Advertorial Balikpapan Bisnis Bola Daerah Bola Dunia Hiburan Hoax IKN Internasional Kesehatan Kriminal Lifestyle Nasional Pemerintahan Politik Pro Kalimantan Prokal Balikpapan Prokal Berau Prokal Kaltara Prokal Kaltim Prokal News Ramadan Samarinda Sport Teknologi

Cinta Banyak Teori, Tapi Gak Ada Kepastian: Kenapa Asmara Gen Z Ribet Banget?

Redaksi • 2025-07-01 11:40:07
Ilustrasi Gen Z.
Ilustrasi Gen Z.

Oleh : Arsandha Agadistria Putri

Mahasiswa 

Di era serba digital, semua serba cepat. Makanan datang dalam 10 menit. Chat di balas detik itu juga. Tapi urusan cinta? Malahan makin ribet. Banyak Gen Z ngerasa hubungan romantic sekarang kaya teka-teki, harus ngerti love language, tahu attacmant style, peka sama redflag, dan jangan lupa siap mental kalau tiba-tiba di ghosting.

Cinta zaman sekarang tuh bukan gak ada, tapi terlalu banyak mikir. Bukan gak bisa jatuh cinta, tapi takut jatuh sendirian. Sedih, ya. Jadi, kenapa cinta di genearsi kitab isa seribet ini sih? Yuk kita bahas bareng-bareng.

1. Situationship: Dekat Tapi Gak Jelas

Hubungan tanpa label alais situationship ini udah kayak makanan sehari-hari Gen Z. dkeet iya, sayang mungkin, tapi pacarana? Gak juga. Jadi yaudah, jalan bareng, curhat bareng, tapi kalo di tanya “kita ini apa sih?” langsung nge-freeze.
Menurut artikel theamag.com yang di tulis oleh Kayla Friedman (Friedman, 2023), Gen Z sering banget terjebak di zona abu-abu ini. Mereka nyaman karena felksibel, tapi ujungnya malah sering baper sendirian.

2. Ghosting dan Overthingking: Kombinasi Maut

Ghosting udah bukan hal aneh. Bahkan menurut data dari Thrifting Center of Psychology 2023 (Psychology, 2023), 77% Gen Z pernah ghosting, dan 84% pernah di-ghosting. Artinya? Kita semua kayaknya pernah jadi pelaku dan korban.
Tapi ghosting itu gak cuman nyakitin, tapi bisa bikin anxiety dan ngerusak kepercayaan. Apalagi pas kita udah mikir jauh ke mana mana, “Dia gak bales 5 jam. Jangan-jangan dia udah chattingan sama yang lain?”, atau “kok dia read doang, aku salah ngomong ya?” Makin banyak akses komunikasi, makin banyak juga alasan buat overthingking.

3. Talking Stage: Dikenal Tapi Gak Diakuin

Kalian tahu ‘talking stage’ gak? Itu loh, fase ngobrol intens tapi gak jadian-jadian. Kayak udah deket, tapi ga pernah bener-bener diresmikan. Glamour menyebutkan talking stage ini jadi bentuk “penyiksaan” baru dalam dunia kencan Gen Z. karena statusnya gak jelas, tapi effort-nya udah maksimal.

“it’s like dating without actually daing, and without the clouser when it ends.” (Singer, 2022). Hasilnya apa? Banyak yang capek mental karena gak, tahu harus berharap atau berhenti.

4. Cinta vs Kesehatan Mental

Gen Z adalah generasi yang paling sadar akan pentingnya Kesehatan mental. Tapi sadar aja gak cukup kalau semuanya dipikirin sendirian. Menurut artikel yang di publis oleh Clear Behavior Health (Salman, 2024), 90% Gen Z pernah mengalami stress pisikologis dalam setahun terkahir.

Ditambah lagi cinta yang gak sehat (kayak toxic, gaslight, dan ghosting) bisa memperparah gangguan mental. Di satu sisi pengen punya pasangan, di sisi lain takut ke luka lama. Akhirnya? Banyak yang milih healing dulu, cinta nanti.

5. Dunia Nyata Bikin Malu, Dunia Maya Bikin Bohong

Sosial media jadi ladang cinta sekaligus ladang drama. Di satu sisi, kita bisa kenalan dan memperluas relasi sama siapa aja. Di sisi lain, semua orang jadi punya standar gak realistis, harus aestetic, harus upload bareng, harus matcing feed dan banyak lagi deh. Menurut situs vox.com (Locke, n.d.), banyak Gen Z justru makin sulit pacarana di dunia nyata karena takut kelihatan “cringe”, takut ditolak langsung, atau gak percaya diri buat interaksi langsung.
“you can ghost someone from a distance, but it’s harder when you have to see at school to the next day.”

6. Jadi, Emang Cinta Gen Z itu ribet?

Iya. Tapi bukan karena kita gak bisa cinta. Gen Z terlalu banyak luka, terlalu banyak mikir, dan terlalu takut buat salah lagi. Gen Z pengen cinta yang sehat, tapi bingung cara dapat nya gimana. Gen Z tahu mereka red flag, tapi kadang lupa gimana rasanya jatuh cinta tanpa mikirin rasa takut.

Cinta Gen Z itu bukan gak real, tapi terlalu kelewat sadar. Gen Z itu kalau jatuh cinta sambil menghitung resiko, sambil baca teori pisikologi, sambil mikir “wort it gak ya capek lagi?”. Mungkin udah saatnya para Gen Z ini buat berhenti terlalu keras mikir gimana caranya gak sakit, dan mulai focus ke gimana caranya buat jujur. Cinta itu memang proses. Kadang gagal, kadang indah. Tapi selama ada dua orang yang sama-sama mau belajar dan gak main-main, itu udah lebih dari cukup. (*)

Editor : Indra Zakaria