PROKAL.CO– Bagi para pencinta kuliner, roti bluder tentu bukan hal yang asing lagi. Roti legendaris yang sangat terkenal di Madiun, Jawa Timur ini selalu sukses memikat lidah dengan teksturnya yang super lembut dan seratnya yang khas. Namun, di balik kelezatannya, tahukah Anda dari mana asal-usul roti klasik ini?
Asal-usul Nama Bluder: Roti untuk "Saudara Lelaki"
Nama bluder ternyata diserap dari bahasa Belanda, yaitu broeder, yang berarti saudara lelaki. Penamaan ini memiliki kaitan erat dengan sejarah masa kolonial. Pada era penjajahan, roti ini biasa dibuat dan diberikan kepada para tentara Belanda yang bertugas. Hubungan kedekatan atau sebutan sesama tentara inilah yang kemudian melekat pada nama rotinya hingga disesuaikan dengan lidah lokal menjadi "bluder".
Berbeda dengan roti modern pada umumnya, bluder memiliki karakteristik yang unik. Teksturnya yang sangat lembut dan empuk didapat karena bluder dibuat dari adonan campuran antara roti dan kue. Penggunaan kuning telur yang melimpah menjadi rahasia utama mengapa bluder bisa begitu lembut, beraroma harum, dan memiliki serat yang langsung meleleh saat disantap.
Cara Membuat Roti Bluder Klasik yang Lembut
Membuat bluder memang membutuhkan kesabaran ekstra karena proses fermentasinya yang bertahap, namun hasilnya tentu sangat sepadan. Berikut adalah langkah-langkah dasar pembuatannya:
Bahan-Bahan yang Diperlukan:
Tepung terigu protein tinggi
Kuning telur dalam jumlah banyak (ciri khas bluder)
Gula pasir dan susu cair dingin
Ragi instan
Mentega atau margarin berkualitas
Langkah Pembuatan:
Membuat Biang: Campurkan sebagian tepung, ragi, dan sebagian susu cair. Diamkan beberapa saat hingga adonan mengembang sebagai bahan biang.
Mengocok Telur dan Gula: Di wadah terpisah, kocok kuning telur dan gula pasir hingga larut dan mengembang lembut.
Pencampuran Adonan: Masukkan sisa tepung terigu dan bahan biang ke dalam kocokan telur. Tuang sisa susu cair sedikit demi sedikit sambil diuleni hingga menyatu.
Menambahkan Mentega: Masukkan mentega ke dalam adonan, lalu uleni kembali hingga adonan benar-benar kalis dan elastis.
Fermentasi dan Pencetakan: Diamkan adonan hingga mengembang dua kali lipat. Setelah itu, kempiskan adonan, bagi menjadi beberapa bagian, dan beri isian sesuai selera. Bentuk bulat lalu letakkan di dalam cup kertas atau cetakan khusus bluder.
Pemanggangan: Istirahatkan kembali adonan di dalam cetakan hingga mengembang sempurna, lalu panggang dalam oven dengan suhu sekitar 180°C hingga permukaan berwarna cokelat keemasan dan matang. Seiring berjalannya waktu, variasi isian bluder kini semakin beragam, mulai dari cokelat, kismis, hingga rasa keju yang memberikan perpaduan rasa manis gurih yang sempurna. Kalau Anda sendiri, apakah sudah pernah mencoba roti bluder khas Madiun ini? Varian rasa apa yang paling menjadi favorit Anda? (*)
Editor : Indra Zakaria