PROKAL.CO, TENGGARONG – Perkembangan teknologi, menjamurnya kedai kopi, hingga bermunculannya tempat nongkrong baru menjadi bagian dari wajah modern Kota Tenggarong. Namun, di tengah perubahan tersebut, identitas budaya Kutai dan marwah Tenggarong sebagai Kota Raja diharapkan tetap terjaga.
Anggota DPRD Kutai Kartanegara (Kukar) Daerah Pemilihan (Dapil) I Tenggarong, Akbar Haka, menilai tantangan di usia ke-244 Kota Tenggarong adalah menyelaraskan perkembangan zaman dengan pelestarian adat dan budaya tanpa kehilangan jati diri generasi muda Kutai.
Menurutnya, modernitas tidak seharusnya membuat anak muda melupakan identitas budaya yang menjadi bagian dari sejarah panjang Tenggarong.
“Menyambut ulang tahun ke-244 ini, tantangannya cukup menarik. Era sekarang adalah bagaimana kita menyinkronkan atau mengharmonisasikan budaya dan adat istiadat tanpa menghilangkan jati diri kita sebagai anak muda Kutai, di tengah modernitas,” ujarnya.
Akbar menyebut, Tenggarong memiliki sejarah dan nilai budaya yang panjang. Karena itu, identitas sebagai Kota Raja perlu terus diperkuat agar tetap menjadi daya tarik bagi masyarakat maupun wisatawan yang berkunjung.
Dia berharap Tenggarong tidak hanya berkembang sebagai kawasan perkotaan, tetapi juga mampu mempertahankan karakter sebagai kota yang nyaman untuk wisata dan budaya.
“Pada usia ke-244 tahun ini, kita harus tetap menjadikan Tenggarong sebagai Kota Raja, kota yang nyaman untuk wisata dan budaya, serta memiliki sejarah dan nilai akademis dan budaya yang panjang. Harapannya, ketika orang datang ke Tenggarong, mereka akan tetap kagum bahwa ini memang Kota Raja,” katanya.
Selain persoalan identitas budaya, Akbar turut menyoroti perkembangan ruang publik dan pusat ekonomi baru di Tenggarong. Salah satunya Pasar Tangga Arung Square yang menurutnya perlu dievaluasi untuk mengetahui penyebab sepinya pengunjung dan langkah yang dapat dilakukan agar kembali ramai.
“Kita bisa mendorong wawasan dan melihat prospek Pasar Tangga Arung Square, apa penyebabnya sepi, dan apa yang bisa membuat Pasar Tangga Arung Square menjadi ramai. Itu juga menjadi salah satu hal yang menjadi fokus ke depan,” jelas politisi muda PDI Perjuangan ini.
Di sisi lain, bermunculannya tempat wisata kuliner baru dinilai membuka peluang untuk menggerakkan ekonomi masyarakat. Namun, pengelola perlu menghadirkan daya tarik yang mampu menjangkau pengunjung dari luar Tenggarong.
Akbar menilai, mengandalkan konsumen dari penduduk lokal saja berpotensi membatasi perkembangan usaha kuliner, mengingat jumlah penduduk Tenggarong tidak sebanyak kota-kota lain di Kalimantan Timur.
“Harapan kita, para pengelola tempat-tempat kuliner baru yang bermunculan di Tenggarong bisa membuat sesuatu yang berbeda. Harapannya, bukan hanya anak-anak muda Tenggarong yang nongkrong, tetapi juga bisa menarik pelanggan atau konsumen dari luar kota dan daerah sekitarnya,” pungkasnya. (adv/moe)
Editor : Indra ZakariaSumber : prokal.co