TERHITUNG sudah empat tahun belakangan ini, Puji Sugiarti menghadirkan olahan primadonanya, yakni keripik tempe sagu. Pahit manis olahan ini menjadi tantangan tersendiri baginya. Di balik kerenyahan dan kenikmatan kudapan satu ini ada cerita panjang di belakangnya.
Awalnya, Puji tertarik dengan olahan ini saat dirinya mengikuti pelatihan yang diadakan Disperindagkop Kaltim untuk membuat keripik tempe sagu. “Pada 2020, saya sudah mulai mencoba olahan ini. Lumayan rumit ternyata,” jelasnya. Trial error puluhan kali sudah dialaminya hingga menyajikan olahan yang berkualitas.
Mulai dari pemilihan kedelai tempe mentah yang ada di pasaran. Berbulan-bulan dirinya terus mencoba tempe-tempe mentah dari hampir semua rumah produksi tempe yang ada di Samarinda. Menurutnya, walaupun sama-sama tempe tapi ketika diolah ada yang bisa menjadi masam, rasanya tidak enak ketika dimakan, atau gagal saat pengolahan.
“Saat ini, saya sudah punya satu langganan tetap untuk kedelai tempe mentahnya. Tempenya cocok untuk dijadikan keripik,” terangnya. Untuk menjaga kualitas dan rasa yang konsisten sampai saat ini dirinya sudah tidak pernah lagi mengambil tempe dari produsen lain.
Persoalan tempe ini juga lumayan rumit. “Pernah satu waktu rasa tempe atau kedelai di Samarinda seperti rasa tanah,” sambungnya. Jadi, untuk itu dia maupun produsennya menyetop produksi tempe, ketimbang tidak laku. Kemudian, lonjakan harga kedelai juga menjadi dilema baginya.
Setelah mendapat tempe mentah yang baik, Puji lalu mengolahnya menjadi keripik tempe di rumah. “Perbandingannya 1:1 untuk tempe dan tepung tapioka. Jangan tambahkan garam atau penyedap apapun di adonan tersebut,” paparnya. Setelah itu, adonan tempe dan tepung tadi dimasukkan ke dalam plastik bening ukuran sedang dan diikat dengan kencang. Jangan lupa untuk memberi banyak lubang di plastik tersebut agar fermentasi sempurna.
Tempe yang sudah diikat tersebut digantung di ruangan tertutup. Selama 24 jam. Fermentasi juga tergantung pada kondisi cuaca, jika cuaca mendung maka fermentasi akan berjalan lebih lama lagi. Sebaliknya jika panas maka akan lebih cepat.
Tanda bahwa fermentasi sudah baik jika bagian terluar tempe tersebut berwarna kekuningan. “Jika masih ada belang-belang putihnya berarti belum terlalu matang,” lanjut Puji. Setelah tuntas proses fermentasi tempe siap untuk diiris, mengirisnya harus tipis-tipis, Puji menyarankan untuk memakai pisau tajam atau cutter, agar hasil irisan sempurna.
Setelah diiris harus langsung dicelup ke air yang sudah dibumbui dengan bawang putih, ketumbar, garam, dan penyedap. Untuk masuk ke penggorengan tidak bisa bersamaan dan harus dimasukkan satu persatu. Memasaknya pun harus di api yang sedang. Agar matangnya sempurna dan merata.
Setalah dilihat matang merata keripik siap untuk diangkat dan ditiriskan. Selanjutnya, tahap pengemasan dan akhirnya siap untuk dinikmati atau diperjualbelikan. Olahan keripik tempe ini dinilai sehat karena tidak mengandung bahan pengawet. “Bisa tahan sampai enam bulan dalam keadaan tertutup rapat,” ungkap Puji.
Karena ingin terus berinovasi Puji juga menghadirkan pilihan rasa yang lain yakni pedas daun jeruk. Menurut Puji, variasi ini juga mendapat respons baik dari para penikmatnya. Keterampilannya membuat keripik tempe ini juga dimanfaatkan oleh kelurahan setempat dalam program Probebaya.
Puji menjadi narasumber untuk pelatihan tersebut. Dia berharap, ke depan ada peluang serupa agar dapat membagi ilmunya lebih luas lagi. “Karena sebaik-baiknya manusia adalah yang bermanfaat bagi orang lain,” pungkasnya. (ndu/k15)
NASYA RAHAYA
@nasyarahaya
Editor : Indra Zakaria