Tugu yang diklaim sebagai simbol Pesut Mahakam di simpang Mal Lembuswana kembali menjadi sorotan. Desainnya yang dinilai terlalu abstrak menuai beragam kritik, terutama setelah foto-foto tugu tersebut viral di media sosial.
Banyak yang berpendapat bahwa bentuknya tidak merepresentasikan karakter asli Pesut Mahakam, hewan khas Sungai Mahakam yang menjadi kebanggaan masyarakat Kalimantan Timur. Sebagian netizen bahkan mempertanyakan urgensi proyek senilai Rp1,1 miliar ini, terutama mengingat masih banyak kebutuhan lain yang dianggap lebih mendesak.
Menanggapi kritik tersebut, Wali Kota Samarinda, Andi Harun, menegaskan bahwa pemerintah terbuka terhadap masukan dari masyarakat. Menurutnya, kritik adalah bagian dari proses perbaikan untuk pembangunan kota yang lebih baik.
“Itu ilustrasi pesut. Dalam karya seni, interpretasi memang tergantung sudut pandang masing-masing. Kami memahami jika ini memicu diskusi publik,” ujar Andi Harun, Jumat (3/1).
Andi Harun menjelaskan bahwa pembangunan tugu tersebut merupakan bagian dari program penataan kota, yang meliputi berbagai aspek termasuk estetika ruang publik.
Penempatan tugu di simpang Mal Lembuswana didasarkan pada kajian dari bidang Cipta Karya Dinas PUPR. Namun, ia tidak menampik bahwa kritik ini akan dijadikan bahan evaluasi.
“Kritik itu obat. Jika memang ada kekurangan, kami terima sebagai masukan. Tujuannya agar ke depan karya atau proyek serupa bisa lebih baik,” ungkapnya.
Evaluasi Penataan Kota
Andi Harun juga menegaskan pentingnya konsistensi dalam penataan kota, yang tidak hanya berfokus pada infrastruktur fisik tetapi juga pada simbol-simbol yang dapat merepresentasikan identitas daerah.
“Penataan kota mencakup segala aspek, mulai dari taman hingga jalan. Semua ini akan kami evaluasi secara bertahap,” pungkasnya.
Tugu berbentuk siluet pesut ini diharapkan menjadi simbol baru bagi kota Samarinda, meski kritik yang muncul akan menjadi catatan penting untuk proyek serupa di masa mendatang. (hun/beb)
Editor : Indra Zakaria