Pro Kalimantan Balikpapan Samarinda Bola Daerah Kriminal Bisnis Nasional Lifestyle

Musim Durian Kubar Lesu, Penikmat Harus Siap Rogoh Kocek Lebih Dalam

Redaksi Prokal • 2026-02-08 10:02:38
MELAK: Pedagang durian Melak di Samarinda. (RRI)
MELAK: Pedagang durian Melak di Samarinda. (RRI)

SENDAWAR– Nama "Durian Melak" memang sudah melegenda bagi para pencinta buah berduri di Kalimantan Timur. Namun, bagi masyarakat Kutai Barat (Kubar), sebutan itu sebenarnya lebih merujuk pada titik distribusi utama di Pelabuhan Melak, padahal buahnya sendiri berasal dari kampung-kampung subur seperti Intu Lingau, Sembuan, hingga Long Iram.

Memasuki awal Februari 2026, kemeriahan musim durian di Kubar mulai menunjukkan tanda-tanda berakhir. Tanda alam itu terlihat jelas dengan mulai bermunculannya buah lai dan nangka kalimantan di lapak-lapak pinggir jalan—dua jenis buah hutan yang secara tradisional menjadi pertanda bahwa panen durian segera berlalu.

Namun, musim kali ini terasa berbeda dan jauh dari kata melimpah. Sari, seorang warga Kampung Intu Lingau, mengungkapkan bahwa banyak pohon durian di wilayah kebun tradisional atau lembo milik warga justru tidak berbuah tahun ini. Fenomena gagal panen ini merata di beberapa wilayah, yang otomatis membuat pasokan ke pasar menurun drastis.

Kondisi ini berdampak langsung pada harga di tingkat konsumen. Di Barong Tongkok, lapak pedagang durian tak lagi sepadat biasanya. Harga durian lokal pun kini merangkak naik, dijual mulai dari Rp10 ribu hingga Rp100 ribu per buah tergantung ukuran. Padahal, saat panen raya tiba, durian ukuran kecil biasanya bisa dibawa pulang hanya dengan harga Rp5 ribu.

Agus, salah satu pedagang di Barong Tongkok, mengaku saat ini lebih banyak mengandalkan pasokan dari Kecamatan Long Iram karena stok dari daerah lain seperti Intu Lingau sudah menipis. Minimnya stok juga membuat para pengepul dari luar daerah enggan datang, sehingga pembeli saat ini didominasi oleh warga lokal saja.

Musim durian yang singkat dan "mahal" ini pun menjadi catatan tersendiri bagi warga Kubar, di mana fenomena alam membuat primadona bumi sendawar ini tidak membanjiri jalanan seperti tahun-tahun sebelumnya. (*)

Editor : Indra Zakaria