langsung turun ke sekolah untuk memastikan kondisi di lapangan.

Dari hasil pendataan sementara, ada sekitar 90 siswa yang mengalami keluhan," ujar Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat Dinkes Seruyan, Sarinah.Pihak dinas kesehatan menegaskan belum mengambil kesimpulan final sebelum uji laboratorium selesai dilakukan. "Kami belum bisa memastikan penyebabnya. Hari ini sampel makanan akan kami ambil dari dapur SPPG untuk diperiksa di laboratorium. Sesuai SOP, setiap makanan yang disajikan memang wajib disimpan sebagai sampel selama minimal $2 \times 24$ jam, dan alhamdulillah sampel tersebut masih tersedia," pungkas Sarinah sembari memastikan seluruh korban kini ditangani secara intensif. (*)

Editor : Indra Zakaria
Sumber : Kalteng Pos
Mbg kalteng