Dinkes Kukar Ingatkan Bahaya Diabetes dari Pola Makan Sehari-hari

Elmo Satria Nugraha • Dipublikasikan Sabtu, 3 Oktober 2026 | 20:19 WIB
Kepala Dinkes Kukar Ismi Mufiddah (Elmo/Prokal.co)
Kepala Dinkes Kukar Ismi Mufiddah (Elmo/Prokal.co)

PROKAL.CO, TENGGARONG – Segelas es teh, jus dengan tambahan susu, boba hingga makanan sehari-hari yang tinggi karbohidrat kerap dianggap sebagai konsumsi biasa. Namun, Dinas Kesehatan (Dinkes) Kutai Kartanegara (Kukar) mengingatkan, kebiasaan tersebut perlu dikendalikan karena asupan gula dan karbohidrat yang berlebihan dapat meningkatkan risiko diabetes melitus.

Kepala Dinkes Kukar Ismi Mufidah mengatakan, tantangan pencegahan diabetes saat ini tidak hanya berkaitan dengan faktor keturunan. Pola makan dan minum masyarakat yang cenderung tinggi gula, lemak dan minyak juga menjadi perhatian.

“Jangan berpikir gula itu hanya didapat pada gula. Makanan, nasi misalnya, itu ada kandungan gulanya. Karbohidratnya juga ada kandungan gulanya. Yang lain juga ada. Jadi dapat gula itu tidak sekadar dari gula,” kata Ismi.

Ia menyoroti sejumlah minuman yang mudah ditemui dalam kehidupan sehari-hari. Es teh, misalnya, umumnya disajikan dengan tambahan gula agar rasa manis tetap terasa setelah bercampur dengan es.

Begitu pula jus buah yang kerap dianggap sebagai minuman sehat. Menurut Ismi, kandungan tambahan seperti susu atau pemanis justru perlu diperhatikan.

“Boba, jus pun yang katanya jus sehat karena itu buah, tapi ditambah susu. Nah, itu yang membuat tidak sehat,” ujarnya.

Karena itu, ia menyarankan masyarakat memilih buah secara langsung ketika ingin mengonsumsi buah, dibandingkan minuman olahan dengan tambahan pemanis atau bahan lainnya. Konsumsi minuman manis juga tidak harus langsung dihentikan, tetapi jumlah gulanya perlu dikurangi secara bertahap.

“Kalau mau minum atau makan buah, mungkin itu yang lebih sehat, karena tambahannya tidak sehat,” jelasnya.

Peringatan tersebut menjadi penting karena diabetes tidak berhenti pada persoalan kadar gula dalam darah. Ismi menyebut diabetes melitus dapat memicu berbagai komplikasi apabila tidak dikendalikan, mulai dari penyakit jantung, gangguan ginjal, masalah pada mata hingga kecacatan.

“Kalau kamu kena diabetes melitus, maka bisa terjadi komplikasi ke jantung, komplikasi ke ginjal, komplikasi pada mata. Juga bisa menyebabkan kecacatan,” tegasnya.

Di Kukar sendiri, beban pelayanan terkait diabetes masih tinggi. Sepanjang Januari hingga September 2026, tercatat 25.520 kunjungan terkait diabetes di puskesmas. Angka tersebut belum termasuk pelayanan di rumah sakit.

Ismi juga mengingatkan, diabetes kini tidak lagi identik dengan kelompok lanjut usia. Kelompok usia 18–59 tahun justru menjadi kelompok dengan jumlah tertinggi, sementara kelompok usia 60 tahun ke atas menyumbang sekitar 35 persen. Bahkan, tercatat 69 kasus pada kelompok usia 5–18 tahun.

Kondisi itu membuat edukasi mengenai makanan dan minuman sehat perlu dilakukan sejak dini. Persoalannya, menurut Ismi, masyarakat justru lebih mudah menemukan makanan dan minuman dengan kandungan gula, lemak dan minyak yang tinggi dibandingkan pilihan makanan sehat.

“Makanan dan minuman yang sehat pasti harus sekarang. Itu susah kita temui yang jualan. Yang lebih mudah ditemukan yang tinggi gula, tinggi lemak, tinggi minyak,” ungkapnya.

Ia mencontohkan makanan kukusan yang dahulu relatif mudah ditemukan sebagai pilihan sarapan. Kini, makanan tersebut semakin jarang dijual karena dinilai kurang diminati.

“Dulu agak banyak. Pagi-pagi sarapan orang jualan kukusan. Kukusan itu agak banyak, tapi sekarang hilang lagi. Tidak ada lagi, mungkin karena tidak laku,” katanya.

Karena itu, Ismi meminta edukasi mengenai pola konsumsi sehat terus diperkuat. Bagi masyarakat yang masih mengonsumsi minuman manis, pengurangan gula dapat dilakukan secara bertahap, termasuk ketika memilih minuman di luar rumah.

“Sekali-sekali boleh, tapi tetap harus dikurangi gulanya,” pungkasnya. (adv/moe)

Editor : Indra Zakaria
Sumber : prokal.co
kutai kartanegara