Pro Kalimantan Balikpapan Samarinda Kaltim Bola Daerah Kriminal Nasional Lifestyle Bisnis Sport

Alarm Kesehatan Mental Anak Muda, Psikolog Kukar Soroti Dampak Medsos dan Self-Diagnose

Elmo Satria Nugraha • Sabtu, 18 April 2026 - 06:30 WIB
Psikolog Klinis UPTD Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Kukar, Sabrina Hasyyati Maizan (Istimewa)
Psikolog Klinis UPTD Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Kukar, Sabrina Hasyyati Maizan (Istimewa)

PROKAL.CO, TENGGARONG — Di tengah derasnya arus media sosial, anak muda kian rentan terjebak dalam tekanan psikologis. Kebiasaan membandingkan diri hingga tren self-diagnose dinilai menjadi pemicu gangguan mental yang semakin mengkhawatirkan.

Psikolog Klinis UPTD Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Kukar, Sabrina Hasyyati Maizan, menegaskan kesehatan mental harus dipandang setara dengan kesehatan fisik. “Selama ini banyak yang menganggap kesehatan fisik lebih utama, padahal keduanya saling berhubungan,” ujarnya saat ditemui di Mall Pelayanan Perempuan dan Anak Tenggarong. Ia menjelaskan, kesehatan mental mencakup cara seseorang berpikir, merasakan, dan berperilaku. Jika tidak dikelola dengan baik, kondisi ini dapat memicu gangguan seperti kecemasan hingga depresi.

Menurut Sabrina, penggunaan media sosial secara intens turut memperbesar risiko tersebut. Fenomena seperti cyberbullying dan kebiasaan membandingkan diri menjadi faktor yang paling sering memicu penurunan kondisi psikologis. “Ketika seseorang terus membandingkan diri, apalagi dengan cara pandang yang negatif, itu bisa menurunkan konsep diri. Akibatnya individu bisa merasa tidak berharga dan berpotensi mengalami depresi atau kecemasan,” jelas Sabrina.

Sabrina menyoroti maraknya praktik self-diagnose di kalangan anak muda. Menurutnya, kebiasaan mendiagnosis diri sendiri melalui informasi di internet tanpa pendampingan profesional berisiko memperburuk kondisi mental.

“Ketika seseorang mencari gejala di internet, lalu langsung menyimpulkan dirinya mengalami gangguan berat. Tanpa penjelasan yang tepat, individu justru semakin terpuruk,” ujarnya.

Diagnosis yang tidak akurat bahkan dapat memicu kecemasan berlebihan hingga mendorong perilaku berbahaya seperti menyakiti diri sendiri. Karena itu, Sabrina menegaskan pentingnya penanganan oleh tenaga profesional agar individu mendapatkan pemahaman yang tepat terkait kondisinya.

“Jika ditangani oleh profesional, individu akan dibantu memahami kondisi dirinya dan mendapatkan cara penanganan yang tepat,” katanya. Ia juga mengimbau anak muda untuk tidak ragu mencari bantuan, baik kepada tenaga profesional maupun orang terdekat, serta meningkatkan kepedulian terhadap lingkungan sekitar.

Peningkatan kesadaran dapat dimulai dari pemahaman bahwa kesehatan mental dan fisik memiliki peran yang sama penting, sehingga perlu dijaga secara berkelanjutan. “Ketika kita peduli terhadap lingkungan, kita akan lebih peka terhadap kondisi diri sendiri dan orang lain,” tutupnya. (moe)

Editor : Indra Zakaria
#kutai kartanegara