PROKAL.CO- Di tengah tuntutan zaman yang menuntut setiap orang untuk selalu tampil produktif dan sukses, sebuah fenomena psikologis bernama Duck Syndrome atau sindrom bebek kian marak terjadi. Istilah non-medis ini digunakan untuk menggambarkan kondisi psikologis di mana seseorang terlihat sangat tenang, ceria, dan bergelimang keberhasilan di permukaan, padahal di balik itu semua mereka sedang berjuang setengah mati melawan stres, kecemasan, dan tekanan hidup yang menghimpit. Fenomena ini pertama kali populer di kalangan mahasiswa Universitas Stanford, sebuah lingkungan yang terkenal sangat kompetitif, untuk menggambarkan bagaimana para akademis muda di sana menyembunyikan tekanan mental mereka demi menjaga citra diri.
Penamaan sindrom ini bukan tanpa alasan, melainkan diambil dari analogi cara seekor bebek berenang di atas air. Jika kita melihat bebek yang sedang meluncur di danau, mereka tampak begitu tenang, anggun, tanpa beban, dan bergerak maju dengan sangat santai. Namun, jika kita mengintip ke bawah permukaan air, kaki bebek tersebut sebenarnya sedang mengayuh dengan sangat cepat, keras, dan penuh kepayahan agar tubuhnya tetap terapung. Analogi inilah yang mencerminkan kehidupan para penyintas Duck Syndrome—tampak anggun di luar, namun pontang-panting di dalam.
Mereka yang terjebak dalam lingkaran sindrom ini umumnya memiliki "topeng" yang sangat kuat untuk menutupi kerapuhannya. Ciri yang paling mencolok adalah obsesi untuk selalu tampil sempurna, baik dalam nilai akademis yang gemilang, performa kerja yang tanpa cela, hingga kehidupan sosial yang terlihat ideal di mata orang lain. Bagi mereka, harga diri hanya ditentukan oleh pencapaian dan prestasi semata. Alhasil, mereka menjadi sangat menjaga citra, terutama di media sosial, dengan hanya menampilkan momen-momen indah dan kesuksesan, sementara sisi rapuh mereka disembunyikan rapat-rapat. Semua ini bermuara pada ketakutan luar biasa terhadap kegagalan, serta kebiasaan buruk membandingkan diri yang membuat mereka merasa "bodoh" karena harus bekerja keras sendirian, sementara menganggap orang lain bisa sukses dengan mudah.
"Duck syndrome adalah lelahnya berpura-pura kuat di hadapan dunia, sementara di dalam diri sedang merasa kewalahan dan rapuh."
Meskipun Duck Syndrome bukanlah diagnosis penyakit mental resmi seperti depresi klinis, kondisi ini tidak boleh diremehkan karena menjadi pintu masuk menuju gangguan mental yang jauh lebih serius. Kebiasaan memendam stres dan kepura-puraan yang konsisten membuat para penderitanya sangat rentan mengalami burnout atau kelelahan mental kronis, gangguan kecemasan (anxiety disorder), hingga depresi berat. Bahayanya kian berlipat karena mereka cenderung enggan dan takut untuk mencari bantuan profesional, khawatir bahwa mengakui kerapuhan akan membuat mereka dianggap lemah atau tidak kompeten oleh lingkungan sekitar. (*)
Editor : Indra Zakaria