Tanggal 26 November, tanggal dimana Raymond Pierre Paul Westerling meninggal dunia di kota Purmerend, Belanda, pada usia 68 tahun karena serangan jantung. Nama Westerling sangat terkenal di Indonesia, bukan karena apa-apa, namun karena kekejamannya.
Westerling adalah salah satu tokoh paling kontroversial dalam sejarah Revolusi Nasional Indonesia. Ia adalah seorang perwira militer Belanda yang dikenal karena kekejaman dalam operasi militer di Sulawesi Selatan dan upaya kudeta yang gagal di Jawa Barat.
Berikut adalah ulasan lengkap mengenai Westerling, asal usulnya, dan aksi-aksi yang dilakukannya di Indonesia.
Raymond Pierre Paul Westerling, kelahiran 3 September 1919 di Istanbul, Kekaisaran Ottoman (Turki) dan berkewarganegaraan Belanda. Ayahnya adalah pedagang Belanda, sementara ibunya berdarah Yunani. Ia tumbuh besar di Turki, memiliki pemahaman luas tentang berbagai budaya, dan mampu berbahasa Belanda, Inggris, dan Turki. Westerling dilatih di Inggris sebagai tentara komando pada masa Perang Dunia II, khususnya di unit Commando Basic Training Course (CBTC).
Westerling memiliki kepribadian yang karismatik namun keras, dengan ambisi militer yang kuat. Setelah Perang Dunia II berakhir, ia ditugaskan ke Hindia Belanda (Indonesia) pada tahun 1945 sebagai bagian dari upaya Belanda untuk menegakkan kembali kekuasaan kolonial mereka.
Karier Militer Awal di Indonesia (KNIL)
Westerling tiba di Batavia (Jakarta) pada September 1945. Di Indonesia, ia bergabung dengan tentara kolonial Belanda, Koninklijk Nederlands-Indisch Leger (KNIL). Karena kemampuannya sebagai komando yang terlatih, ia ditugaskan untuk membentuk dan memimpin unit khusus yang dikenal sebagai Depot Speciale Troepen (DST). Unit elit ini bertugas melakukan operasi kontra-gerilya, infiltrasi, dan pembersihan terhadap kelompok-kelompok pejuang kemerdekaan Indonesia. DST di bawah pimpinan Westerling dengan cepat dikenal karena efektivitas militernya yang brutal dan tidak mengenal kompromi.
Pembantaian di Sulawesi Selatan (1946–1947)
Aksi Westerling yang paling gelap dan berdarah terjadi di Sulawesi Selatan antara Desember 1946 hingga Februari 1947. Operasi ini secara resmi dikenal sebagai "Pembersihan" (Zuivering). Pada akhir 1946, situasi di Sulawesi Selatan sangat tidak stabil. Kelompok-kelompok pejuang kemerdekaan, yang didukung oleh rakyat, melancarkan perlawanan sengit terhadap kehadiran Belanda.
Belanda menugaskan Westerling untuk memulihkan ketertiban secara total. Ia menerapkan metode yang sangat kejam dan tanpa proses hukum. Operasinya seringkali meliputi pengumpulan massa. Warga di sebuah desa atau wilayah yang dicurigai mendukung Republik dikumpulkan di lapangan terbuka.
Westerling atau anak buahnya akan memilih sejumlah orang yang dicurigai sebagai pemberontak atau simpatisan. Orang-orang ini kemudian dieksekusi di tempat (summary execution), seringkali di hadapan seluruh warga desa.
Pembunuhan massal ini dimaksudkan sebagai tindakan teror untuk mematahkan semangat perlawanan rakyat dan memastikan tidak ada lagi dukungan terhadap pejuang Republik. Aksi Westerling di Sulawesi Selatan dianggap sebagai kejahatan perang. Jumlah korban tewas sangat kontroversial dan diperkirakan secara luas.
Pemerintah Belanda secara resmi mengakui sekitar 1.500 korban tewas. Versi Indonesia etimasi yang dilakukan oleh pihak Indonesia dan sejarawan independen jauh lebih tinggi, berkisar antara 4.000 hingga 40.000 jiwa. Tragedi ini menjadi salah satu noda tergelap dalam sejarah kolonial Belanda pasca-Perang Dunia II.
Kudeta APRA (Angkatan Perang Ratu Adil) di Jawa Barat (1950)
Setelah pengakuan kedaulatan Indonesia pada Desember 1949 dan terbentuknya Republik Indonesia Serikat (RIS), Westerling menolak keras pembubaran KNIL dan berdirinya negara kesatuan.A. Pembentukan APRAPada Januari 1950, Westerling mendirikan kelompok bersenjata yang ia namakan Angkatan Perang Ratu Adil (APRA).
Nama "Ratu Adil" diambil dari ramalan Jawa kuno tentang pemimpin yang akan membawa keadilan dan kemakmuran, yang ia gunakan untuk menarik dukungan rakyat setempat dan para mantan serdadu KNIL. Tujuannya tak lain empertahankan bentuk Negara Federasi (RIS) yang didukung Belanda. Mempertahankan tentara khusus APRA sebagai tentara negara bagian Pasundan.
Pada 23 Januari 1950, Westerling memimpin sekitar 800 pasukannya dari KNIL yang mendukung APRA untuk menyerang Bandung. Pasukan APRA berhasil menguasai markas Divisi Siliwangi dan membunuh beberapa perwira tinggi TNI yang sedang tidak bersenjata.
Westerling merencanakan serangan lanjutan ke Jakarta dengan target utama penculikan Presiden Sukarno dan penghapusan Kabinet RIS. Namun, rencana ini bocor dan pasukan APRA gagal mencapai Jakarta. Setelah kudeta gagal mendapatkan dukungan militer dan politik yang cukup, Westerling melarikan diri. Kudeta APRA hanya bertahan beberapa hari dan menjadi pemicu percepatan pembubaran RIS dan pembentukan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) pada Agustus 1950.
Setelah kudeta APRA gagal, Westerling melarikan diri ke Singapura (saat itu masih koloni Inggris) dan kemudian diekstradisi kembali ke Belanda. Meskipun laporan kekejamannya di Sulawesi Selatan sudah menjadi rahasia umum, Westerling tidak pernah dituntut atau dihukum oleh pengadilan Belanda atas kejahatan perang yang dilakukannya. Belanda saat itu memilih untuk tidak membuka penyelidikan penuh terhadap masa perang kolonial mereka.
Raymond Westerling menghabiskan sisa hidupnya di Belanda dan meninggal di kota Purmerend tanpa pernah dimintai pertanggungjawaban hukum atas ribuan korban yang jatuh di bawah komandonya. (*)
Editor : Indra Zakaria