Pro Kalimantan Balikpapan Samarinda Bola Daerah Kriminal Bisnis Nasional Lifestyle

Densus Selidiki Keterlibatan Abdurrahman, Ibunda Tak Pernah Melihat Atribut ISIS

miminradar-Radar Banjarmasin • 2020-06-04 12:32:59
SEDERHANA: Rumah Abdurrahman di Desa Baruh Jaya, Daha Selatan, HSS. Polisi masih menyelidiki keterlibatannya dengan ISIS.. | FOTO: SALAHUDIN/RADAR BANJARMASIN
SEDERHANA: Rumah Abdurrahman di Desa Baruh Jaya, Daha Selatan, HSS. Polisi masih menyelidiki keterlibatannya dengan ISIS.. | FOTO: SALAHUDIN/RADAR BANJARMASIN

BANJARBARU - Dugaan keterlibatan pelaku aksi teror di Mapolsek Daha Selatan, Kabupaten Hulu Sungai Selatan (HSS), dengan kelompok radikal ISIS (Islamic State of Iraq and Suriah) membuat Detasemen Khusus (Densus) 88 turun tangan melakukan penyelidikan.

Keterlibatan Densus 88 dalam mengungkap keterkaitan pelaku bernama Abdurrahman dengan kelompok teroris ISIS berdasarkan beberapa bukti yang tertinggal di lokasi kejadian.

Kapolda Kalsel Irjen Pol Dr Nico Afinta mengatakan karena itu kasus itu sedang ditangani Densus 88. "Karena sudah diketahui 'kan tersangkanya, kemudian untuk pengembangan berikutnya kasus spesifik (keterlibatan pelaku dengan ISIS)memang sudah ada Densus 88," ungkapnya saat berkunjung ke kantor Radar Banjarmasin, kemarin.

Tentang perkembangan penyelidikan yang dilakukan oleh Densus 88, dia menuturkan bahwa hal itu akan disampaikan langsung oleh satuan khusus penanggulangan terorisme tersebut. "Kalau dari beberapa barang bukti yang disita mengindikasikan seperti itu (ada keterlibatan dengan ISIS) tapi yang bisa mendalami nanti Densus 88," pungkasnya.

Sebelumnya Kepala Kesbangpol Kalsel Heriyansyah bersama Badan Intelijen Negara Daerah (Binda) juga ikut mengidentifikasi keterlibatan pelaku dengan ISIS. Dengan langsung meninjau ke lapangan. "Tapi sementara ini kami belum tahu motifnya. Apakah memang dari kelompok teroris atau hanya berlaku pribadi," katanya.

Sebab, dia menyampaikan, dari hasil pemetaan mereka, selama ini di Kalsel tidak ditemukan adanya jebolan ataupun simpatisan kelompok ISIS. "Bisa jadi dia berlaku pribadi (bukan kelompok). Sehingga, saat menyerang juga sendirian," ucapnya.

Pria yang akrab disapa Heri ini menjelaskan, kalau memang pelaku berlaku pribadi maka kemungkinan terpapar radikalisme dari internet. "Kalau sifatnya individu ini susah untuk diidentifikasi. Karena, pribadi dan tidak bisa dikembangkan. Serta, tidak bisa mengajak orang lain," jelasnya.

Dia mengungkapkan, dulu Kalsel juga pernah disinggahi kelompok ISIS. Hanya saja mereka memang dari luar dan hanya transit di Banjarmasin. Setelah itu pergi. "Nah, jadi sekarang ini tidak ada kelompok ataupun simpatisan ISIS di Kalsel," ungkapnya. (ris)

Sementara itu, Keluarga pelaku penyerangan markas kepolisian sektor Daha Selatan, Senin (1/6) tidak menduga Abdurrahman nekad melakukan perbuatan itu.

Asniah, ibu kandung Abdurrahman mengatakan anak pria satu-satunya dari empat bersaudara ini tidak pernah menunjukkan perilaku aneh."Saya tidak tahu dia melakukan itu,” ujarnya, Rabu (3/6) kemarin di Desa Baruh Jaya, Hulu Sungai Selatan.

Malam itu, ia tahunya Abdurrahman berencana mau membawa masuk sepeda motor. Namun, tidak begitu lama, Abdurrahman menghilang. Asniah yang bangun subuh sekitar pukul 04.00 Wita, tidak menemukan anaknya.

Pihak keluarga baru mengetahui Abdurrahman menyerang markas kepolisian sektor Daha Selatan yang juga mengakibatkan meninggal dunia Brigadir Leo Nardo Latupapua pada pagi harinya. “Baru tahu pagi sekitar pukul 09.00 Wita, itu pun dari media sosial,” cerita Asniah.

Asniah mengatakan semua barang bukti yang tertinggal dari penyerangan juga tidak pernah dilihat pihak keluarga.“Kami tidak tahu menahu semua barang yang ditemukan polisi," kata Asniah, seraya menyebut berbagai atribut diduga ISIS dan senjata tajam (sajam) tidak dibawa dari rumah saat Abdurrahman pergi.

Sehari-hari Abdurrahman, orangnya jarang keluar rumah kalau tidak ada keperluan. Saat di rumah, ia banyak menghabiskan waktu bersama keluarga. “Keluar paling kalau ke musala atau bekerja,” ucapnya.

Diakui Asniah, anaknya memang pernah belajar di salah satu pondok pesantren (Ponpes) di Kota Banjarbaru, masuk tahun 2017 dan keluar tahun 2019.

“Setelah keluar dari pesantren, anak saya pernah bekerja di Batulicin. Tapi tidak lama,” katanya. (ris/shn/ran/ema)

Editor : miminradar-Radar Banjarmasin
#Teror Kalsel