Pro Kalimantan Balikpapan Samarinda Bola Daerah Kriminal Bisnis Nasional Lifestyle

Temukan Cap Jempol di Amplop Bowo

izak-Indra Zakaria • 2019-04-03 12:07:22

JAKARTA – Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) mulai melakukan pengecekan terhadap 400 ribu amplop yang disita dalam kasus dugaan suap distribusi pupuk PT Pupuk Indonesia. Sampai dengan kemarin (2/4), KPK telah membuka sebanyak tiga kardus dengan total uang Rp 246 juta dari total 84 kardus yang diamankan dari operasi tangkap tangan (OTT) itu.

Dari hasil pengecekan sementara, KPK menemukan fakta baru. Yakni, adanya cap jempol di seluruh amplop berisi uang pecahan Rp 20 ribu dan Rp 50 ribu tersebut. ”Tidak ada nomor urut, yang ada adalah cap jempol di amplop tersebut,” kata Juru Bicara KPK Febri Diansyah. ”Tapi sejauh ini fakta hukum yang ada itu masih terkait dengan kebutuhan pemilihan legislatif,” tegasnya.

Selain fakta itu, KPK juga mendapat informasi pengemasan uang ke dalam 400 ribu amplop itu membutuhkan waktu selama satu bulan. Febri menerangkan, pihaknya akan membuka semua amplop-amplop di dalam kardus yang ditaksir berisi uang sekitar Rp 8 miliar itu. ”Memang butuh waktu yang cukup lama, sehingga kami baru bisa menyampaikan informasinya bertahap,” ungkapnya.

Febri menegaskan, temuan cap jempol di amplop sejauh ini masih terkait dengan operasi “serangan fajar” Bowo Sidik Pangarso yang bertarung dalam pemilihan legislatif Bowo di daerah pemilihan (dapil) Jawa Tengah (Jateng) II dari Partai Golkar. ”Kami tegaskan (amplop cap jempol) tidak ada keterkaitan dengan kepentingan-kepentingan lain,” jelas Febri.

Bowo disangka menerima suap dan gratifikasi sebesar Rp 8 miliar. Sebagian suap, yakni sebesar Rp 1,5 miliar, sejauh ini diduga bersumber dari PT Humpuss Transportasi Kimia (HTK) yang merupakan rekanan pengapalan PT Pupuk Indonesia. KPK sudah mengetahui sumber duit lain dalam suap dan gratifikasi itu, yakni sebesar Rp 6,5 miliar. Namun, informasi itu masih terus didalami.

Selain melakukan pengecekan amplop, KPK juga telah melakukan penggeledahan di sejumlah lokasi pada Sabtu (30/3). Diantaranya, di kantor PT Inersia (milik Bowo), di rumah pribadi Bowo di Pasar Minggu, kantor PT Pupuk Indonesia di gedung Pusri, kantor PT HTk di gedung Granadi dan ruang kerja Bowo nomor 1321 di kompleks DPR di Senayan.

KPK juga mulai memeriksa para tersangka untuk kepentingan penyidikan. Salah satu tersangka yang diperiksa kemarin (2/4) adalah Bowo. KPK melakukan pengambilan sampel suara Bowo yang akan digunakan untuk mendalami dugaan percakapan lewat sambungan telepon atau pertemuan-pertemuan yang berkaitan dengan perkara. (tyo)

Editor : izak-Indra Zakaria
#Korupsi Nasional