PROKAL.CO- Detik-detik paling menentukan dalam sejarah konservasi Indonesia kini sedang dipertaruhkan di dalam rimbunnya hutan Kalimantan Timur. Badak Kalimantan (Dicerorhinus sumatrensis harrissoni), satwa endemik kebanggaan Pulau Borneo, berada di ambang kepunahan massal setelah teridentifikasi hanya menyisakan satu individu saja yang masih bertahan hidup di habitat alaminya, Mahakam Ulu. Kondisi yang sudah teramat kritis ini memaksa pemerintah dan para ahli mengambil langkah penyelamatan darurat, yakni evakuasi dan translokasi sebagai benteng pertahanan terakhir.
Guna mematangkan operasi penyelamatan yang tidak bisa ditunda lagi ini, sejumlah pihak lintas sektor langsung menggelar rapat koordinasi tingkat provinsi di Balikpapan pada Selasa (9/6). Kepala Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Timur, Ari Wibawanto, mengungkapkan fakta memilukan bahwa populasi badak Kalimantan yang terdeteksi saat ini hanya tersisa dua ekor di seluruh dunia, dan nahasnya, keduanya berjenis kelamin betina. Satu individu saat ini dalam perawatan intensif di Suaka Badak Kelian (SBK), sedangkan satu lainnya yang diberi nama "Pari Mahulu" masih mengembara sendirian di belantara liar.
“Saat ini hanya tersisa satu individu di alam liar dan itu berjenis kelamin betina. Ini kondisi yang sangat kritis karena tidak ada lagi peluang reproduksi alami tanpa intervensi manusia,” ujar Ari dengan nada penuh kekhawatiran pada Kamis (11/6).
Evakuasi terhadap Pari Mahulu dipandang sebagai jalan tunggal untuk menyelamatkan materi genetik yang tersisa. Rencananya, badak malang ini akan dimasukkan ke dalam program pengembangbiakan modern berbasis teknologi reproduksi berbantuan. Di tengah rencana besar ini, sempat berembus isu miring bahwa evakuasi dilakukan demi memuluskan alih fungsi lahan hutan di Mahakam Ulu. Namun, tudingan tersebut langsung dibantah keras oleh pihak BKSDA Kaltim yang menjamin bahwa rumah sang badak akan tetap dijaga ketat.
“Habitatnya tetap kami lindungi dan akan diusulkan sebagai kawasan preservasi kepada pemerintah pusat. Jadi tidak benar jika ada anggapan habitat badak akan dialihfungsikan,” tegas Ari meluruskan rumor yang beredar.
Medan Mahakam Ulu yang terkenal ganas, dengan jeram sungai yang ekstrem dan dinding hutan yang rapat, membuat tim penyelamat harus memutar otak. Skenario terbaik yang disiapkan adalah menjemput Pari melalui operasi udara menggunakan helikopter, karena jalur darat dan air mustahil ditembus dengan aman bagi keselamatan satwa berbobot ratusan kilogram tersebut.
Langkah ekstrem ini pun mendapat lampu hijau dan kawalan penuh dari Jakarta. Perwakilan Kementerian Kehutanan, Budi Mulyanto, menekankan bahwa momentum ini adalah pertaruhan bersama yang membutuhkan kerja sama total dari pemerintah pusat, daerah, hingga para pegiat lingkungan agar tidak menjadi catatan kelam hilangnya satu spesies dari muka bumi.
“Ini bukan hanya tanggung jawab satu lembaga. Diperlukan kolaborasi semua pihak agar proses penyelamatan badak Kalimantan dapat terlaksana secara optimal,” pungkas Budi.
Editor : Indra Zakaria