“Sebagai masyarakat Indonesia, saya rasa itu bukan hal mustahil di zaman sekarang,” ungkap Maudy (29), perempuan dari Kota Pontianak.
Ia menilai, hal ini terjadi karena berbagai faktor-faktor yang bisa mempengaruhi gaya hidup manusia dalam bertahan hidup. Meskipun tanpa cinta, khususnya pengaruh keluarga itulah yang membuat saat ini orang bisa melakukan pernikahan tanpa adanya cinta.
Ia menilai fenomena ini dari dua sudut pandang antara baik dan buruk. Baiknya kita tak perlu lama lagi untuk mengenal calon suami, karena bisa bersama membangun komunikasi yang diinginkan. Namun buruknya, saat kita tidak cinta akan ada dampak dalam hal trust issue.
“Dan konsep friendship marriage itu bisa mempengaruhi untuk keturunan karena tidak adanya cinta dalam membangun kesadaran untuk memiliki anak,” ucapnya.
Ghulbuddin Himamy, M.Psi, Psikolog mengatakan friendship marriage adalah pernikahan tanpa melibatkan rasa cinta atau hubungan romantis atau seksual, hanya berdasarkan rasa persahabatan karena kesamaan pandangan.
“Mungkin kita bisa bayangkan orang-orang yang terikat dalam friendship marriage ini adalah sepasang sahabat yang saling mengerti satu sama lain dan kemudian memutuskan untuk bersama,” jelasnya.
Ia menilai friendship marriage di Indonesia masih asing. Berbeda dengan di Jepang, tidak sedikit pasangan yang melakukan hal semacam ini dikarenakan pemerintah memberikan banyak keuntungan jika warga negaranya menikah, yaitu memberikan tunjangan pada pasangan dan calon anak.
Ia menilai rendahnya tingkat pernikahan dan kelahiran di negara Sakura tersebut disebabkan masyarakat di sana tipe pekerja keras dan menganggap pernikahan dan anak adalah beban hidup apalagi jika keadaan finansial belum stabil.
Ia menjelaskan, hubungan semacam ini memungkinkan pasangan tidak terlalu mementingkan status sosial atau latar belakang keluarga. Fokus utamanya adalah kecocokan kepribadian, kesiapan untuk saling membantu mencapai tujuan hidup bersama, kemampuan komunikasi, dan kebebasan individu. Hal ini berbeda dibandingkan pernikahan tradisional yang lekat dengan romantisme dan ekspektasi sosial.