Pro Kalimantan Balikpapan Samarinda Kaltim Bola Daerah Kriminal Nasional Lifestyle Bisnis Sport

Soft Power Baru? Spiritualitas Gen Z Sebagai Identitas Global

Redaksi • Selasa, 8 Juli 2025 - 19:46 WIB
Ilustrasi Gen Z (AI Gemini)
Ilustrasi Gen Z (AI Gemini)

 

Di era ketika batas negara menjadi semakin kabur oleh teknologi, Gen Z tidak hanya mengonsumsi budaya populer secara global—mereka juga menyerap bentuk-bentuk spiritualitas lintas negara. Dari yoga India, meditasi Zen Jepang, hingga praktik healing dan tarot yang kini viral di TikTok, spiritualitas mengalami globalisasi yang halus namun dalam.

Dan di balik fenomena ini, muncul pertanyaan penting: apakah ini bentuk baru dari soft power?

• Gen Z dan Spiritualitas Tanpa Batas

Gen Z dikenal sebagai generasi paling terhubung secara digital. Mereka lahir di tengah globalisasi dan hidup di dalam algoritma. Maka tak heran jika pencarian makna hidup dan kedamaian batin mereka pun melintas batas geografis, Bahasa, dan agama formal.

Yoga yang dulu identink dengan tradisi spiritual India kini telah menjadi bagian dari gaya hidup urban Gen Z di Jakarta, Berlin, hingga Los Angeles. Di sisi lain, meditasi Zen yang berasal dari Jepang menjadi bagian dari rutinitas digital detox dan self-regulation di kalangan pelajar dan profesional muda. Semua ini tidak lagi dikonsumsi sebagai praktik religious eksklutif, tapi sebagai bagian dari identitas global cair.

• Spiritualitas sebagai Soft Power

Menurut Joseph Nye, soft poweradalah kemampuan untuk mempengaruhi tanpa paksaan, melalui daya tarik budaya, nilai, dan ide. Jika selama ini kita mengenal soft power dalam bentuk K-Pop, drama Korea, atau Hollywood, kini bentuknya berkembang menjadi praktik spiritual.

India misalnya, telah lama mendorong yoga sebagai diplomasi budaya. Pemerintah  India bahkan mendorong PBB untuk menetapkan 21 Juni sebagai Hari Yoga Internasional sejak tahun 2015. Korea Selatan juga tidak tertinggal. Konsep-Konsep Han (kesedihan kolektif) dan healing culture hadir dalam K-Drama atau K-Film, lalu dikonsumsi oleh jutaan penonton di seluruh dunia—terutama Gen Z sebagai bagian dari narasi penyembuhan diri.

Ini adalah bentuk dari soft power yang tidak sekedar menghibur, tapi juga menyentuh aspek terdalam identitas dan emosi manusia. Ketika Gen Z di Indonesia melakukan meditasi lewat aplikasi buatan Korea Selatan atau mengikuti kelas mindfulness berbahasa Inggris dari guru asal India-Amerika, mereka sedang masuk ke dalam arus soft power global yang bersifat spiritual.

• TikTok, Instagram dan Algoritma Spiritual

Salah satu moto utama dari penyebaran spiritualitas global ini adalah media sosial. Di TikTok, hastag seperti #healing, #spiritualtok, #mindfulness atau #zodiaktiktok dipenuhi oleh konten creator dari berbagai negara yang membagikan afirmasi, bacaan tarot, Teknik pernafasan, journaling, sampai ritual bulan purnama.

Ini bukan hanya sekedar hiburan. Ini adalah cara baru Gen Z membentuk makna personal dalam dunia yang penuh ketidakpastian—pandemi, krisis iklim, perang, dan tekanan produktivitas. Di titik inilah spiritusalitas berubah menjadi Bahasa global dan menjadi bagian dari jairngan soft power ynag makin kuat.

• Antara Apropriasi dan Apresiasi

Namun fenomena ini tidak lepas dari kritik. Banyak kalangan menilai bahwa spiritualitas ynag dikemas di media sosial rentan menjadi bentuk apropriasi budaya. Misalnya, yoga tanpa pemahaman filosofi Hindu, atau meditasi Zen yang dilepaskan dari konteks Buddhisme. Soft power yang seharusnya memperkenalkan budaya secara utuh malah bisa menjadi komudifikasi spiritual.

Tantangannya adalah bagaimana memastikan bahwa globalisasi spiritual ini tetap menghormati akar tradisinya, sambil tetap relevan dan dapat diakses oleh lintas budaya.

Fenomena ini membuka ruang baru dalam kajian Hubungan Internasional. Jika dulu kita hanya fokus pada diplomasi politik atau ekonomi, kini kita harus mengakui bahwa pencarian spiritual pun menjadi bagian dari lanskap global.
Studi tentang soft power tidak lagi hanya melihat BTS atau Marvel, tapi juga membaca Tarot, menghadiri virtual sound healing, dan memperhatikan bagaimana praktik meditasi menyebar lewat YouTube Shorts.

Dalam konteks ini, Gen Z bukan hanya konsumen budaya global, tetapi juga pelaku aktif dalam membentuk identitas dunia. Dan spiritualitas menjadi salah satu paling personal dan paling politis dalam relasi antar negara hari ini. (Arsandha Agadistria Putri)

Editor : Indra Zakaria
#Gen Z