PROKAL.CO, TENGGARONG – Perkembangan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kutai Kartanegara mulai menunjukkan tren penurunan dalam beberapa hari terakhir. Meski kabut asap masih cukup tinggi, jumlah hotspot dan titik yang benar-benar berkembang menjadi kebakaran ikut berkurang.
Sekretaris BPBD Kukar Aspianur Sandi mengatakan, dalam dua hingga tiga hari terakhir pantauan hotspot tidak lagi mencapai 100 titik per hari. Dari jumlah tersebut, titik yang masuk kategori terbakar atau fire spot juga berada di bawah 10 kejadian.
“Dalam dua-tiga hari lumayan. Dari kemarin pantauan tidak sampai 100 per harinya. Itu kan hotspot, ya,” kata Aspianur.
Ia menjelaskan, tidak seluruh hotspot otomatis menjadi titik kebakaran. Dari pantauan yang ada, jumlah fire spot yang benar-benar terbakar relatif lebih rendah.
“Yang menjadi fire spot itu tidak sampai 10. Atau lebih dari yang misalnya medium sama high-nya, misalnya hari ini 30, yang terjadi fire spot atau yang menjadi titik terbakar itu tidak sampai 10 kejadian,” jelasnya.
Penurunan tersebut menjadi perkembangan positif dalam penanganan karhutla di Kukar. Namun, kondisi di lapangan belum sepenuhnya aman karena kabut asap masih cukup tinggi di sejumlah wilayah.
“Alhamdulillah menurun. Memang prioritas kita sekarang adalah penanganan kebakaran itu yang mendekati permukiman. Itu yang menjadi prioritas kita,” tegas Aspianur.
Dengan kondisi tersebut, BPBD mengarahkan sumber daya penanganan pada titik-titik yang memiliki risiko lebih besar terhadap masyarakat. Api di kawasan yang berdekatan dengan permukiman menjadi perhatian utama agar tidak berkembang dan meluas.
Di sisi lain, upaya mendukung turunnya potensi kebakaran juga dilakukan melalui Operasi Modifikasi Cuaca (OMC). Aspianur menyebut pelaksanaan OMC diperpanjang dari jadwal sebelumnya yang berakhir pada 19 September hingga 24 September.
“OMC itu diperpanjang. Sebenarnya kemarin berakhir tanggal 19, akhirnya ini kita diperpanjang sampai tanggal 24,” ungkapnya.
Namun, efektivitas OMC tetap bergantung pada keberadaan awan yang dapat dimanfaatkan untuk proses penyemaian. Aspianur mengatakan dalam dua hari terakhir potensi awan belum terlalu mendukung.
“Cuma potensi awan sekarang untuk dalam dua hari ini tidak ada. Besok mungkin baru ada OMC yang mudah-mudahan itu menjadi hujan,” ujarnya.
Pada pelaksanaan OMC sebelumnya selama empat hari, hujan justru terjadi di wilayah hulu Berau dan sebagian wilayah yang mendapatkan dampak hujan berada ke arah Pontianak.
“Kemarin OMC yang terjadi selama empat hari, malah terdapat ada di Berau wilayah hulu. Kebanyakan larinya ke Pontianak, dapat hujannya. OMC-nya dari Kaltim,” jelas Aspianur.
Sementara itu, BPBD memastikan belum ada laporan titik api baru yang menjadi perkembangan signifikan. Sejumlah lokasi tetap dipantau karena memiliki karakteristik lahan yang rawan terbakar.
“Ini bukan titik api baru, ini lokasi terbaru. Kalau titik terbaru, enggak ada,” katanya.
Pemantauan terutama dilakukan pada kawasan lahan gambut. Salah satunya berada di kawasan cagar alam Muara Kaman yang memiliki karakteristik gambut.
Selain itu, Muara Jawa juga menjadi perhatian karena terdapat jalur pipa minyak Pertamina yang melintasi kawasan tersebut.
“Banyaknya seputar lahan. Gambut-gambut. Nah, yang masih kita pantau ini kan yang cagar alam di Muara Kaman, kan itu gambut. Sama itu Muara Jawa, kan itu jalur pipa minyaknya Pertamina,” papar Aspianur.
Sementara penanganan di Muara Badak disebut telah dituntaskan. Meski demikian, beberapa titik kembali muncul di wilayah tersebut, termasuk Desa Badak Baru dan kawasan Tanjung Limau yang berbatasan dengan Marangkayu.
“Kalau kemarin kita sudah menuntaskan yang di Muara Badak. Alhamdulillah, meskipun sudah ada beberapa titik baru di Desa Badak Baru dan kemarin malam itu di Tanjung Limau, perbatasan dengan Marangkayu,” ujarnya.
Aspianur menyebut salah satu dugaan penyebab munculnya titik api berkaitan dengan aktivitas masyarakat yang tidak dilakukan secara hati-hati.
"Itu sebenarnya memang penyebabnya ya mungkin kegiatan-kegiatan masyarakat yang abai atau yang lalai,” pungkasnya. (moe)
Editor : Indra ZakariaSumber : prokal.co