PROKAL.CO- Istilah overthinking, anxiety, hingga kesehatan mental mungkin terdengar seperti produk modern yang baru ramai dibahas dalam satu dekade terakhir. Namun, tahukah Anda bahwa sekitar 700 tahun yang lalu, seorang ulama besar telah menulis secara mendalam tentang mengapa kepala manusia sering kali dipenuhi kegelisahan dan bagaimana cara mengatasinya?
Sosok tersebut adalah Ibnu Qayyim al-Jauziyyah. Beliau bukan sekadar ulama fikih, tetapi karyanya banyak diakui sebagai fondasi awal dari "Psikologi Hati" dalam tradisi Islam. Sepanjang hidupnya, Ibnu Qayyim banyak merenungkan satu pertanyaan mendasar: "Kenapa manusia begitu kesulitan mengendalikan isi kepalanya sendiri?"
Filosofi "Tamu Asing" di Depan Rumah
Dalam salah satu untaian hikmahnya, Ibnu Qayyim memberikan analogi yang sangat relevan dengan kebiasaan overthinking masyarakat modern. Beliau mengibaratkan lintasan pikiran yang muncul di kepala kita seperti seorang asing yang sekadar berjalan lewat di depan rumah.
Jika orang asing itu dibiarkan lewat begitu saja, dia sama sekali tidak akan berbahaya. Masalah besar baru dimulai ketika Anda memanggil orang asing tersebut, menyuruhnya masuk ke dalam rumah, menyuguhkannya secangkir kopi, dan Anda sendiri yang mengajaknya untuk menginap.
Artinya, pikiran buruk atau kecemasan sering kali menjadi besar bukan karena pikiran itu sendiri, melainkan karena kita memilih untuk menggenggamnya, memikirkannya berlarut-larut, dan merawatnya di dalam kepala.
Empat Fase Rusaknya Perilaku
Menurut Ibnu Qayyim, rusaknya hati dan perilaku seseorang jarang sekali terjadi secara tiba-tiba. Segala bentuk kecemasan hingga tindakan buruk selalu melewati empat fase psikologis yang berurutan:
Al-khatharat: Lintasan pikiran yang muncul sekilas tanpa diundang.
Al-wasawis: Bisikan yang mulai diputar ulang dan dipikirkan terus-menerus di dalam kepala.
Al-azimah: Tekad kuat yang lahir dari pikiran tersebut dan berubah menjadi niat.
Al-fi'il: Tindakan nyata yang jika diulang-ulang akan mengkristal menjadi karakter atau kebiasaan.
Pesan beliau sangat mendalam untuk kesehatan mental kita: "Jika kamu tidak membereskan masalah di level lintasan pikiran, nanti kamu akan bertemu lagi dengannya di level kebiasaan, dan di titik itu ia jauh lebih susah untuk dipadamkan."
Menjadi "Satpam" bagi Pikiran Sendiri
Lantas, bagaimana cara keluar dari jebakan pikiran yang membuat dada terasa sesak? Ibnu Qayyim menekankan pentingnya konsep Hirasatul Qalb atau menjaga gerbang hati.
Beliau mengibaratkan hati manusia seperti sebuah mesin giling yang tidak pernah berhenti berputar. Jika Anda memasukkan gandum yang bagus ke dalamnya, mesin tersebut akan menghasilkan tepung yang berkualitas. Namun, jika yang Anda lemparkan ke dalam mesin adalah batu, sampah, dan kotoran, mesin itu akan tetap berputar, tetapi hasilnya justru merusak mesin itu dari dalam.
Hati manusia tidak akan pernah bisa kosong. Jika tidak diisi dengan zikir, ilmu, dan hal-hal yang bermanfaat, secara otomatis hati akan terisi oleh ilusi, ketakutan, serta skenario-skenario buruk yang kita ciptakan sendiri.
Ibnu Qayyim tidak pernah memisahkan antara kesehatan mental dan kesehatan fisik. Hati yang dipenuhi rasa syukur, cinta, dan tawakal secara otomatis akan menenangkan badan. Sebaliknya, rasa dengki, dendam, dan iri hati adalah racun yang pelan-pelan menggerogoti fisik pemiliknya sendiri.
Melalui warisan pemikirannya, Ibnu Qayyim mengajak kita semua untuk tidak sekadar menjadi penonton pasif di dalam kepala sendiri. Jadilah "satpam" bagi pikiran Anda: seleksi dengan ketat siapa yang boleh masuk ke dalam hati, dan siapa yang cukup sampai di teras saja lalu disuruh pulang. Sebab pada akhirnya, kualitas hidup kita akan sangat ditentukan oleh pikiran mana yang paling sering kita jamu dan kita rawat di dalam dada. (*)
Editor : Indra Zakaria