MESKI sudah dikenal sejak 1200 sebelum masehi, lupus hingga kini masih menjadi penyakit yang misterius. Penyakit yang juga dikenal dengan nama Systemic Lupus Erytematosus (SLE) tersebut merupakan salah satu dari 80 jenis penyakit autoimun. Di mana sebagian dari penyakit autoimun hanya menyerang satu organ saja, dan sebagian lain menyerang banyak organ, atau bersifat sistemik.
Untuk diketahui, di dalam tubuh manusia memiliki suatu sistem imun. Berfungsi melindungi tubuh terhadap berbagai kuman, bakteri, virus yang akan menginfeksi tubuh. Selain berfungsi mencegah terjadinya infeksi, sistem imun juga dapat mencegah terjadi pertumbuhan sel-sel asing di dalam tubuh yang nantinya akan menyebabkan tumbuhnya sel-sel ganas. Namun beda halnya dengan penderita autoimun. Di mana justru sistem imun itu yang menyerang tubuh penderitanya.
“Autoimun menggambarkan suatu kondisi di mana sistem imun di dalam tubuh tidak mampu membedakan antara kuman dan benda asing dari luar tubuh dengan sel-sel atau jaringan tubuh sendiri, sehingga sistem imun menyerang sel-sel dan jaringan tubuh sendiri yang berujung pada terjadinya peradangan dan kerusakan organ-organ tubuh sendiri,” terang spesialis penyakit dalam-konsultan reumatologi dr Natsir Akil yang ditemui Kaltim Post di tempat praktiknya di Rumah Sakit (RS) Restu Ibu Balikpapan, Jumat (10/5).
Untuk kasus lupus dan penyakit autoimun lainnya, Natsir pun menjelaskan, sampai dengan saat ini dunia kedokteran di seluruh dunia belum bisa mengetahui penyebab pasti alasan munculnya penyakit lupus. Namun ada sejumlah faktor yang dicurigai memiliki peran. Mulai dari faktor genetik, faktor lingkungan yang kurang baik, paparan matahari, bahan kimia, infeksi hingga kegemukan.
“Lalu ada faktor hormonal. Ini juga menentukan. Karena itu mengapa lupus dan penyakit autoimun ini banyak diderita wanita. Namun yang perlu ditegaskan, munculnya penyakit ini bukan karena satu faktor saja. Melainkan gabungan faktor-faktor tersebut. Artinya meski dia ada genetik, namun karena tidak ada paparan dan infeksi maka bisa tidak terkena lupus,” ucap Natsir.
Alasan mengapa lupus cenderung banyak diderita perempuan, lantaran dalam perbandingannya, jika ada 10 odapus di dunia, 9 di antaranya wanita. Ini disebut Natsir berhubungan dengan faktor hormon estrogen. Yang berarti, lupus juga lebih banyak menyerang perempuan muda yang sedang mengalami masa reproduksi atau masa subur.
“Usia terbanyak antara 15-25 tahun. Meski ada yang lebih muda di bawah 10 tahun atau lebih tua di atas 45 tahun. Namun kebanyakan memang penderitanya berada di usia muda,” ulasnya.
Lupus akan dikatakan berat jika menyerang organ-organ vital seperti otak, ginjal dan darah, dan dikatakan ringan jika hanya menyerang kulit dan sendi. Oleh karena penampilan penyakitnya sangat beragam dan gejala-gejala dan tanda-tandanya berbeda antara satu penderita lupus (odapus) dengan penderita yang lain maka penyakit lupus ini juga dikenal dengan istilah penyakit seribu wajah (A disease with a thousand of faces).
Tidak ada dua odapus yang mempunyai gejala-gejala dan tanda-tanda penyakit yang sama. Selain gambaran klinik yang sangat beragam, lupus juga menyerupai banyak penyakit lain (The great imitator), baik penyakit yang dasarnya autoimun maupun penyakit yang non autoimun.
