Pro Kalimantan Balikpapan Samarinda Kaltim Bola Daerah Kriminal Nasional Lifestyle Bisnis Sport

Pertamax Rp16.650 per Liter, Ojol Tenggarong Terjepit di Tengah Pendapatan yang Tak Naik

Elmo Satria Nugraha • Kamis, 11 Juni 2026 | 20:45 WIB
Suasana pengisian BBM jenis Pertamax di SPBU Pesut Tenggarong (Elmo/Prokal.co)
Suasana pengisian BBM jenis Pertamax di SPBU Pesut Tenggarong (Elmo/Prokal.co)

 PROKAL.CO, TENGGARONG – Setiap liter bahan bakar kini memiliki arti lebih besar bagi pengemudi ojek online di Tenggarong. Saat harga Pertamax melonjak menjadi Rp16.650 per liter, beban yang bertambah bukan hanya biaya mengisi tangki, tetapi juga potensi berkurangnya penghasilan yang dibawa pulang untuk keluarga.

Bagi para pengemudi yang menggantungkan kebutuhan hidup dari kendaraan yang mereka kendarai setiap hari, kenaikan harga BBM nonsubsidi menjadi pukulan baru di tengah pendapatan yang tidak ikut mengalami penyesuaian. Kondisi ini membuat ruang keuntungan mereka semakin menyempit.

Salah seorang pengemudi ojol di Tenggarong, Jaini, mengaku kenaikan harga Pertamax cukup mengejutkan. Sebab, bahan bakar menjadi kebutuhan utama yang tidak bisa dihindari agar mereka tetap dapat bekerja melayani penumpang maupun pesanan harian.

“Cukup kaget karena tiba-tiba naik ke Rp16 ribuan per liter. Tentu ini menjadi beban tambahan bagi kami yang setiap hari bekerja di jalan,” ujarnya.

Kata Jaini, sebagian besar pengemudi selama ini mengandalkan Pertalite maupun Pertamax untuk menunjang aktivitas. Namun setelah harga Pertamax naik, pilihan yang tersedia semakin terbatas karena pertimbangan biaya operasional harian.

Banyak pengemudi akhirnya memilih Pertalite agar pengeluaran tidak membengkak. Persoalannya, antrean di SPBU sering kali memakan waktu yang tidak sedikit. Situasi tersebut membuat pengemudi dihadapkan pada dua pilihan yang sama-sama merugikan.

Jika memilih Pertamax, biaya operasional harian meningkat. Sebaliknya, jika menunggu Pertalite dalam antrean panjang, kesempatan memperoleh order bisa hilang karena waktu kerja berkurang.

Bagi pengemudi ojol, waktu memiliki nilai ekonomi yang sangat penting. Setiap menit yang dihabiskan di SPBU berpotensi mengurangi jumlah perjalanan yang bisa diselesaikan dalam sehari.

“Kenaikan ini jelas membebani teman-teman pengemudi. Sementara dari sisi pendapatan atau biaya aplikasi tidak ada perubahan yang bisa menutupi kenaikan biaya bahan bakar,” kata Jaini.

Ia menilai dampak kebijakan kenaikan BBM lebih banyak ditanggung langsung oleh pengemudi. Tarif perjalanan yang diterima konsumen tidak otomatis berubah, sementara potongan aplikasi dan biaya operasional tetap harus dibayar.

Akibatnya, setiap kenaikan harga bahan bakar secara langsung mengurangi margin pendapatan harian yang selama ini menjadi sumber nafkah utama para pengemudi.

Jaini berharap pemerintah dapat mengevaluasi kembali kebijakan kenaikan harga Pertamax atau menghadirkan langkah yang mampu mengurangi tekanan biaya operasional bagi pekerja sektor transportasi informal.

Selain itu, perusahaan aplikasi transportasi online juga diharapkan lebih peka terhadap kondisi mitra pengemudi, termasuk melalui penyesuaian tarif maupun bentuk dukungan lain yang dapat membantu menjaga keseimbangan pendapatan.

Meski ketersediaan BBM di Tenggarong hingga kini masih relatif aman, persoalan yang dihadapi pengemudi tidak hanya soal pasokan. Kenaikan harga dan antrean pengisian bahan bakar telah menjadi faktor yang ikut menentukan besar kecilnya penghasilan yang mereka peroleh setiap hari.

Di tengah ketergantungan masyarakat terhadap layanan transportasi online, kebijakan energi nasional tak hanya berdampak pada angka di papan harga SPBU. Dampaknya ikut dirasakan ribuan pekerja yang menggantungkan kebutuhan hidup pada kendaraan mereka, dan pada akhirnya berpengaruh terhadap daya tahan ekonomi keluarga yang bergantung pada sektor tersebut. (moe)

Editor : Indra Zakaria
#kutai kartanegara