PROKAL.CO, BALIKPAPAN-Cucak ijo, salah satu jenis burung yang masuk kategori dilindungi. Tak bisa diperjualbelikan bebas.
Meski begitu, banyak pecinta burung yang memelihara jenis ini. Salah satunya Bely Siswoko, salah satu penghobi burung di Balikpapan, Kalimantan Timur (Kaltim).
“(Memelihara) cucak ijo harus ada izin dari BKSDA (Balai Konservasi Sumber Daya Alam) Kaltim. Yang saya pelihara sudah ada izinnya,” katanya.
MEMILIH BAKALAN
Menurut Bely, ada beberapa hal yang harus diperhatikan saat memilih cucak ijo bahan (burung bakalan).
Di antaranya, dari fisik pilih paruh yang panjang tebal dan berwarna hitam pekat, mata belok atau bulat lebar, postur tubuh ideal, serta gerak-gerik hariannya lincah atau aktif.
Untuk jenis cucak ijo dari daerah mana yang bakal gacor alias berpotensi juara, menurutnya, ini relatif, bergantung masing-masing penghobi lebih suka yang mana.
Sebab, tiap daerah memiliki kekhasan masing-masing. Tetapi ada beberapa daerah di Kaltim yang sudah terkenal cucak ijo-nya.
Salah satunya, cucak ijo asal Berau yang memiliki postur tubuh besar dan suara lantang. Juga, cucak ijo asal Sangkulirang yang memiliki postur tubuh lebih kecil, warna bulu hijau pekat, dengan pembawaan irama lagu panjang-panjang.
“Harga anakan cucak ijo atau kita sebut trotolan di area Kaltim biasa kisaran Rp 500 ribu sampai Rp 700 ribu. Untuk harga cucak ijo dewasa bakalan kisaran dari Rp 800 ribu sampai Rp 1,5 juta,” katanya.
CARA MEMELIHARA
Kata Bely, cara memelihara cucak ijo atau rawatan, pada umumnya yang terpenting adalah dari pemberian pakan, pemberian extra fooding, pola mandi, dan penjemuran.
Pemberian pakan tiap hari, pisang harus rutin diganti yang segar. Untuk pemberian extra fooding normalnya pagi jangkrik tiga ekor, sore jangkrik tiga ekor.
Untuk pola mandi, karena cucak ijo tipekal burung suka mandi, disarankan memandikan tiap hari, bebas mau pagi atau sore. Untuk pola penjemuran bisa dijemur tiap hari sekitar 15 menit.
Jangan lupa saat sore menjelang malam burung cucak ijo didengarkan/dimasterkan dengan suara-suara burung lain. Ini gunanya untuk melatih burung meniru suara-suara burung masteran agar nanti waktu lomba irama lagu burung jadi mantap.
“Saya tekankan, makanan cucak ijo adalah pisang gepok yang tidak terlalu masak, harus diganti tiap hari,” katanya.
Baca Juga: Punya Banyak Daya Tarik, Pantai di Penajam Ini Masih Ramai Dikunjungi Wisatawan
Untuk makanan cucak ijo hingga perawatan khusus tidak mahal, hanya pisang gepok ditambah dengan pemberian extra fooding berupa jangkrik.
Untuk jangkrik bisa dibeli di kios-kios burung, dengan harga mulai Rp 5 ribu hingga Rp 10 ribu. “Beli jangkrik Rp 5 ribu atau Rp 10 ribu itu sudah dapat banyak, bisa sampai semingguan,” katanya.
Kata dia, pola rawatan harus konsisten, yakni pola mandi, pola jemur, hingga pemberian extra fooding. Pantangan cucak ijo adalah jangan dilihatkan dengan burung sejenis atau dengan burung-burung lainya.
Usahakan ditaruh di tempat terpisah, bisa juga diberi sekat pembatas agar tidak melihat secara langsung burung lain. Hal ini berkaitan dengan berahi burung cucak ijo. Karena, untuk lomba, berahi dan emosi burung harus pas.
Untuk pemilihan kandang cucak ijo, gunakan kandang gepengan size nomor 2 atau kandang oval size 40x40.
Baca Juga: Pemindahan Lokasi CFD Perlu Kajian Mendalam, Ini Kata Asisten Pemerintahan, Setkab Paser
Bahan kandang dari kayu dan untuk jeruji kandang sekarang ada dari bahan karbon tentunya lebih kuat dan awet
KAPAN SIAP TANDING?
Bely menambahkan, umur ideal cucak ijo siap untuk terjun ke arena lomba adalah 18 bulan. Itu ditandai dengan istilah jamtrok (jambul ngentrok), yang merupakan ciri khas burung cucak ijo sudah siap untuk bertanding.
Pesannya, untuk penghobi burung, khususnya yang masih pemula, dan ingin ikut perlombaan, harus intens dan sabar dalam merawat burung.
Baca Juga: Culture Shock di Penajam Paser Utara, Kabupaten Penyangga Ibu Kota Nusantara
Perhatikan karater burung masing-masing. Lambat laun pasti bisa mengenali karakter burung yang dipelihara.
Di arena lomba burung tidak hanya membutuhkan rajin berkicau, harus imbang antara berahi dan emosi agar burung menampilkan gaya yang bagus, dan mampu mebawakan irama lagu yang bagus pula. (far)
Editor : Faroq Zamzami