Marah dengan diam atau silent treatment adalah perilaku menahan diri dari mengungkapkan kemarahan dengan kata-kata atau tindakan. Perilaku ini bisa dilakukan karena ingin menghindari konflik yang lebih besar atau menyakiti perasaan orang lain. Silent treatment bisa menjadi bentuk kekerasan non-verbal yang dapat melukai orang lain secara emosional-psikologis.
Sering mendengar istilah 'silent treatment'? Istilah ini seringkali ditujukan kepada orang-orang yang memilih mendiamkan orang lain ketika sedang marah. Seringkali netizen menilai, perilaku ini tak bisa dibenarkan lantaran bisa menimbulkan frustasi pada orang-orang yang diabaikan.
Silent treatment atau perlakuan diam adalah sebuah bentuk komunikasi non-verbal di mana seseorang secara sengaja memilih untuk tidak berkomunikasi atau berinteraksi dengan orang lain sebagai bentuk ekspresi ketidaksenangan, hukuman, atau manipulasi. Ini adalah cara yang pasif-agresif untuk menyampaikan perasaan atau ketidaksetujuan.
Ciri-ciri Silent Treatment:
Mengabaikan: Orang yang melakukan silent treatment akan menghindari kontak mata, mengabaikan pesan, dan menghindari pertemuan fisik.
Menarik diri: Mereka akan menarik diri dari percakapan atau aktivitas bersama.
Menutup diri: Mereka akan menolak untuk berbagi perasaan atau pikiran mereka.
Menghindari konflik: Alih-alih menghadapi masalah secara langsung, mereka memilih untuk menghindari konflik dengan cara diam.
Dampak Silent Treatment:
Kerusakan hubungan: Silent treatment dapat merusak kepercayaan dan hubungan antara dua orang.
Perasaan terluka: Orang yang menjadi sasaran silent treatment sering merasa terluka, ditolak, dan tidak dihargai.
Meningkatkan konflik: Alih-alih menyelesaikan masalah, silent treatment justru dapat memperburuk situasi dan memicu konflik lebih lanjut.
Masalah kesehatan mental: Silent treatment dapat menyebabkan stres, kecemasan, dan depresi pada orang yang mengalaminya.
Alasan Seseorang Melakukan Silent Treatment:
Merasa marah atau kecewa: Mereka mungkin merasa terlalu marah atau kecewa untuk berkomunikasi secara efektif.
Ingin menghukum: Mereka mungkin ingin menghukum orang lain dengan cara mengabaikannya.
Merasa tidak berdaya: Mereka mungkin merasa tidak memiliki cara lain untuk mengungkapkan perasaan mereka.
Mekanisme pertahanan diri: Bagi beberapa orang, silent treatment adalah cara untuk melindungi diri dari rasa sakit emosional.
Cara Mengatasi Silent Treatment:
Komunikasi terbuka: Cobalah untuk membuka percakapan dengan orang yang melakukan silent treatment. Tanyakan apa yang mereka rasakan dan mengapa mereka memilih untuk diam.
Jangan menyalahkan diri sendiri: Ingatlah bahwa Anda tidak bertanggung jawab atas tindakan orang lain.
Cari dukungan: Bicarakan dengan teman atau keluarga tentang apa yang Anda rasakan.
Cari bantuan profesional: Jika masalah terus berlanjut, pertimbangkan untuk mencari bantuan dari terapis.
TINJAUAN PSIKOLOGIS
Silent treatment adalah bentuk manipulasi emosional yang tidak sehat. Jika Anda sering menjadi sasaran silent treatment, penting untuk mencari bantuan dan dukungan. Menurut psikolog klinis, silent treatment adalah perilaku mendiamkan, yakni dengan tidak berbicara atau menganggap keberadaan orang lain. Seringkali, hal ini dilakukan seseorang ketika sedang marah atau bertengkar dengan orang yang didiamkan.
Ada kemungkinan, perilaku tersebut dilatarbelakangi oleh pengalaman buruk tertentu. Sebab menurut Vero, kebiasaan terbentuk dari pengalaman. Kebiasaan terbentuk dari pengalaman. (Artinya) pemaknaan terhadap pengalaman dan penilaian secara subjektif bahwa sikap perilaku tertentu dirasa tepat untuk menghadapi suatu masalah.
Silent treatment bisa menjadi salah satu bentuk kekerasan non verbal. Pasalnya, perilaku tersebut bisa membuat orang yang diabaikan merasa tidak berdaya, penuh rasa bersalah, frustasi, dan lain sebagainya. Karena mengandung unsur pengabaian terhadap orang lain maka masuk ke dalam bentuk kekerasan non verbal. Sikap perilaku 'silent treatment' ini mengabaikan keberadaan orang lain, yang berdampak pada melukai atau menyakiti orang lain ini secara emosional-psikologis. (*)
Editor : Indra Zakaria