JAKARTA - Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) selesai melakukan investigasi kasus kecelakaan truk tangki Pertamina B 9598 BEH yang terjadi di Jalan Transyogi Cibubur, Jatisampurna, Kota Bekasi pada Senin (18/7). Berdasar hasil investigasi, kecelakaan lalu lintas yang merenggut sepuluh korban jiwa tersebut, dikarenakan truk mengalami kegagalan pengereman.
Senior Investigator KNKT Achmad Wildan mengungkapkan kronologis kejadiannya. Menurut dia, kecelakaan truk yang bermuatan 24.000 liter BBM jenis pertalite tersebut bermula saat berangkat dari TBBM Plumpang, Jakarta Utara sekitar jam 14.00 WIB dengan tujuan Cileungsi, Kabupaten Bogor. Saat melintas di daerah Rawamangun, sopir mendengar adanya suara desis seperti adanya kebocoran udara.
"Sopir memutuskan berhenti untuk memeriksanya. Tapi, setelah diperiksa tidak ditemukan sumber suaranya," katanya saat menggelar jumpa press di kantor KNKT, Jakarta, Selasa (18/10).
Karena itu, dikatakan Wildan, sopir akhirnya kembali melanjutkan perjalanan. Akan tetapi, selama di perjalanan mulai dirasakan adanya gangguan pada sistem rem. Puncaknya, saat tiba di sekitar TKP truk tidak dapat dihentikan meskipun sopir sudah menarik rem trailer dan handbreak. Termasuk juga mencoba mengurangi persnelling dari posisi 5 ke 3, akan tetapi juga tidak berhasil karena pedal kopling keras.
"Dari hasil pemeriksaan di lokasi juga tidak ditemukan adanya jejak pengereman atau skidmark pada ruas jalan," jelasnya.
Saat awal kejadian, lanjut Wildan, posisi truk barada di jalur cepat. Namun, setelah dirasakan adanya permasalahan, sopir memutuskan pindah ke lajur lambat dengan tetap berusaha menghentikan lanju kendaraannya. Kemudian, karena posisi trotoar di sisi kiri jalan juga terlalu tinggi sehingga tidak bisa dilewati dan truk pun terus melaju dan menabrak dua kendaraan roda empat yang ada di depannya.
"Karena itu, sopir akhirnya reflek banting stir ke kanan untuk terlepas dari mobil yang ditabrak. Tapi, rupanya di jalur kanan terdapat kerumunan kendaraan yang sedang berhenti di APILL CBD," terangnya.
Berdasar hasil investigasi dan analisis, dikatakan Wildan, dapat disimpulkan penyebab terjadinya kecelakaan tabrakan beruntun tersebut karena truk mengalami kegagalan pengereman. Perihal tersebut terjadi karena persediaan udara tekan di tabung berada di bawah ambang batas. Sehingga akhirnya tidak cukup kuat untuk melakukan pengereman.
Penurunan udara tekan, sambungnya, dipicu oleh dua hal. Yakni adanya kebocoran pada solenoid valve klakson tambahan dan travel stroke kampas rem. Resultante dua hal tersebut memaksa sopir melakukan pengereman berulang kali saat menghadapi ganguan lalu lintas karena rem kurang pakem. Perihal tersebut tentunya mempercepat berkurangnya angin pada tabung angin.
"Pada saat tekanan angin berada di bawah ambang batasnya maka tenaga pneumatic tidak bisa digunakan. Baik untuk memindahkan kopling maupun mengerem," ucapnya.
Berkaca dari kejadian tersebut dan agar tidak kembali terulang kejadian dengan penyebab yang sama di kemudian hari, dikatakan Wildan, pihaknya pun memberikan beberapa rekomendasi. Rekomendasi tersebut ditunjukkan kepada Direktorat Jenderal Perhubungan Darat, Badan Pengelola Transportasi Jabodetabek, dan PT Pertamina Patra Niaga.
Rekomendasi untuk Direktorat Jenderal Perhubungan Darat, pihaknya meminta agar sementara waktu melarang semua penggunaan klakson tambahan yang instalasinya mengambil sumber daya tenaga pneumatic dari tabung udara sistem rem. Termasuk juga agar merumuskan kebijakan teknis yang tepat untuk memenuhi kebutuhan klakson pada kendaraan besar yang memiliki karakteristik tersendiri.
Kemudian, untuk BPTJ, lanjut dia, agar mengevaluasi manajemen dan rekayasa lalu lintas pada jalan Nasional yang ada di wilayah Jabodetabek. Termasuk salah satunya Jalan Transyogi. Kemudian juga melakukan evaluasi penempatan rambu-rambu lalu lintas, iklan, papan peringatan, dan lainnya yang dapat membingungkan pengguna jalan serta mengevaluasi keberadaan semua APILL yang pada jalan primer.
Untuk PT Pertamina Patra Niaga, masih kata Wildan, agar melakukan evaluasi secara komprehensif terhadap sitem manajemen keselamatan. Kemudian, juga melakukan pelatihan secara intensif terhadap awak pengemudi kendaraan truk. Khususnya keterampilan mengemudi pada berbagai kondisi jalan, pemahaman sistem rem, pelaksanaan pre trip inspection serta serta penanganan kondisi darurat.
Namun, untuk sejauh ini, ditambahkan dia, pelatihan-pelatihan tersebut sudah mulai dilakukan kepada para sopir Pertamina. Bahkan, pelatihan tersebut juga sudah dilakukan dari MOR I-VIII. Mereka diberikan pelatihan pengetahuan tentang sistem rem berikut cara meriksanya. Termasuk diajarkan tatacara pengereman yang tepat.
"Sebelumnya mereka itu (Sopir Pertamina, red) tidak ada yang paham. Karena sopir itukan rata-rata ilmu pengetahuannya ya dari teman ke teman," ujarnya.
Sementara itu, Direktur Lalu Lintas Jalan Direktorat Jenderal Perhubungan Darat Kemenhub Cucu Mulyana menerangkan, pihaknya masih akan mengecek rekomendasi dari KNKT. (gih)
Editor : izak-Indra Zakaria