Pohon Rumbia (Metroxylon sagu) atau yang lebih dikenal sebagai pohon sagu, adalah jenis palma penghasil tepung sagu yang menjadi makanan pokok bagi banyak masyarakat di wilayah Indonesia Timur dan beberapa bagian wilayah Sumatera serta Kalimantan. Di Samarinda, bahkan ada nama jalan Rumbia.
Nama-nama lainnya di berbagai daerah di Sumatra dan Sulawesi adalah rumbieu, rembie, rembi, rembiau, rambia, hambia, humbia, lumbia, rombia, rumpia . Di Maluku dikenal sebagai ripia, lipia, lepia, lapia, lapaia, hula atau huda. Di Jawa, ambulung, bulung, (am)bulu, tembulu (Jawa), bhulung (Madura.), dan ki ray.
Di Banda, pohonnya disebut dengan romiho, sementara tepungnya disebut sangyera. Di Makassar pohonnya disebut rambiya dan tepungnya disebut palehu. Di negara-negara tetangga dikenal sebagai balau (Sarawak), lumbia, lăbi (Filipina), thagu bin (Burma), sa kuu (Kamboja), dan sa khu (Thailand) dan Sago Palm (Inggris).
Ciri Khas dan Manfaat:
Pohon rumbia tumbuh subur di daerah rawa yang berair, tanah aluvial, dan sekitar aliran sungai. Batangnya mengandung empulur yang kaya akan pati. Satu batang pohon rumbia dewasa bisa menghasilkan 150 hingga 300 kilogram tepung sagu.
Daun rumbia sejak dulu digunakan sebagai bahan utama pembuatan atap rumah tradisional yang dikenal sejuk dan tahan lama. Pohon ini memiliki buah bersisik cokelat yang rasanya sepat, namun sering dijadikan camilan tradisional (asinan) di beberapa daerah.
Pohon ini hanya berbunga sekali di akhir masa hidupnya (sekitar umur 10–15 tahun), setelah itu pohon akan mati. Itulah saat terbaik untuk memanen patinya.
Mengapa Rumbia Mulai Langka?
Meski kegunaannya melimpah, populasi rumbia terus menyusut. Setidaknya ada tiga faktor utama yang memicu kelangkaan ini. Pertama konversi lahan basah. Dimana banyak hutan rumbia alami dikeringkan untuk diubah menjadi lahan sawit atau karet. Rumbia membutuhkan genangan air alami, sehingga ketika rawa dikeringkan, pohon ini akan mati atau gagal berkembang.
Juga ada penebangan tanpa penanaman kembali. Masyarakat sering kali menebang pohon rumbia dewasa tanpa melakukan penanaman kembali. Mengingat rumbia membutuhkan waktu 10 hingga 15 tahun untuk siap panen, ketimpangan antara konsumsi dan budidaya membuat stok alam terkuras.
Rumbia kena stigma "tanaman liar". Kurangnya edukasi membuat rumbia sering dianggap sebagai tanaman pengganggu di lahan produktif, padahal nilai ekonominya sangat tinggi jika dikelola secara industri. (*)
Editor : Indra Zakaria