Advertorial Balikpapan Bisnis Bola Daerah Bola Dunia Hiburan Hoax IKN Internasional Kesehatan Kriminal Lifestyle Nasional Pemerintahan Politik Pro Kalimantan Prokal Balikpapan Prokal Berau Prokal Kaltara Prokal Kaltim Prokal News Ramadan Samarinda Sport Teknologi

Berkaca dari Insiden Jatuhnya Juliana Marins di Gunung Rinjani, Bukti Fenomena Pendaki FOMO yang Berbahaya

Redaksi • 2025-07-01 08:36:12
Proses evakuasi yang dilakukan oleh tim SAR gabungan terhadap pendaki yang jatuh di kawasan Gunung Rinjani. (HO-Humas SAR Mataram)
Proses evakuasi yang dilakukan oleh tim SAR gabungan terhadap pendaki yang jatuh di kawasan Gunung Rinjani. (HO-Humas SAR Mataram)

Tewasnya wisatawan Brasil Juliana Marins di Gunung Rinjani Lombok, membuka tabir yang selama ini terjadi. Selain masih kurangnya mitigasi keselamatan pendakian, juga munculnya tren ikut-ikutan mendaki gunung, tanpa disertai dengan persiapan yang matang. 

Nah di media sosial muncul istilah Pendaki FOMO. Ya istilah ini kini ramai diperbincangkan, terutama di media sosial. Istilah ini merujuk pada individu yang melakukan pendakian gunung bukan karena minat atau kesiapan, tetapi semata-mata karena takut tertinggal tren. Tanpa persiapan memadai, mereka rentan mengalami insiden dan bahkan membahayakan pendaki lain.

FOMO sendiri adalah singkatan dari Fear Of Missing Out, yaitu rasa gelisah karena tidak terlibat dalam kegiatan tertentu. Istilah ini pertama kali diperkenalkan oleh Patrick J. McGinnis pada tahun 2004 dalam artikelnya yang berjudul “Social Theory at HBS: McGinnis ‘Two FOs”.

Menurut McGinnis, individu yang mengalami FOMO cenderung membandingkan hidupnya dengan unggahan orang lain di media sosial. Hal ini dapat mendorong seseorang untuk ikut-ikutan mendaki hanya demi eksistensi, bukan karena persiapan atau ketertarikan sejati terhadap alam bebas.

Fenomena ini mulai menuai sorotan karena peningkatan jumlah kasus kecelakaan pendakian. Masalah seperti dehidrasi, kekurangan makanan, hipotermia, hingga kematian, menjadi berita rutin.

Setelah ditelusuri lebih jauh, akar permasalahannya adalah minimnya perencanaan dan pemahaman sebelum mendaki. Mendaki lalu membagikan foto di media sosial memang terlihat menarik.  Namun, melansir dari lingkarsosial.org, ada tiga konsekuensi besar dari perilaku FOMO ini.

Pertama, risiko keselamatan meningkat drastis, baik bagi diri sendiri maupun kelompok. Kedua, potensi masuk daftar hitam oleh pengelola jalur pendakian. Ketiga, hilangnya kepercayaan dari teman mendaki, karena sikap ceroboh menyebabkan mereka enggan untuk mendaki bersama lagi.

Empat Langkah Mencegah Jadi Pendaki FOMO

Menghindari sikap FOMO tidaklah sulit. Ada empat langkah yang bisa dilakukan agar pendakian berjalan aman:

Siapkan perlengkapan standar seperti sepatu gunung, sleeping bag, jas hujan, tenda, dan jaket yang sesuai.

Kumpulkan informasi mendalam tentang gunung yang ingin didaki.

Rancang strategi mitigasi risiko sesuai data yang telah dikumpulkan.

Ajak rekan yang sudah berpengalaman atau sewa pemandu lokal untuk membimbing perjalanan.

Beberapa perlengkapan dasar yang wajib dibawa meliputi pakaian hangat, tas gunung (carrier), matras, alat masak, headlamp, kaos kaki, sarung tangan, dan penutup kepala. Selain itu, kesiapan fisik dan mental juga harus diperhatikan.

Pentingnya Pemandu Lokal

Kehadiran pemandu lokal dalam kegiatan mendaki tidak bisa dianggap remeh. Menurut elangkhatulistiwaindonesia.com, peran mereka mencakup banyak aspek penting:

1. Keselamatan dan Keamanan

Pemandu adalah profesional yang siap menghadapi berbagai situasi darurat. Mereka memahami kondisi gunung, cuaca, serta potensi bahaya, dan mampu memberikan pertolongan pertama saat dibutuhkan.

2. Pengetahuan Alam

Lebih dari sekadar penunjuk arah, pemandu memberikan wawasan tentang flora, fauna, hingga pentingnya pelestarian ekosistem setempat.

3. Navigasi dan Jalur Alternatif

Karena medan gunung kerap berubah, pemandu memiliki kemampuan untuk menentukan jalur aman dan mengenali tanda-tanda bahaya yang mungkin tak disadari pendaki pemula.

 

4. Manajemen Logistik

Pemandu juga membantu mengatur kebutuhan seperti makanan, air, dan waktu, agar pendakian berjalan sesuai rencana tanpa kekurangan pasokan.

5. Meningkatkan Kualitas Pendakian

Mereka sering berbagi cerita lokal atau legenda, membuat pendakian lebih menyenangkan dan bermakna.

6. Dukungan Mental

Selain fisik, aspek psikologis juga penting. Pemandu memberi dorongan moral dan menciptakan rasa aman, terutama di saat pendaki mulai kelelahan.

Kesimpulannya, pendakian bukan sekadar aktivitas musiman atau ajang eksistensi. Diperlukan persiapan serius, kesadaran akan risiko, dan sikap bertanggung jawab. Dengan begitu, setiap langkah di gunung bukan hanya aman, tetapi juga menjadi pengalaman yang membekas dan layak dikenang. (*)

 

Editor : Indra Zakaria