PROKAL.CO, TANAH GROGOT-Rencana pemindahan lokasi car free day (CFD) dari area Hutan Kota ke area Stadion Sadurengas setelah Lebaran ternyata belum final. Rencana inipun justru dibantah oleh Asisten Pemerintahan dan Kesra, Setkab Paser, Romif Erwinadi.
Kata dia, rencana pemindahan CFD setelah Lebaran itu tidak benar. Sebelum pindah, Pemkab Paser harus mempersiapkan dengan penuh kehati-hatian dan dengan mempertimbangkan dari seluruh aspek.
Baca Juga: Bupati Mudyat Noor Paparkan Capaian Positif dalam LKPJ 2024 di Rapat Paripurna DPRD PPU
"Setelah Lebaran baru dilakukan kajian lapangan terlebih dahulu dari pihak terkait," kata Romif, Senin (7/4/2025).
Romif menyebut, sebenarnya para pelaku UMKM siap mendukung pemindahan itu, namun dengan syarat seluruh fasilitas dilengkapi, dan tidak ada yang bertahan.
Sebelumnya Dinas Pemuda Olahraga (Disporapar) Paser berencana melakukan pemindahan CFD setelah menerima berbagai usulan dan pertimbangan.
Di antaranya mobil Pemadam Kebakaran yang sulit keluar masuk pada Minggu jika terjadi musibah, sampai lapak yang dinilai masih kurang dan banyak usulan lapak belum terakomodasi.
Kepala Dinas Pemuda Olahraga (Disporapar) Paser Kurniawan mengatakan, pemindahan lokasi ini setelah mempertimbangkan berbagai masukan.
Saat rapat dengan Komisi I, DPRD Paser, pada Ramadan lalu, Ketua Komisi II, DPRD Paser, Sukran Amin, menyampaikan komisi II tidak setuju pemindahan lokasi CFD tersebut.
Menurutnya yang namanya CFD wajar jika ramai dan ada penutupan jalan dalam waktu tertentu. Sama halnya dengan di Jakarta.
Baca Juga: Ada Daya Tarik Baru di Gua Tapak Raja IKN, Wisatawan Jadi Banyak Pilihan
"Dampak dan risikonya untuk pelaku UMKM yang kita khawatirkan, nanti bisa berkurang drastis pengunjungnya," kata Sukran.
Dia memahami di kawasan stadion memang ramai pengunjung berolahraga, namun harus dibedakan dengan pengunjung CFD di hari Minggu. Apalagi di Hutan Kota juga selama ini memang banyak yang berolahraga.
Hal senada disampaikan Wakil Ketua Komisi II, DPRD Paser, Basri Mansyur. Menurutnya, kebijakan ini perlu dikaji matang. Dia menyarankan perlu uji coba dulu semisal kedua titik di Sudirman dan Stadion dibuka, lalu melihat bagaimana respons pengunjung.
"Nanti akan jadi masalah jika akhirnya gagal pemindahannya. Jangan sampai seperti wisbel (wisata belanja) pindah ke wiskul (wisata kuliner) yang kita tahu. Banyak pelaku usaha yang sepi omzetnya," kata Basri.
Anggota DPRD lainnya, Acong Asfiyek, mengatakan wiskul di Sungai Tuak adalah salah satu contoh pemindahan yang banyak dikeluhkan pedagang.
"Lokasi strategis itu sangat menentukan jualan pedagang, kalau daerahnya sepi pasti tidak ada yang mau datang seperti di seberang (Desa Sungai Tuak)," kata Acong. (jib/far)
Editor : Faroq Zamzami