Pro Kalimantan Balikpapan Samarinda Bola Daerah Kriminal Bisnis Nasional Lifestyle

Bukan Pakta Militer, Indonesia Cuma Mau Sering-Sering "Deep Talk" Bareng Australia

Indra Zakaria • 2026-02-07 10:03:42
Sugiyono
Sugiyono

JAKARTA -Lupakan bayangan tentang Indonesia dan Australia yang bakal pakai seragam kembar ala pasukan tempur sekutu. Menteri Luar Negeri Sugiono baru saja meluruskan bahwa Treaty on Common Security yang baru diteken di Istana Merdeka pada Jumat (6/2) itu bukan pakta pertahanan, apalagi aliansi militer ala-ala film Avengers. Intinya, traktat ini adalah "tiket emas" biar para bos besar dan menteri dari kedua negara bisa lebih sering ngopi bareng sambil curhat soal keamanan.

Menlu Sugiono menjelaskan kalau perjanjian ini sebenarnya "konsekuensi logis" biar ada media konsultasi rutin. Jadi, jangan bayangkan rudal yang disiapkan, tapi lebih ke arah grup WhatsApp level menteri yang isinya diskusi serius soal situasi global. Menurut Sugiono, komunikasi dan kolaborasi itu harga mati di tengah dunia yang makin tidak menentu, biar tidak ada salah paham yang berujung salah urat.

Menariknya, mekanisme "ngobrol rutin" ini bukan barang baru buat Indonesia. Kita sudah khatam soal forum 2+2 bareng Jepang dan Tiongkok, atau nongkrong rutin bareng menlu-menlu ASEAN. Bedanya, traktat kali ini lebih komprehensif dan melibatkan pimpinan tertinggi masing-masing negara. Jadi, kalau ada masalah keamanan, Presiden Prabowo dan PM Anthony Albanese tinggal atur jadwal buat diskusi santai tapi formal.

Sugiono juga menegaskan dengan gaya yang sangat "anti-drama" bahwa traktat ini tidak membuat Indonesia terikat untuk ikut campur kalau Australia merasa terancam, begitu juga sebaliknya. Tidak ada kewajiban untuk merasa terancam bareng-bareng. Jadi, traktat ini murni untuk membangun pemahaman yang sama, bukan untuk cari musuh bersama. Singkatnya: kita tetap tetangga yang baik, sering ngobrol, tapi tetap punya urusan masing-masing. (*)

Editor : Indra Zakaria