Pro Kalimantan Balikpapan Samarinda Kaltim Bola Daerah Kriminal Nasional Lifestyle Bisnis Sport

Bukan Sekadar Lelah Bekerja: Ketika 'Masking' Menjadi Beban Terberat yang Menguras Jiwa

Indra Zakaria • Rabu, 29 April 2026 | 12:15 WIB
Masking bukan kepalsuan.
Masking bukan kepalsuan.

PROKAL.CO- Di ruang terapi yang tenang, seorang pasien memulai ceritanya dengan kata yang kian akrab di telinga masyarakat modern: burnout. Keluhannya terdengar klasik—beban kerja yang tumpang tindih, budaya perusahaan yang beracun, hingga kerumitan politik kantor yang tak berujung. Namun, seiring berjalannya sesi, narasi itu perlahan bergeser. Tabir yang menutupi akar kelelahan yang sesungguhnya mulai tersingkap.

Ternyata, yang paling menguras energi bukanlah tumpukan berkas atau tenggat waktu yang mencekik. Kelelahan luar biasa itu bersumber dari sebuah ritual tak kasat mata yang dilakukan setiap hari: masuk ke setiap ruangan dengan memastikan wajah yang "tepat", nada suara yang "pas", dan respons yang "sesuai" sebelum orang lain sempat menghakimi versi asli dirinya.

Fenomena ini dikenal sebagai masking. Bagi banyak orang, ini bukanlah bentuk kepalsuan, melainkan sebuah kalkulasi rasional yang lahir dari pengalaman pahit. Ini adalah mekanisme pertahanan diri dari seseorang yang telah berulang kali belajar bahwa versi asli mereka tidak selalu disambut dengan aman, baik di lingkungan keluarga, pertemanan, tempat kerja, hingga hubungan romantis.

Masalahnya, masking memiliki biaya yang sangat mahal bagi kesehatan mental. Semakin lama seseorang memakai topeng tersebut, semakin kabur batasan antara identitas buatan dan jati diri yang sebenarnya. Wajah asli itu tidak hilang, namun ia menjadi begitu jarang "dipakai" hingga pemiliknya mulai merasa asing saat menatap cermin sendiri.

Kelelahan yang dirasakan pasien tersebut bukanlah tanda kelemahan karakter. Sebaliknya, itu adalah sinyal alarm bahwa jarak antara sosok yang ditampilkan di depan publik dan sosok yang disembunyikan di dalam batin sudah terlalu jauh untuk terus dijembatani sendirian. Beban untuk terus-menerus menjadi "orang yang diharapkan" akhirnya mencapai titik jenuh.

Para ahli menyebutkan bahwa jika seseorang mulai tidak tahu lagi mana diri yang asli, itu bukanlah sekadar krisis identitas biasa. Itu adalah tanda bahwa jiwa sedang menuntut ruang yang aman—sebuah tempat di mana topeng bisa dilepaskan secara perlahan, tanpa rasa takut, dan tanpa terburu-buru. Karena pada akhirnya, keberanian untuk menjadi diri sendiri memerlukan lingkungan yang tidak hanya menuntut fungsionalitas, tapi juga menerima otentisitas. (*)

Editor : Indra Zakaria
#burnout #masking #pekerjaan