Pro Kalimantan Balikpapan Samarinda Bola Daerah Kriminal Bisnis Nasional Lifestyle

Friendship Marriage, Tren Baru Pernikahan Tanpa Rasa Cinta, Baik atau Buruk? Begini Pandangan Ahli

Redaksi • 2024-08-21 10:59:30
ilustrasi pernikahan
ilustrasi pernikahan

Pernikahan umumnya diasosiasikan dengan cinta romantis, namun ada tren yang semakin populer yaitu friendship marriage atau pernikahan berdasarkan persahabatan. Dalam hubungan ini, sepasang suami istri bisa menjadi pasangan tanpa jatuh cinta bahkan tanpa berhubungan seks.

 

BARU-baru ini masyarakat disuguhi dengan tren kekinian ide pernikahan bertajuk friendship marriage yang kian banyak terjadi di Jepang. Fenomena ini melibatkan dua sahabat yang memutuskan untuk menikah tanpa adanya cinta romantis di antara mereka, tetapi lebih karena adanya kesamaan pandangan.

“Sebagai masyarakat Indonesia, saya rasa itu bukan hal mustahil di zaman sekarang,” ungkap Maudy (29), perempuan dari Kota Pontianak.

Ia menilai, hal ini terjadi karena berbagai faktor-faktor yang bisa mempengaruhi gaya hidup manusia dalam bertahan hidup. Meskipun tanpa cinta, khususnya pengaruh keluarga itulah yang membuat saat ini orang bisa melakukan pernikahan tanpa adanya cinta. 

Ia menilai fenomena ini dari dua sudut pandang antara baik dan buruk.  Baiknya kita tak perlu lama lagi untuk mengenal calon suami, karena bisa bersama membangun komunikasi yang diinginkan. Namun buruknya, saat kita tidak cinta akan ada dampak dalam hal trust issue. 

“Dan konsep friendship marriage itu bisa mempengaruhi untuk keturunan karena tidak adanya cinta dalam membangun kesadaran untuk memiliki anak,” ucapnya.

Ghulbuddin Himamy, M.Psi, Psikolog mengatakan friendship marriage adalah pernikahan tanpa melibatkan rasa cinta atau hubungan romantis atau seksual, hanya berdasarkan rasa persahabatan karena kesamaan pandangan. 

“Mungkin kita bisa bayangkan orang-orang yang terikat dalam friendship marriage ini adalah sepasang sahabat yang saling mengerti satu sama lain dan kemudian memutuskan  untuk bersama,” jelasnya.

Ia menilai friendship marriage di Indonesia masih asing. Berbeda dengan di Jepang, tidak sedikit pasangan yang melakukan hal semacam ini dikarenakan pemerintah memberikan banyak keuntungan jika warga negaranya menikah, yaitu memberikan tunjangan pada pasangan dan calon anak. 

Ia menilai rendahnya tingkat pernikahan dan kelahiran di negara Sakura tersebut disebabkan masyarakat di sana tipe pekerja keras dan menganggap pernikahan dan anak adalah beban hidup apalagi jika keadaan finansial belum stabil. 

Ia menjelaskan, hubungan semacam ini memungkinkan pasangan tidak terlalu mementingkan status sosial atau latar belakang keluarga. Fokus utamanya adalah kecocokan kepribadian, kesiapan untuk saling membantu mencapai tujuan hidup bersama, kemampuan komunikasi, dan kebebasan individu. Hal ini berbeda dibandingkan pernikahan tradisional yang lekat dengan romantisme dan ekspektasi sosial.

Menurutnya, pasangan yang menganut friendship marriage bisa tinggal bersama ataupun terpisah, namun status menikah sah secara hukum dan sosial. Selain itu, biasanya sebelum menikah pasangan akan bertemu untuk mendiskusikan segala sesuatu seperti mengatur masalah keuangan serta keputusan akan memiliki keturunan ataupun tidak.

“Jika pasangan friendship marriage ini ingin memiliki anak, biasanya mereka akan memilih untuk mengikuti program bayi tabung atau pembuahan di luar rahim,” katanya. 

Selian mendiskusikan persoalan keuangan dan keturunan, orang dengan hubungan semacam  ini bahkan memperbolehkan pasangan untuk menjalin hubungan romantis dengan orang luar asalkan sesuai dengan kesepakatan awal yang sudah disetujui masing-masing pihak.

Umumnya, pasangan yang menjalankan friendship marriage tidak akan melakukan aktifitas seksual seperti pasutri pada umumnya. Meski begitu, mereka memiliki komunikasi yang baik karena saling menghargai, mempercayai, dan cocok satu sama lain. 

“Mereka tidak segan untuk menceritakan mengenai perasaan, kekhawatiran maupun berbagi rahasia karena tidak adanya tekanan dalam memenuhi ekspektasi pasangan yang kadang kurang realistis yang seringkali menyebabkan konflik dalam pernikahan romantis,” ucapnya.

 

Friendship marriage bisa terjadi ketika dua orang sahabat yang sudah lama berteman dan tidak ada ketertarikan secara seksual diantara mereka namun sama-sama cocok dalam hal selera, humor, komunikasi dan tujuan hidup. Pasangan dengan hubungan semacam ini akan fokus terhadap kenyamanan saat hidup bersama.

Menurutnya, siapapun bisa saja memilih menjalani Friendship marriage ini, namun yang paling besar kemungkinannya adalah orang yang sudah putus asa mencari pasangan hidup yang sesuai kriterianya namun masih tidak berhasil. Ditambah jika sudah kepentok umur dan dituntut oleh lingkungan sosialnya dan orang tua agar cepat menikah. 

 

“Alasan ini yang membenarkan orang tersebut mau untuk menjalani Friendship marriage,” imbuhnya.(*)

 

 
 
 
Editor : Indra Zakaria