Peringati Kudatuli, Ananda Emira Moeis Ajak Kader Warisi Semangat Perjuangan Demokrasi

Muhamad Yamin • Dipublikasikan Senin, 27 Juli 2026 | 21:35 WIB
Ananda Emira Moeis
Ananda Emira Moeis

PROKAL.CO, SAMARINDA – Sekretaris Dewan Pimpinan Daerah (DPD) PDI Perjuangan Kalimantan Timur, Ananda Emira Moeis, mengajak seluruh kader partai untuk terus mengenang sekaligus mewarisi semangat perjuangan yang lahir dari Peristiwa Kudatuli. Menurutnya, peristiwa tersebut menjadi tonggak penting lahirnya demokrasi di Indonesia.

Ajakan itu disampaikan usai menghadiri Teatrikal Peristiwa Kudatuli di Kantor DPD PDI Perjuangan Kalimantan Timur, Jalan A. Wahab Syahranie Nomor 101, Samarinda, Minggu (26/7/2026).

Ananda mengatakan, peringatan Kudatuli merupakan momentum untuk merefleksikan perjuangan para pejuang demokrasi yang telah mengorbankan banyak hal demi perubahan.

“Kita baru saja menyaksikan sebuah momentum yang tidak boleh kita lupakan, yakni Peristiwa Kudatuli. Peristiwa ini merupakan cikal bakal lahirnya demokrasi di Indonesia. Dengan banyaknya korban jiwa dan pertumpahan darah yang terjadi saat itu, kita harus terus mengingat sekaligus mewarisi api perjuangan tersebut,” ujarnya.

Ia menegaskan, pengorbanan para pejuang demokrasi harus terus dijaga dan tidak boleh dilupakan oleh generasi penerus.

“Jangan sampai perjuangan para pahlawan demokrasi yang telah memberikan dan mengorbankan segalanya tidak kita jaga. Itulah bentuk refleksi kita hari ini. Semoga kader-kader PDI Perjuangan selalu berani berada di tengah rakyat dan menyuarakan kebijakan-kebijakan yang berpihak kepada rakyat,” tegasnya.

Menanggapi pertanyaan mengenai semangat yang terus diusung PDI Perjuangan hampir tiga dekade setelah Peristiwa Kudatuli, Ananda menekankan pentingnya kolaborasi antara kekuatan rakyat dan kepemimpinan yang berpihak kepada masyarakat.

“Apabila kekuatan rakyat bersatu dengan kepemimpinan yang memiliki jiwa kerakyatan, keberanian, dan ketulusan, maka akan lahir sebuah kekuatan besar yang tidak mudah dikalahkan,” katanya.

Ia menambahkan, PDI Perjuangan harus senantiasa hadir di tengah masyarakat dan konsisten memperjuangkan kesejahteraan rakyat.

“PDI Perjuangan harus selalu ingat bahwa kita berada di tengah masyarakat. Kita harus bisa menangis dan tertawa bersama rakyat, serta terus berjuang demi kesejahteraan mereka,” lanjutnya.

Saat dimintai tanggapan mengenai kenangan pribadinya terhadap Peristiwa Kudatuli, Ananda mengungkapkan bahwa ketika peristiwa itu terjadi dirinya masih duduk di bangku kelas lima sekolah dasar sehingga belum sepenuhnya memahami situasi saat itu.

“Saat Peristiwa Kudatuli terjadi, saya masih duduk di kelas lima SD,” ujarnya. Ia kemudian menceritakan bahwa saat itu dirinya tinggal di kawasan Jakarta Pusat dan bersekolah di SDN Menteng 01 Pagi, sehingga masih sempat merasakan suasana yang berkembang di ibu kota. “Saya bersekolah di SDN Menteng 01 Pagi di Jalan Besuki. Karena tinggal di kawasan Jakarta Pusat, saya masih sempat merasakan suasana saat itu. Namun, sebagai anak kecil, saya memang belum memahami sepenuhnya apa yang sedang terjadi,” imbuhnya.

Meski masih anak-anak, Ananda mengaku masih mengingat besarnya dukungan masyarakat terhadap Megawati Soekarnoputri pada masa itu. “Saya masih ingat betapa besar kekuatan rakyat yang berdiri di belakang Ibu Megawati. Dukungan itu sangat masif,” ungkapnya.

Ia juga mengenang suasana menjelang Pemilu yang dipenuhi antusiasme masyarakat terhadap PDI Perjuangan di Jakarta. “Sebelum Pemilu 1997 berarti Pemilu 1992. Saat itu gerakan rakyat sangat kuat. Jakarta benar-benar merah. Saya masih ingat ketika pulang sekolah menuju rumah ibu saya di Jakarta Selatan melewati Taman Suropati hingga Bundaran HI, suasananya dipenuhi warna merah,” kenangnya.

Di akhir keterangannya, Ananda kembali menegaskan bahwa kolaborasi antara kekuatan rakyat dan pemimpin yang memiliki jiwa negarawan serta berpihak kepada masyarakat merupakan pelajaran penting dari Peristiwa Kudatuli.

“Kolaborasi antara kekuatan rakyat dengan pemimpin yang memiliki jiwa negarawan dan jiwa kerakyatan telah menghasilkan buah yang manis. Lahirnya demokrasi di Indonesia berawal dari Peristiwa Kudatuli. Itulah pelajaran penting yang harus terus kita ingat,” pungkasnya. (*)

Editor : Indra Zakaria
Sumber : prokal.co
PDIP Kaltim