"Hasil survei menyebutkan sebanyak 42 persen guru memiliki penghasilan di bawah Rp 2 juta/bulan," katanya. Bahkan 13 persen diantaranya, memiliki gaji sebagai guru di bawah Rp 500 ribu/bulan. Ideas mengatakan penghasilan tersebut, masih di bawah UMK terendah di Indonesia, yaitu Rp 2.038.005 di Kabupaten Banjarnegara.
Dengan penghasilan tersebut, mayoritas guru menyampaikan bahwa gajinya pas-pasan bahkan tidak cukup untuk menutup biaya hidup. Hanya ada sebelas persen responden guru yang mangatakan gajinya cukup untuk biaya hidup, bahkan masih ada sisa. Akibat tingginya biaya hidup, banyak guru memiliki pekerjaan sampingan. "Pekerjaan sebagai guru bimbel atau les privat mendominasi," katanya.
Selain itu ada guru yang bekerja sampingan dengan berdagang, bertani, sampai dengan menjadi driver ojek online. Merebaknya teknologi digital, juga membuat sejumlah guru bekerja sampingan sebagai konten kreator.
Anwar mengatakan dengan bekerja sampingan, guru mendapatkan penghasilan tambahan. Namun 52,4 persen guru yang memiliki pekerjaan sampingan, mengaku mendapatkan tambahan penghasilan kurang dari Rp 500 ribu/bulan.
"Karena penghasilan dari pekerjaan sampingan itu tidak seberapa, banyak guru akhirnya berhutang," katanya.
Menurut survei tersebut, ada 79,6 persen guru memiliki utang. Kebanyakan guru berhutang di lembaga perbankan. Selain itu juga ada yang meminjam ke keluarga sampai ke pinjaman online (pinjol). Anwar mengatakan, hasil yang menarik dari survei tersebut, meskipun berpenghasilan rendah para guru tetap berkomitmen bekerja hingga usia pensiun.
Sebanyak 93,5 persen guru berkeinginan terus mengabdi sampai pensiun. Mereka ingin terus memberikan ilmu kepada anak didik sebagai seorang guru.
Keinginan itu tetap disadari resiko kesejahteraan masih jauh dari standar kelayakan. Dalam menjalankan survei tersebut, Ideas bekerjasama dengan GREAT Edunesia Dompet Dhuafa.
CEO GREAT Edunesia Dompet Dhuafa Asep Hendriana mengatakan sudah cukup lama berfokus pada sejumlah program pendidikan. Dia mengatakan temuan survei Ideas itu terkonfirmasi oleh pengalaman lembaganya dalam mendampingi para guru.
"Berdasarkan pengalaman lembaga kami, tingkat kesejahteraan yang rendah pada profesi guru, tidak pernah menyurutkan semangat mereka untuk tetap mengajar," jelasnya.
Para guru yang hidup pas-pasan, bahkan jauh dari layak itu, tetap ingin mengajar hingga usia senja. Alasannya, bagi para guru itu mengajar adalah sebuah pengabdian. Asep menilai pemerintah pusat maupun daerah perlu memperhatikan permasalahan kesejahteraan guru itu. Pasalnya guru juga memiliki tanggung jawab untuk keluarganya. Termasuk jaminan pendidikan untuk anak-anaknya.
Selain soal kesejahteraan, Asep mengatakan perlu ada lembaga yang memang mendampingi guru dalam meningkatkan kualitas pembelajarannya. "Baik lewat pelatihan, pendampingan, atau program capacity building lainnya," tandasnya. (*)