Pro Kalimantan Balikpapan Samarinda Kaltim Bola Daerah Kriminal Nasional Lifestyle Bisnis Sport

Kursi Panas Bankaltimtara dan Tak Ada Putra Daerah, Ini Alasan Rudy Mas'ud

Muhamad Yamin • Senin, 30 Maret 2026 - 23:20 WIB

Rudy Mas'ud
Rudy Mas'ud

SAMARINDA – Proses pergantian pucuk pimpinan Bankaltimtara kian memanas. Selain diwarnai isu percepatan jabatan, Gubernur Kalimantan Timur, Rudy Mas’ud, kini menyoroti minimnya representasi putra daerah yang mampu menembus kursi direksi dan komisaris bank pelat merah tersebut.

Menanggapi kritik mengenai dominasi figur luar daerah dalam bursa calon pimpinan, Rudy Mas’ud menegaskan bahwa proses pendaftaran telah dilakukan secara terbuka. Namun, hasil akhirnya menunjukkan minimnya kandidat lokal yang bertahan hingga tahap akhir.

"Itu yang masalah. Kenapa tidak ada putra daerah yang mendaftar? Kan sudah dibuka secara umum. Ke mana putra daerah kita ini?" ujar Rudy dengan nada tanya. Ia mengungkapkan bahwa sebenarnya ada putra daerah yang mencoba peruntungan, namun mereka kandas saat berhadapan dengan standar penilaian Panitia Seleksi (Pansel).

"Ada sih putra daerah. Tetapi dalam seleksi pansel itu gugur. Yang salah kalau kami tidak membuka pendaftaran itu," pungkasnya.

Prestasi Yamin vs. Urgensi Pergantian

Langkah Rudy mengusulkan percepatan pergantian Direktur Utama (Dirut) memicu polemik di ruang publik. Pasalnya, masa jabatan Dirut saat ini, Muhammad Yamin, sejatinya baru akan berakhir pada tahun 2028.

Publik menilai upaya pemangkasan jabatan selama dua tahun ini janggal, mengingat rapor kinerja Yamin yang cukup mentereng. Di bawah kepemimpinannya (2023–2025), Bankaltimtara meraih berbagai prestasi. Misalnya TOP BUMD Awards 2025 Bintang 5. Kemudian Peringkat kedua nasional kategori loyalitas nasabah terbaik. Dan Nir-masalah hukum dan manajerial selama menjabat.

Kekhawatiran publik semakin meruncing setelah dua nama calon kuat muncul ke permukaan pasca fit and proper test oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK), yakni Romy Wijayanto dan Amri Mauraga.

Nama Amri Mauraga, mantan Dirut Bank Sulselbar, menjadi sorotan tajam. Pasalnya, Amri memiliki catatan sejarah pernah dipanggil sebagai saksi oleh KPK pada tahun 2021 terkait kasus korupsi mantan Gubernur Sulsel, Nurdin Abdullah. Meskipun kapasitasnya kala itu adalah memberikan klarifikasi terkait aliran dana sumbangan masjid, hal ini tetap menjadi bahan pertimbangan serius bagi publik Kaltim-Kaltara terkait integritas calon pimpinan bank mereka.

Kini, keputusan akhir berada di tangan para pemegang saham setelah Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) di Balikpapan awal Maret lalu. Apakah Bankaltimtara akan dipimpin oleh wajah baru dengan bayang-bayang kontroversi, atau mempertahankan nakhoda lama yang sudah terbukti berprestasi? (*)

Editor : Indra Zakaria