PROKAL.CO, PENAJAM- Kehadiran buaya di saluran drainase Sungai Tunan serta Waru memantik perhatian Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Penajam Paser Utara (PPU).
Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) PPU, Nurlaila, mengatakan perubahan arus air akibat pasang surut di daerah aliran sungai (DAS) tersebut dilaporkan memicu migrasi satwa liar, terutama predator berdarah dingin, yang kini mulai merambah ke saluran drainase primer.
Baca Juga: Alarm Bahaya! Tren Cuci Darah Hantui Remaja Balikpapan, DPRD Desak Langkah Konkret
"Predator tersebut telah terdeteksi di area perkebunan sawit milik warga. Meski belum masuk ke jantung permukiman padat penduduk, tentu ini menjadi alarm bahaya bagi keselamatan masyarakat setempat," kata Nurlaila.
Kondisi ini kian mengkhawatirkan, sebab, sebelumnya terdapat laporan kasus serangan buaya di wilayah Sepaku.
Baca Juga: Niat Hindari Lubang Jalan, Mobil Box Es Krim Terjun ke Parit hingga Sopir Tak Sadarkan Diri
"Saat ini, satwa-satwa tersebut diketahui mulai berkembang biak di sepanjang saluran drainase primer," ujar Nurlaila.
Terkait langkah penanganan, Nurlaila mengakui pihaknya menghadapi dilema regulasi. Sebagai satwa yang dilindungi undang-undang, penanganan buaya tidak dapat dilakukan secara sembarangan oleh otoritas daerah. BPBD PPU pun kini tengah melakukan koordinasi intensif dengan Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) selaku pihak yang berwenang.
Baca Juga: Layanan Maraton! Kantor Pajak di Kaltimtara Buka Hingga Tengah Malam Demi Kejar Tenggat SPT
"Kami tidak bisa sembarangan melakukan penindakan karena satwa ini berada di bawah perlindungan BKSDA," jelasnya.
Apalagi, lanjut Nurlaila, secara geografis, wilayah PPU memiliki risiko tinggi konflik antara manusia dan satwa. Hampir seluruh wilayah sungai kecil yang saling terhubung. Mulai dari Sepaku, Babulu, Waru, Tunan, hingga Sungai Sesumpu, berpotensi besar menjadi habitat alami buaya.
Baca Juga: Kudeta Puncak Klasemen! Tembok Kokoh Nadeo dan Gol Obieta Bawa Borneo FC Bungkam Persik Kediri
Ia mengimbau, agar warga meningkatkan kewaspadaan, terutama bagi mereka yang beraktivitas di bantaran sungai serta area perkebunan yang bersinggungan dengan DAS.
"Kita tidak bisa sepenuhnya mengendalikan satwa liar di habitat alaminya. Oleh karena itu, kewaspadaan masyarakat adalah kunci utama untuk menghindari jatuhnya korban jiwa," katanya. (ami/far)
Editor : Faroq Zamzami