MAHAKAM ULU – Musim panen durian kembali menyemarakkan denyut nadi perekonomian di wilayah hulu Sungai Mahakam. Sejak awal tahun hingga Februari 2026, aroma legit buah berduri ini tak hanya memanjakan lidah, tetapi juga menjadi motor penggerak ekonomi bagi warga kampung di sepanjang aliran sungai di Kabupaten Mahakam Ulu (Mahulu).
Kualitas durian asal Mahulu memang bukan isapan jempol belaka. Belum lama ini, tim penilai dari Fakultas Pertanian Universitas Mulawarman melakukan uji mutu, dan durian asal Kecamatan Laham milik Laudamus Lejiu dinobatkan sebagai yang terbaik. Reputasi inilah yang membuat durian Mahulu selalu dinanti di pasar Samarinda hingga Balikpapan.
Namun, di balik melimpahnya hasil panen tahun ini, para petani dan penyuplai harus menghadapi tantangan logistik yang pelik. Jalur sungai yang menjadi urat nadi distribusi utama sempat mengalami kendala operasional. Penghentian sementara layanan kapal besar membuat tumpukan durian sulit dikirim ke hilir.
"Pesanan dari luar sebenarnya sangat banyak, tapi suplai susah karena kapal sempat tidak beroperasi beberapa minggu," ungkap Laudamus Lejiu, Kamis (5/2).
Kondisi ini memaksa sejumlah pedagang beralih ke jalur darat menggunakan jasa travel. Namun, langkah ini justru membebani biaya produksi. Ongkos kirim jalur darat mencapai Rp200 ribu per karung, jauh lebih mahal dibandingkan jalur sungai yang hanya berkisar Rp50 ribu per karung. Akibatnya, banyak pedagang yang harus menghitung ulang untung-rugi agar tidak merugi besar.
Dampak dari kendala distribusi tersebut, durian-durian berkualitas juara ini akhirnya lebih banyak beredar di pasar lokal Mahulu dengan harga yang sangat terjangkau, yakni berkisar antara Rp10 ribu hingga Rp35 ribu per buah. Bahkan, di wilayah hulu seperti Long Apari dan Long Pahangai, melimpahnya stok membuat warga mengolah durian menjadi lumpuk (lempok atau dodol durian) agar tidak terbuang sia-sia.
Durian Mahulu memang memiliki nilai lebih, tidak hanya karena rasanya yang dianggap lebih istimewa dibandingkan durian asal Sulawesi, tetapi juga karena nilai budaya dan ekologisnya. Pohon-pohon durian berusia puluhan tahun ini merupakan warisan lintas generasi dengan nama-nama lokal yang unik seperti dian tawaq, kavakit, susu, hingga sei kelabang.
Harapan besar kini tertumpu pada normalnya kembali transportasi sungai agar "si raja buah" dari hulu Mahakam ini bisa kembali menyapa para penikmatnya di seluruh Kalimantan Timur tanpa terbebani biaya logistik yang mencekik.(*)
Editor : Indra Zakaria