PROKAL.CO, PENAJAM – Sekretaris Komisi II, DPRD Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU), Sujiati, menilai komoditas rumput laut jenis sangu-sangu kini menjadi salah satu sumber penghasilan paling menjanjikan bagi masyarakat pesisir.
Ia menyebut, telah melakukan kunjungan lapangan ke sejumlah tambak penghasil rumput laut di wilayah PPU.
“Terkait komoditas rumput laut sangu-sangu, saat ini sudah luar biasa untuk penghasilan. Kemarin saya turun ke lapangan, dan saya lihat sendiri produksinya meningkat pesat,” ungkap Sujiati, Rabu (26/11/2025).
Menurutnya, banyak petambak kini beralih fokus dari budidaya ikan dan udang ke rumput laut karena proses panennya lebih cepat dan perawatannya lebih sederhana.
“Kalau dulu kan fokus ke ikan dan udang. Sekarang lebih fokus ke rumput laut karena panennya cepat dan perawatannya tidak rumit. Ikan tetap ada, tapi tidak sebanyak dulu,” tuturnya.
Kenaikan harga juga menjadi alasan petani semakin mengandalkan rumput laut. Sujiati menyebut, harga jual yang sebelumnya sekitar Rp 2.000 per kilogram kini melonjak signifikan.
“Nilai jualnya sudah meningkat, dulu Rp 2.000, sekarang sudah mencapai Rp 3.700 sampai Rp 3.900. Luar biasa,” jelasnya.
Sujiati memastikan, pemerintah daerah turut memberi perhatian serius terhadap pengembangan rumput laut, sejalan dengan arah pembangunan ekonomi kerakyatan yang ditekankan Bupati PPU, Mudyat Noor.
“Alhamdulillah Bupati ingin lebih meningkatkan pengembangan ekonomi kerakyatan. Saya sebagai wakil mereka tentu mengutamakan perhatian ke rumput laut ini,” ucapnya.
Lewat koordinasi dengan kelompok tani dan pemerintah daerah, Sujiati juga telah memberikan sejumlah bantuan untuk meningkatkan kualitas pascapanen.
“Saya sudah bantu mereka dengan mengadakan sarana penjemuran, pupuk, dan kebutuhan lainnya selama dua tahun. Sekarang kami pikirkan bagaimana rumput laut ini bisa berkualitas tinggi,” katanya.
Ia menilai, kualitas rumput laut masih bisa ditingkatkan, terutama dari sisi proses pengeringan yang selama ini dilakukan seadanya di pematang. Perbaikan fasilitas penjemuran disebut penting agar mutu produk semakin baik dan harga jual lebih tinggi.
Selain itu, Sujiati mendorong adanya hilirisasi agar rumput laut tidak hanya dijual dalam bentuk curah.
“Kami tidak ingin rumput laut dijual mentah begitu saja. Biar nilai jualnya meningkat, harus ada proses setengah jadi atau produk turunan. Tapi sekarang tempat produksinya belum ada,” jelasnya.
Ia berharap, ke depan dapat dibangun fasilitas olahan atau bahkan pabrik skala besar jika produksi bahan baku semakin melimpah.
Menurutnya, potensi pengembangan rumput laut sangat terbuka, baik untuk produk pangan maupun kosmetik.
“Kalau bahan bakunya sudah banyak, kenapa tidak? Bisa dibuat tepung, dipilah berdasarkan kualitas, atau bahkan diolah menjadi bahan kosmetik. Itu semua sudah ada teknisnya,” tambahnya.
Sujiati menegaskan, tujuan utama pihaknya adalah memastikan petani rumput laut memperoleh pendapatan yang semakin besar.
“Intinya, bagaimana caranya nilai jual rumput laut ini lebih tinggi dan produktivitas masyarakat semakin besar,” tegasnya. (ami/far)
Editor : Faroq Zamzami