Lupus bisa menyerupai penyakit saraf, jiwa, darah, kulit, kanker, infeksi, dan lain-lain. Berkaitan dengan dua hal di atas, maka penentuan seseorang apakah sedang menderita lupus atau tidak, menjadi tantangan tersendiri bagi para dokter di seluruh dunia.
“Diperlukan beberapa pemeriksaan untuk menentukan diagnosis seseorang lupus atau tidak. Tidak ada pemeriksaan tunggal yang dapat menetapkan seseorang menderita lupus. Namun kini kita sudah punya banyak laboratorium yang bisa mendeteksi penyakit ini,” jelasnya.
Kadang-kadang perlu waktu beberapa lama untuk memastikan seseorang terkena lupus atau tidak. Pada beberapa kasus seseorang odapus harus berpindah-pindah ke beberapa dokter sebelum diagnosis lupusnya tegak.
Gejala-gejala dan tanda-tanda lupus dapat berupa, nyeri sendi, radang sendi, demam, sakit kepala, rambut rontok, sariawan, cepat capek, nafsu makan menurun, ruam menyerupai kupu-kupu di muka, dan bercak kemerahan di badan jika terpapar sinar matahari (fotosensitifiti).
“Jadi mereka (penderita lupus) benar-benar tidak boleh terpapar langsung sinar matahari. Jadi untuk menggantikan vitamin D bisa mengonsumsi tambahan vitamin dan makanan,” ujarnya.
Salah satu hal yang perlu diketahui oleh penderita lupus (odapus) adalah apa saja yang bisa mencetuskan atau memperberat gejala-gejala lupusnya. Faktor-faktor pencetus lupus antara lain, sinar ultraviolet dari matahari; sinar ultraviolet dari lampu pijar, obat-obatan sulfa (membuat penderita lupus lebih peka terhadap cahaya matahari) seperti trimethoprim (obat sulfamethoxazole, sulfisoxazole, sulfasalazine, diuretik pelancar kencing), dan obat-obatan tetrasiklin.
Lalu antibiotik seperti amoksisiklin dan ampisiklin, menderita infeksi, kedinginan, kelelahan, mengalami trauma atau kecelakaan, stres emosional seperti mengalami suatu perceraian, menderita penyakit tertentu, kematian di dalam keluarga, dan kesulitan kesulitan hidup lainnya.
Stres pada tubuh seperti mengalami pembedahan, trauma fisik, kehamilan, ataupun persalinan. “Hingga kini belum ditemukan obat yang bisa menyembuhkan. Yang ada hanya mengontrol,” ungkapnya.
Natsir yang sudah menangani ratusan orang pasien lupus mengungkapkan, dalam perkembangannya kesadaran masyarakat terhadap penyakit autoimun termasuk lupus sudah semakin tinggi. Ditambah dengan semakin banyaknya dokter penyakit dalam yang memiliki pengetahuan ditunjang laboratorium yang memadai, kini semakin banyak penderita yang bisa diungkap.
“Ibaratnya dulu seperti fenomena gunung es. Jadi sekarang lebih mudah mendeteksi seseorang terkena lupus dibandingkan sebelumnya. Itu mengapa secara tren penyakit ini penderitanya semakin banyak,” ujarnya.
Baginya, yang paling penting dalam pengobatan lupus adalah kemampuan dan kemauan odapus untuk bisa menjalani hari-harinya. Mampu mengontrol berbagai faktor pencetus gejala lupus. Apalagi dengan perkembangan obat-obatan dan edukasi yang luas, usia harapan hidup penderita lupus kini semakin meningkat.
“Penderita lupus untuk harapan hidupnya rata-rata bisa bertahan selama 10 tahun. Jika dulu hanya 50 persen yang bisa bertahan, maka berkat semakin majunya pengetahuan dan pengobatan kini meningkat 80-90 persen,” katanya. (rom)