PROKAL.CO, SAMARINDA - Sebanyak 379 pedagang pemilik Surat Keterangan Tempat Usaha Berjualan (SKTUB) Pasar Pagi menggelar demonstrasi di Kantor Balai Kota Pemkot Samarinda Jl Kusuma Bangsa, Selasa 10 Februari 2026.
Pedagang menagih janji Pemkot, agar mereka bisa peroleh lapak di pasar pagi sesuai SKTUB. Mereka terancam dan khawatir tak dapat lapak. Dikarenakan, informasi yang diperoleh di RDP Komisi III DPRD Samarinda beberapa waktu lalu bahwa lapak tersedia tersisa 280 lapak padahal di lapangan ada 704 lapak yang kosong.
"Kami tidak ada niat apa-apa. Kami sebenarnya tidak mau kesini (demontrasi ke Pemkot), kalau ASN dan P3K dibawah-bawah ini menjelaskan hal yang tidak-tidak. Dan, kami cek sendiri dan koordinasi dengan Bu Yama, hitungan kami ada 704 lapak yang kosong di lantai 2,3,4 dan 7," kata Ade Maria Ulfah.
Menanggapi penyampaian pedagang, Walikota Andi Harun memaklumi. Menurutnya, pemerintah pantas dicurigai. Ia pun, akan transparan dalam mengelola sewa menyewa di pasar pagi dengan membuat sistem online yang baru menggantikan cara lama rawan ada oknum yang bermain.
"Saya mau sampaikan, tata kelola pasar pagi tidak akan seperti ini lagi. Katakanlah, ada (oknum) yang dicurigai. Itu tidak akan berlangsung lama. Semua penyewa, akan kita publish melalui digital informasi. Bahwa, hari ini belum stabil, yang namanya sistem baru terus diperbaiki dan dibangun," kata Andi Harun.
Sistem baru dengan mengumumkan penyewa lapak di pasar, dikatakan Andi Harun, agar warga yang hendak isi lapak kosong, tak ada lagi meminta dan bermain dengan Walikota.
"Tak ada lagi yang datang ke Walikota. Pak Wali, saya tim bapak, saya dukung bapak, saya coblos bapak Pilkada, tolong kasih saya lapak. Nggak ada yang begitu," jelasnya.
Andi Harun, menegaskan masyarakat yang hendak berdagang menyewa lapak, harus daftar melalui secara online. Dan, bila masih ada pihak khawatir, ada oknum bermain jual beli sewa lapak, masyarakat diminta bersabar, karena sistem online masih dimatangkan Pemkot.
"Nanti pada akhirnya, semua masyarakat kota Samarinda bisa menyaksikan para penyewa lapak dari lantas atas sampai bawah (pasar pagi). Saking saya inginnya transparan, Kejaksaan ikut Kepolisian ikut mengawasi," katanya.
Andi Harun kembali menegaskan dirinya tidak ingin sedikit pun mau berbohong di depan orang banyak. Dirinya ingin transparan dan benar-benar lapak untuk berdagang bukan untuk disewakan penyewa kembali dengan mengambil selisih harga dari pemerintah. (*)
Editor : Indra Zakaria