Advertorial Balikpapan Bisnis Bola Daerah Bola Dunia Hiburan Hoax IKN Internasional Kesehatan Kriminal Lifestyle Nasional Pemerintahan Politik Pro Kalimantan Prokal Balikpapan Prokal Berau Prokal Kaltara Prokal Kaltim Prokal News Ramadan Samarinda Sport Teknologi

Banyak Kejadian Konflik Mertua dan Menantu, Ini Sebab dan Cara Menanganinya...

Indra Zakaria • 2025-07-08 14:45:00
Ilustrasi konflik menantu dan mertua.
Ilustrasi konflik menantu dan mertua.

Konflik antara mertua dan menantu adalah fenomena yang umum terjadi dalam banyak budaya, termasuk di Indonesia. Ini adalah dinamika hubungan yang kompleks dan bisa menjadi sumber stres signifikan bagi pasangan dan seluruh keluarga.

Bagaimana konflik antara mertua dan menantu bisa terjadi? Konflik ini seringkali berakar pada perbedaan ekspektasi, gaya hidup, dan rasa memiliki. Beberapa penyebab utamanya meliputi:

Perbedaan Ekspektasi dan Gaya Hidup:

Ekspektasi Peran: Mertua mungkin memiliki ekspektasi tertentu tentang bagaimana menantu (terutama menantu perempuan) harus menjalankan peran dalam rumah tangga, mengurus anak, atau melayani pasangan. Sebaliknya, menantu mungkin memiliki pandangan yang berbeda tentang kemandirian atau kesetaraan.

Gaya Pengasuhan Anak: Perbedaan pandangan tentang cara membesarkan anak (pola makan, pendidikan, disiplin) seringkali menjadi sumber konflik besar, terutama jika mertua merasa lebih berpengalaman dan ingin campur tangan.

Kebiasaan dan Tradisi: Gaya hidup, kebiasaan sehari-hari, atau tradisi keluarga yang berbeda antara keluarga asal menantu dan keluarga mertua bisa menimbulkan gesekan.

Pengelolaan Keuangan: Perbedaan dalam cara mengelola uang, prioritas pengeluaran, atau intervensi mertua dalam keuangan pasangan.

Perasaan "Kehilangan" atau Perebutan Pengaruh:

Mertua (khususnya ibu mertua): Ibu mertua mungkin merasa kehilangan peran atau pengaruh atas anaknya setelah menikah. Ada kekhawatiran bahwa menantu akan mengambil alih "tempat" mereka atau mengubah anaknya. Ini sering terjadi pada ibu yang sangat dekat dengan anak laki-lakinya.

Menantu: Menantu, terutama yang baru menikah, mungkin merasa perlu menetapkan batas dan kemandirian dari keluarga pasangan, yang bisa diartikan oleh mertua sebagai penolakan atau tidak menghargai.

Campur Tangan yang Berlebihan (atau Dianggap Berlebihan):

Nasihat yang Tidak Diminta: Mertua sering memberikan nasihat atau kritik (yang mungkin dimaksudkan baik) tentang berbagai hal, dari urusan rumah tangga, pekerjaan, hingga hubungan pribadi pasangan. Menantu mungkin merasa ini sebagai campur tangan dan kurangnya kepercayaan.

Batasan yang Tidak Jelas: Kurangnya batasan yang jelas antara pasangan yang baru menikah dan keluarga inti masing-masing.

Komunikasi yang Buruk:

Asumsi dan Kesalahpahaman: Kurangnya komunikasi yang terbuka dan jujur sering menyebabkan asumsi dan kesalahpahaman.

Gaya Komunikasi Berbeda: Perbedaan dalam cara berkomunikasi (misalnya, satu pihak lebih langsung, pihak lain lebih suka menghindari konfrontasi) dapat memperburuk masalah.

Kurangnya Peran Pasangan (Anak Mertua): Pasangan (anak dari mertua, suami/istri dari menantu) seringkali menjadi kunci dalam konflik ini. Jika mereka tidak mampu menjembatani komunikasi atau menetapkan batasan yang sehat, konflik bisa memburuk.

Perbedaan Kepribadian:

Terkadang, konflik hanya disebabkan oleh ketidakcocokan kepribadian antara individu-individu yang terlibat.

Faktor Lingkungan:

Tinggal Bersama: Tinggal serumah dengan mertua (atau menantu) adalah faktor risiko terbesar terjadinya konflik karena meminimalkan privasi dan memperbesar potensi gesekan harian.

