PROKAL.CO, TENGGARONG – Persiapan Festival Erau Adat Kutai 2026 mulai memasuki tahap pematangan menjelang pelaksanaannya pada September mendatang. Pemerintah Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar) bersama Kesultanan Kutai Kartanegara Ing Martadipura memastikan seluruh rangkaian kegiatan tetap berjalan, dengan mengusung tema "Raja Menjamu Rakyatnya" yang telah ditetapkan langsung oleh Sultan Kutai.
Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kukar Heriansyah mengatakan koordinasi penyelenggaraan telah dilakukan melalui dua kali rapat persiapan. Dalam pelaksanaannya nanti, Disdikbud bertugas mengoordinasikan kepanitiaan secara seremonial, sementara seluruh prosesi adat yang bersifat sakral tetap menjadi tanggung jawab Kesultanan.
"Kami sudah dua kali melaksanakan rapat persiapan. Nantinya kepanitiaan secara seremonial dimotori oleh Dinas Pendidikan dan Kebudayaan, sedangkan rangkaian yang bersifat sakral menjadi tanggung jawab Kesultanan," ujarnya, Kamis (30/7/2026).
Ia menyebutkan peluncuran resmi Festival Erau 2026 direncanakan berlangsung pada awal Agustus mendatang. Bersamaan dengan itu, tema "Raja Menjamu Rakyatnya" akan diperkenalkan sebagai semangat pelaksanaan Erau tahun ini.
"Rencananya pada awal Agustus nanti akan dilakukan launching. Ayahanda Sultan juga sudah menetapkan tema Erau tahun ini, yaitu Raja Menjamu Rakyatnya," katanya.
Pelaksanaan Erau 2026 akan dipusatkan di tiga kawasan utama, yakni Stadion Rondong Demang beserta area parkirnya, kawasan Keraton dan Museum Mulawarman, serta Kedaton Kutai.
Menurut Heriansyah, pemusatan lokasi tersebut diharapkan memudahkan pengelolaan kegiatan sekaligus tetap mempertahankan pusat pelaksanaan pada kawasan yang memiliki nilai historis dan budaya bagi Kesultanan Kutai.
"Insya Allah kegiatan ini tetap kita laksanakan karena merupakan tradisi turun-temurun warisan nenek moyang yang harus terus dijaga sebagai identitas kita," tuturnya.
Ia menegaskan Erau merupakan warisan budaya yang tidak dapat dipisahkan dari sejarah Kutai Kartanegara. Sebagai kerajaan tertua di Indonesia, keberlangsungan tradisi tersebut dinilai penting untuk menjaga identitas budaya daerah.
"Sebagai kerajaan tertua di Indonesia, kalau tradisi ini tidak dilaksanakan, lama-kelamaan identitas tersebut bisa hilang," tegasnya.
Meski dihadapkan pada kebijakan efisiensi anggaran, pelaksanaan Erau dipastikan tetap berlangsung melalui kolaborasi antara pemerintah daerah, Kesultanan, dan berbagai pemangku kepentingan.
Untuk mendukung penyelenggaraan, Pemkab Kukar telah mengalokasikan hibah sekitar Rp15 miliar kepada Kesultanan Kutai Kartanegara Ing Martadipura. Dana tersebut tidak hanya digunakan untuk pelaksanaan Erau, tetapi juga operasional Kesultanan serta pemeliharaan Kedaton.
"Hibah tahun ini kepada Kesultanan bukan hanya untuk pelaksanaan Erau, tetapi juga mencakup operasional Kesultanan serta pemeliharaan Kedaton," jelas Heriansyah.
Ia menerangkan mekanisme penyaluran hibah tahun ini berbeda dibanding sebelumnya. Jika pada tahun-tahun lalu anggaran kegiatan Disdikbud dan hibah Kesultanan dipisahkan, kini seluruhnya disalurkan melalui skema hibah kepada Kesultanan sebagai bagian dari penyesuaian akibat efisiensi anggaran.
Di sisi lain, Erau 2026 juga memperoleh pengakuan sebagai bagian dari Karisma Event Nusantara (KEN), sehingga cakupan promosi dan penyelenggaraannya meningkat ke tingkat nasional.
"Tahun ini Erau telah masuk dalam Karisma Event Nusantara. Artinya, cakupannya sudah berskala nasional," katanya.
Disdikbud bersama Kesultanan juga berencana melakukan audiensi dengan Menteri Kebudayaan dan Menteri Pariwisata guna memperoleh dukungan pemerintah pusat terhadap penyelenggaraan Erau.
Meski terus berkembang sebagai agenda wisata nasional, Heriansyah memastikan seluruh prosesi adat yang menjadi pakem Kesultanan tetap dipertahankan.
"Yang bersifat sakral dan sudah menjadi pakem tetap tidak boleh diubah. Nilai-nilai itu harus terus kita pertahankan," tegasnya.
Selain menjadi atraksi budaya, Erau tahun ini juga diarahkan sebagai media pendidikan karakter bagi pelajar. Disdikbud akan mengundang sekolah-sekolah, khususnya jenjang SD dan SMP, untuk mengikuti berbagai rangkaian kegiatan sebagai bagian dari pembelajaran muatan lokal. Sementara peserta didik PAUD akan dilibatkan pada sejumlah agenda tertentu.
"Hal yang paling ingin kami dorong pada Erau tahun ini adalah edukasi budaya kepada anak-anak. Kami akan melibatkan sekolah-sekolah agar para siswa mengetahui adat dan budaya Kutai secara langsung," pungkasnya. (moe)
Editor : Indra ZakariaSumber : prokal.co