Pro Kalimantan Balikpapan Samarinda Bola Daerah Kriminal Bisnis Nasional Lifestyle

Lelaki Terpikat Istri Orang: Bukan Sekadar Cinta, Melainkan Adrenalin dan Ilusi Semu

Redaksi Prokal • 2026-01-15 11:00:00
ilustrasi selingkuh
ilustrasi selingkuh

Fenomena lelaki yang merasa tertarik atau bahkan hingga taraf "tergila-gila" dengan perempuan yang sudah bersuami merupakan isu yang kompleks secara psikologis. Ketertarikan ini sering kali disalahartikan sebagai cinta murni, padahal jika dibedah lebih dalam, hal tersebut lebih banyak dipengaruhi oleh persepsi yang keliru dan dorongan tantangan terlarang.

Salah satu pemicu utama adalah adanya ilusi "Versi Terbaik" atau The Best Version. Seorang lelaki cenderung hanya melihat istri orang lain dari permukaan saja—saat ia sudah tampil rapi dan bersosialisasi. Tanpa adanya keterlibatan dalam dinamika rumah tangga yang nyata, lelaki ini tidak melihat sisi manusiawi sang wanita saat menghadapi konflik keuangan atau keruwetan mengurus anak. Akibatnya, muncul persepsi bahwa wanita tersebut adalah sosok yang selalu tenang dan dewasa.

Secara evolusi, terdapat pula teori yang disebut Mate Choice Copying atau efek Pre-Selection. Status wanita sebagai "milik orang lain" secara tidak sadar dianggap sebagai sertifikat validasi otomatis. Logikanya, jika ada pria lain yang bersedia berkomitmen dengannya, berarti wanita tersebut memiliki kualitas unggul sebagai pasangan. Hal inilah yang sering kali memicu daya tarik instan karena sosok tersebut dianggap sudah "teruji" oleh pria lain.

Dorongan hormon dan adrenalin dalam mengejar sesuatu yang terlarang juga memainkan peran besar. Efek "buah terlarang" membuat sesuatu yang sulit didapatkan terasa jauh lebih berharga dibandingkan apa yang tersedia bebas. Bagi sebagian lelaki, mendapatkan perhatian dari istri orang adalah bentuk kepuasan ego yang luar biasa, seolah menjadi pembuktian bahwa dirinya lebih baik daripada sang suami sah.

Selain itu, hubungan semu ini sering kali terasa "sempurna" karena minimnya tanggung jawab nyata. Tidak ada tuntutan untuk membayar cicilan bersama atau menghadapi kerumitan hubungan dengan mertua. Hubungan tersebut biasanya hanya berputar pada romansa dangkal dan pelarian dari realitas hidup. Banyak pula lelaki yang mencari figur yang mengayomi, di mana istri orang dianggap memiliki sifat keibuan yang lebih matang dan tidak kekanak-kanakan dalam menghadapi masalah.

Namun, pakar psikologi mengingatkan bahwa ketertarikan ini biasanya akan langsung luntur seketika jika "misteri" dan "larangan" tersebut hilang. Saat sang istri orang benar-benar meninggalkan suaminya dan mulai menuntut tanggung jawab nyata dari lelaki pemuja tersebut, yang tersisa hanyalah rutinitas biasa. Pada titik inilah, sang lelaki sering kali sadar bahwa ia sebenarnya tidak sanggup menghadapi kenyataan di balik ilusi yang ia bangun sendiri. (*)

Editor : Indra Zakaria