Jarak Fisik: Meskipun tidak tinggal bersama, jarak yang terlalu dekat atau terlalu jauh juga bisa memicu masalah (misalnya, terlalu dekat sehingga sering campur tangan, terlalu jauh sehingga kurang komunikasi).

Bagaimana Cara Mengatasi Konflik Antara Mertua dan Menantu?

Mengatasi konflik ini memerlukan kesabaran, empati, dan komunikasi yang efektif dari semua pihak, terutama dari pasangan yang berada di tengah.

Peran Kunci Pasangan (Anak dari Mertua): Anak dari mertua harusnya jadi jembatan komunikasi: Pasangan harus menjadi jembatan yang efektif antara orang tua dan pasangannya. Mereka perlu mendengarkan kedua belah pihak tanpa menghakimi.

Kemudian menetapkan batasan: Ini adalah hal terpenting. Pasangan harus secara jelas dan tegas (tapi sopan) menetapkan batasan yang sehat untuk kedua belah pihak. Misalnya, "Ma, kami menghargai nasihat Mama, tapi untuk keputusan ini kami ingin mencoba mengurusnya sendiri dulu." atau "Sayang, aku mengerti kamu butuh privasi, tapi orang tuaku bermaksud baik."

Membela Pasangan: Jika ada kritik atau campur tangan yang tidak pantas, pasangan harus membela menantu/mertuanya dengan cara yang bijaksana dan penuh hormat.

Prioritaskan Pasangan: Meskipun tetap berbakti pada orang tua, prioritas utama setelah menikah adalah keluarga inti (pasangan dan anak).

Komunikasi Terbuka dan Jujur (Tapi Sopan):

Gunakan Bahasa "Saya": Saat mengungkapkan perasaan tidak nyaman, fokuslah pada perasaan Anda sendiri, bukan menyalahkan. Contoh: "Saya merasa tidak nyaman jika..." daripada "Anda selalu membuat saya merasa...".

Pilih Waktu dan Tempat yang Tepat: Hindari diskusi saat emosi memuncak atau di depan umum.

Dengarkan dengan Aktif: Berikan kesempatan pada pihak lain untuk berbicara dan cobalah memahami perspektif mereka.

Dari pihak menantu, harus ada empati dan perspektif yang baik. Menantu harus pahami posisi mertua. Cobalah memahami bahwa mertua mungkin berasal dari generasi yang berbeda, memiliki tradisi yang berbeda, atau merasa cemas karena berbagai alasan. Nasihat mereka mungkin datang dari niat baik, meskipun caranya tidak tepat. Dipihak mertua, juga wajib pahami posisi menantu. Menantu mungkin merasa tertekan, ingin mandiri, atau merasa kebebasannya terenggut.

Menetapkan Batasan yang Jelas dan Konsisten:

Privasi: Tentukan batasan tentang privasi rumah tangga, keuangan, dan keputusan pribadi. 

Kunjungan: Atur frekuensi dan durasi kunjungan yang nyaman bagi semua pihak.

Pengasuhan Anak: Sepakati batasan mengenai campur tangan dalam pengasuhan anak. Komunikasikan kepada semua pihak bahwa keputusan akhir ada pada orang tua anak.

Jangan Libatkan Anak-Anak: Hindari melibatkan anak-anak dalam konflik orang dewasa.

Alih-alih fokus pada perbedaan, cobalah mencari kesamaan atau area di mana Anda bisa bekerja sama. Hargai niat baik dan upaya yang dilakukan oleh mertua atau menantu. Dan banyak habiskan waktu bersama (di Luar Konteks Masalah):

Kemudian melakukan kegiatan yang menyenangkan bersama (misalnya makan malam, jalan-jalan, atau hobi) dapat membantu membangun hubungan positif di luar momen-momen konflik.

Jika konflik terus-menerus terjadi, sangat merusak, dan tidak dapat diselesaikan secara internal, pertimbangkan untuk mencari bantuan dari konselor keluarga atau terapis. Pihak ketiga yang netral dapat membantu memfasilitasi komunikasi dan menemukan solusi.

Konflik mertua-menantu seringkali tidak bisa dihilangkan sepenuhnya, tetapi bisa dikelola agar tidak merusak hubungan dan kesejahteraan keluarga. Kunci utamanya adalah komunikasi yang efektif, penetapan batasan yang sehat, dan dukungan dari pasangan. (*)

Editor : Indra Zakaria